Monday, 15 August 2016

Mau ke hutan mangrove PIK? Mudah kok!


Total area disini mencapai 99 hektar! 
Sudah baca tulisan saya mengenai tempat-tempat wisata di Jakarta? (baca: Jakarta is us) Mungkin harusnya tulisan itu saya update ya mengingat beberapa tahun belakangan ini Jakarta memiliki satu tempat wisata lagi yang tengah di ‘gandrungi’ baik oleh muda-mudi maupun keluarga. Tapi saya malas edit-edit tulisan lama jadi ya buat baru saja (ahaha).

Oke, pertama kita kenalan dulu. Nama resmi wisata baru ini adalah Taman Wisata Alam Pantai Indah Kapuk. Sesuai namanya taman ini ada di daerah Glodok (ehehe) bukan ya, ada di PIK, Jakarta Utara. Beberapa orang menyebutnya dengan wisata hutan mangrove PIK. Mungkin karena memang mangrove lah hiburan utama di tempat ini. Tapi ternyata tidak hanya mangrove loh, mungkin itulah sebabnya pengelola tidak memberikan ‘embel-embel’ mangrove di plang pintu masuk karena disini kita bisa melakukan banyak hal lainnya seperti menanam mangrove, foto mangrove, mengamati hutan mangrove (ehehe mangrove-mangrove juga) oke-oke selain itu kita juga bisa mengamati burung-burung, ‘bersampan’, menginap, outbond, sampai menikmati pantai ala PIK (hehe). Banyak kan!?

penanaman bibit mangrove oleh pengunjung
Berikutnya bagaimana cara kesana? Terutama dengan kendaraan umum? Untuk yang mau naik mobil pribadi sih gampang ya, tinggal merem juga sampe (ehehe sampe mana?!). Bagi yang ingin coba naik kendaraan umum kita bisa ambil rute busway Monas-PIK yang berangkat mulai dari halte Monas dan akan melewati beberapa halte seperti Kota, Penjaringan, Pluit sampai berhenti di PIK. Bus biru kecil bertuliskan Transjakarta ini akan mengantarkan kita tanpa biaya tambahan (jadi tidak ada lagi buskota terintegrasi busway atau BKTB yang berbayar), tapi memang karena armada belum begitu banyak dengan rute yang cukup panjang maka waktu tunggu bus ini akan jauh lebih lama dari bus reguler. Sabar-sabar ya.

Kala itu saya coba menunggu bus di daerah Mangga Besar yang menuju arah Kota. Setelah menunggu hampir 30 menit bus itu akhirnya datang juga. Percayalah menunggu lebih baik daripada harus naik angkot berpindah-pindah belum ‘ngetem’ dan panasnya (ehehe PIK bo!). Tidak usah khawatir turun dimana, jika memang tujuannya hutan mangrove maka kita akan diturunkan sesaat sebelum perhentian akhir (Halte PIK), pastikan bus sudah melewati Rumah Sakit PIK dan menuju gedung megah sekolah Tsu Zhi yang seperti di China itu dan disanalah kita turun. Atau sudah lah gampangnya nanti mas busway pun akan teriak dengan lantangnya “ya yang mangrove.. mangrove!” seperti yang saya alami waktu itu, dan saya pun turun beserta sekitar 10 orang lain (banyak ya yang mau kesana).

Lalu berjalanlah mengikuti kesepuluh orang tadi (ehehe itu kalau saya), ikuti saja petunjuk yang ada atau berjalan ke arah sisi belakang gedung dimana wisata mangrove berada. Dan kalau sudah melihat plang bertuliskan nama resmi wisata itu berarti sudah sampai. Panas menjadi teman yang tidak akan lepas sepanjang jalan, mulai terasa seperti di pantai ya. Jalannya tidak jauh kok.

Setelah membayar tiket 25 ribu per orang, kami mulai memasuki kawasan. Dari yang saya baca saat ini kondisi taman wisata sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan yang saat itu saya lihat memang sebuah taman yang sudah didesain dengan baik dan rapih serta apik. Cantik sekali. Tidak heran banyak yang ingin kesini, bahkan banyak yang melakukan foto pre wedding-nya disini. Kawasan ini memberikan kesempatan berwisata yang tidak hanya menyenangkan tapi juga bisa kesempatan belajar bahkan membantu melestarikan lingkungan dengan banyaknya program penanaman pohon bakau yang digalang pengelola. Tidak perlu takut kalau lapar, haus atau lelah karena banyak spot untuk istirahat, ada tempat makan bahkan penginapan dan fasilitas lainnya seperti yang saya sampaikan di awal. Lengkap kan.




Seru kan ya, pemandangan dan juga fasilitasnya. Oiya disini juga menyewakan ruang pertemuan (meeting). Tertarik?
Untuk urusan pantai memang belum sepenuhnya digarap, atau memang seperti itu pantai yang ditawarkan? Wah kok begitu saja ya. Jadi kalau ingin kepantai, cobalah jalan lebih ke ujung kawasan dimana plang penunjuk pantai berada. Kita akan melewati mulai dari jalanan yang lebar, sampai akhirnya bertemu dengan jalanan tanah sampai jalanan kayu dan bambu cantik menembus tengah-tengah bakau. Dan apakah langsung akan keluar di pantai? Ternyata tidak saudara-saudara. Diujung nya memang ada semacam gazebo dari kayu dengan ukuran sedang dan bisa untuk bersantai sambil memandangi laut dikejauhan. Yak, mungkin kegiatan ini lebih tepat dinamakan memandangi laut (hehe). Tapi tak apa, mari berharap suatu saat nanti memang akan ada akses menuju pantai dengan pasir-pasir putih cantik dan pohon kelapa melambai diiringi alunan gamelan khas Bali (eeh). Anyway, let us hope for the best untuk Taman Mangrove ini. Enjoy the trip!

Sunday, 14 February 2016

Pulau Pangkor: Another beautiful sunset

Mungkin daerah ini tidak begitu populer apalagi bagi orang-orang Indonesia, cerita yang terdengar dan dibawa pulang oleh mereka dari Malaysia biasanya seputar Bukit Bintang, KLCC, Batu Cave, Langkawi, Penang, atau agak mendekat ke Singapura, Johor Baru (ini kebanyakan saya dah pergi ni hihihi sombong!!)

Jeti penyebrangan menuju Pulau Pangkor @Lumut
Tapi siapa yang pernah ke Pangkor? Ketika saya tanya ke teman-teman hampir tidak ada yang pernah, mungkin malah tak tahu itu dimana atau komentar lainnya, ngapain kesana? Huurmm, memang kalau dipikir buat apa ya kesana kan uangnya bisa dipakai untuk pergi ke tempat lain, Thailand misalkan (belum pernah soalnya huhuhu rasain!) Eits, tapi jangan salah, memang tidak perlu waktu khusus terbang ke Malaysia hanya untuk berlibur ke Pangkor. Pulau ini bisa saja kok dimasukkan dalam daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi bersamaan dengan destinasi lainnya di Kuala Lumpur. Jaraknya pun tidak terlalu jauh walau sebenarnya masih lebih dekat ke Genting sih (kalau ini saya udah pergi juga ahaha sombong lagi!). Nah selain jarak yang dekat, Pulau Pangkor juga memiliki pemandangan yang indah, suer! Jadi kalau memang sedang wisata beberapa malam di KL, coba saja rasakan satu malam di Pangkor, cukup kok. Sama seperti yang saya lakukan.

Rencana kepergian kami ke Pangkor memang bisa dibilang mendadak, hanya karena hasutan hasil dari sebuah cerita kawan yang pernah kesana. Dan tepat ketika saya tengah berada di KL maka saya pikir kenapa tidak mencobanya. Jadilah pagi itu kami sudah berada di sebuah terminal besar terpadu di daerah Pudu dan berhasil membeli tiket untuk menuju daerah Lumut, tempat penyebrangan menuju Pulau Pangkor. Terasa semangat membayangkan akhirnya saya naik kapal lagi (hehe). Tiketnya sendiri berkisar RM 27, tak begitu mahal mengigat bus yang digunakan pun bagus J

Menunggu... tapi lumayan bisa selonjoran disini haha
Ternyata bus Transnasional dari Pudu ini tidak membawa kami langsung ke Lumut, kami harus berganti bus di pool mereka. Entah di daerah mana. Tapi rasanya masih di pinggiran KL. Menunggu bus pengganti selama satu jam itu cukup membosankan, bahkan terkadang timbul rasa was-was akan sampai jam berapa disana, saya dengar perjalanan kesana hampir 4 jam. Tapi perasaan lega menyergap kala saya melihat jam menunjukan pukul 11 pagi. Mungkin tak akan terlalu gelap ketika kami tiba.

Lumut. Terlihat ramai, mungkin karena kami tiba di terminal, banyak penjual makanan sampai oleh-oleh. Tampak seperti pasar kecil dan diujung sisi yang lain itulah dermaga atau jetty tempat kami akan menyebrang ke Pulau Pangkor. Banyak warga yang berkumpul disini, senang rasanya melihat keramaian. Melakukan perjalanan ke daerah yang lebih jauh di Semenanjung Malaysia ini memang memberikan nuansa berbeda. Sepanjang perjalanan bus, daerah yang kami lewati cukup sepi rasanya, tak seperti KL. Atau mungkin karena saya sudah terbiasa tinggal di Pulau Jawa yang penduduknya padat sangat, keramaian seakan menjadi teman yang tak pernah kenal tapi menenangkan. Untung saya memang sedang ingin wisata dan bukan keramaian lah yang saya cari (hehe).

Setelah makan siang di kedai terdekat kami buru-buru menuju jetty membeli tiket lalu melompat senang menuju kapal. Dan wow kapal nya bagus, ruangan AC dengan tempat duduk empuk, persis seperti yang saya gunakan dari Marina menuju kepulauan seribu tapi yang ini murah saja – sejauh yang saya ingat haha – dan pastinya aman. Untuk menuju Pulau Pangkor kita akan dikenakan biaya kapal, dan jika keluar dari Pangkor tidak perlu membayar lagi. Persis seperti naik fery di Pulau Penang. Mungkin memang begitu kebijakannya di seantero negeri ya. Biaya keluar pulau seperti sudah dibayarkan diawal. Bijak dan menarik.
Enak kan kapalnya, pendingin ruangan dan kursi yang empuk sudah cukup untuk puas foto-foto #gakkeringetan #jetty

Kami berlabuh dengan selamat di jetty P.Pangkor dan beruntung ternyata masih dibayangi matahari (yeay!), perjalanan di atas kapal tidak terlalu lama ternyata. Segera kami cari angkutan menuju sisi barat pulau dimana penginapan kami berada. Kawasan Teluk Nipah. Angkutan yang ada yaitu kereta/mobil minivan yang bisa muat sampai belasan orang saya rasa. Dan mereka banyak tersedia tepat di pintu keluar pelabuhan. Dan kami pun naik salah satu diantaranya setelah sebelumnya perang harga (tetep gak dimana juga). 

Tiba di pulau langsung ke pantai hahaha beautiful  +Pangkor 
Teluk Nipah ini kawasan yang cantik, dengan pantai yang landai, pasir yang halus dan putih, ombak yang tidak terlalu besar. Indah lah! Dan saya pikir-pikir lagi, mencoba mengingat perjalanan selama naik minivan ke Teluk Nipah saya sadar Pulau Pangkor ini memang cantik semua. Bukit dengan pepohonan hijau yang asri. Banyak pantai yang tidak terlalu sepi tapi juga tak ramai. Batu-batu ala Bangka Belitung pun ada. Dan yang dahsyat tentu sunsetnya. Apalagi di Teluk Nipah ini, woow amazing gitu. Saya betah berlama-lama disini. Yang buat tak betah hanya monyet! Huft! Kenapa sih mereka itu selalu usil. Sandal saya di pinggiran pantai pun hampir diboyongnya. Tapi tenang saja, kedai-kedai di pinggir pantai siap mengobati kekesalan akan monyet ini (hehe) karena selain pemandangan pantai menakjubkan dari kedai. Mereka semua punya jagoan penangkal monyet, yaitu boneka singa/macan. Setiap kedai punya lho. Entah kenapa monyet tersebut tidak akan berani mendekat kalau ada boneka singa ini (hehehe). Raja hutan mau dilawan!

Saya selalu ingat pemandangan sunset Pulau Pangkor sampai sekarang, sama seperti masih ingatnya saya akan Ubud. Keduanya memberikan gambar-gambar cantik di otak saya. Indah dan menenangkan. Itu memang yang saya cari.


Sunset Indah di Pulau +Pangkor Siapa yang gak mau duduk leyeh-leyeh memandangi matahari itu kan?

Dan bagi saya, pantai disini lebih sepi dan lebih indah dari Langkawi atau Penang. Pasti akan lebih indah lagi pemandangan di pulau-pulau kecil di sekitar Pangkor ini apalagi yang saya baca disana banyak spot diving dan snorkeling. Contohnya di Pulau Giam dan Pangkor Laut. Kabarnya disana terdapat spot diving yang indah sampai resort mewah impian semua orang (hehe begitu yang tertera di iklannya). Sayang saya belum sempat kesana (atau belum mampu haha). Jadi kemana saja selama dua hari satu malam ini di Pangkor?


Kota Belanda! Panas? iyah hehe tapi ada tukang jajan kok
Selain tentunya puas-puaskan diri leyeh-leyeh di pantai baik pagi, siang atau sore saya juga mengunjungi  beberapa tempat wisata yang ada di Pulau Pangkor. Tapi sebelumnya saya beri tahu ya, seiring dengan masuknya Belanda ke kawasan Perak pada 1680 maka Pulau Pangkor juga termasuk jajahannya. Jadi  tempat wisata yang saya kunjungi ini memang banyak berhubungan dengan Belanda. Yang pertama adalah Kota Belanda. Sebuah kota batu binaan Belanda yang sekarang tinggal tersisa bentengnya dan sedikit kawasan yang dibuat seperti taman. Jadi jangan membayangkan kota yang besar begitu ya. Disini bagus untuk foto-foto (hehe) apalagi warna bentengnya yang bagus untuk latar. Selanjutnya beberapa meter dari Kota Belanda ada sebuah batu besar yang diberi nama Batu Bersurat. Mungkin seperti prasasti begitu ya, tapi yang ini dibuat oleh Belanda. Disana ada gambar harimau dan juga manusia yang dipercaya adalah budak yang dibawa harimau -atau seperti itu-.
Ini dia benteng di Kota Belanda. Foto disini ya... hasilnya memukau hehe batu-batunya bagus :) puas-puaskan selfie
Yupp.. as seen above. Batunya yang mana? tuh belakang. Gelap? dateng sendiri makanya hihihi

Setelah itu motor (sewaan) kami pacu menuju sisi utara setelah tadi ada di kawasan selatan pulau. Kami hanya ingin melihat-lihat seperti apa wajah Pulau Pangkor secara dekat. Kami menuju pekan Pangkor atau seperti pusat kota yang biasanya ada pasar. Dan memang ramai disini, kegiatan masyarakat banyak berpusat disini. Jetty P.Pangkor pun ada disini lalu ada juga sekolah sampai pusat bisnis. Berbeda dengan kawasan wisata di Teluk Nipah yang memang didominasi cottage dan penginapan serta turis-turis. Di pekan, saya asik lihat-lihat sana sini tanpa tahu harus kemana sampai akhirnya capek dan kami harus berputar karena ragu dengan arah yang kami ambil plus tambahan adegan kunci kamar kami jatuh di tengah perjalanan sehingga kami harus ganti rugi (huhuhu 10 ringgit melayang). Tapi setelah itu, kami membalas kesedihan dengan kembali ke pantai (yeayy!!) mandi-manda kalau istilah bahasa melayu.
Yeay!! ke pantai lagi.. Pemandangan dari kafe raja hutan ini bagus loh. Mata sama perut kenyang! hahaha

Nah, bisa kan menikmati Pangkor hanya dua hari satu malam seperti saya ini. Tapi ya kalau ingin lebih menikmati sampai bisa hopping island berarti memang harus tinggal lebih lama. Saya pun rasanya mau kalau kesana lagi (hehe). Siang menjelang sore itu saya kembali menuju Jetty untuk menuju Lumut. Bapak di penginapan baik juga mau mengantarkan kami pakai mobilnya dengan harga yang tidak lebih mahal dari taksi minivan itu. Dan lagi kami diantarkannya ke Jetty Sungai Pinang Kecil yang lebih dekat dengan Teluk Nipah.

Tiket bus segera kami pesan di terminal Lumut dan ternyata waktu kami masih lama sampai bus datang. Kami putuskan untuk jalan-jalan menuju arah kota. Niatnya cari makan terdekat. Kabarnya ada sebuah pusat belanja yang bernama Pasaraya Billion, kemarin memang saya sempat lihat ketika menuju terminal. Dan akirnya kami berhasil kesana dengan Taksi yang rasanya mahal harganya (huhu selalu rindu angkot kalau di Malaysia ini), karena memang tak ada angkutan umum. Tapi tak heran dengan jalanan yang sepi bahkan sepi dari pejalan kaki, siapa yang mau naik kalau ada angkot? (hehe)

Kami makan di sebuah restoran cepat saji lokal, rasanya enak. Namanya Fatty Cafe. Pemiliknya mas-mas gendut (hehe) tak heran, pasti dia tahu bagaimana harus membuat makanan yang lezat. Setelah jalan-jalan di dalam mal kecil itu kami lanjutkan menuju terminal (sekali lagi cari taksinya susah huhu) dan akhirnya tak terlambat untuk menuju KL dengan bus Plusliner yang keren itu. Ah, pengalaman yang menarik memang selama saya di Pangkor. Suasanaya, alamnya, juga sunsetnya. Memang pantai dan laut itu selalu bisa membuat saya senang.
Miss you sunset of Pangkor huhu (padahal kan mataharinya sama aja ya hihihi)


Saturday, 26 December 2015

'Mendekati' panda

Pintu masuk Zoo Negara, Malaysia
Bagi saya yang tinggal di daerah kebanyakan (baca: Jakarta dsk) kalau ingin menikmati pemandangan alam yang asri dan asli biasanya selalu perlu usaha tersendiri, yang biasanya juga tidak mudah. Contohnya mau merasakan sensasi di atas awan cantik kita kudu nanjakin gunung di daerah Jawa sana mendaki sampai puncak atau minimal tinggi lah yang pastinya capek, lalu kalau mau ke pantai eksotis, misalkan di Raja Ampat atau bahkan Bali lah, ongkosnya ya pasti mahal. Jadi apa kabar kalau saya mau lihat panda yang unik, lucu dan langka itu! Saya kudu ke Cina?! Fiuh, tak hanya biaya yang pastinya besar, tenaga dan waktu pun mesti disiapkan lebih banyak. Sampai akhirnya saya tahu bahwa di Kuala Lumpur juga sudah ada binatang penyuka bambu itu. Yupp Panda is in KL bro! Setelah pikir-pikir dan memang jauh lebih murah dan tidak capek akhirnya saya sempatkan ke Negara Zoo ketika berkunjung ke KL.

Berjarak sekitar 5 km dari pusat kota Kuala Lumpur, saya memacu motor disiang itu dengan harapan tinggi bisa berjumpa The Giant Panda. Bagi yang tidak biasa dengan jalanan di KL mungkin akan kesulitan mencari bonbin ini. Plang besar Zoo Negara segera terlihat ketika kami mulai mendekati kawasan. Setelah meletakan kendaraan kami bergerak menuju loket, terlihat beberapa wisatawan lokal yang juga berkunjung. Memang di hari kerja ini kebun binatang tak ramai dikunjungi (kerja atuh yah). Di loket, siap-siap untuk warga asing akan dikenakan biaya yang lebih besar (hehe). Seperti halnya di Indonesia sebagian besar wisata di Malaysia pun seperti itu. Makanya pintar-pintar saja cari teman pribumi, kalau memang tak perlu tunjukkan ID card mungkin kita bisa dapat harga lokal (hehe), tapi sebetulnya tak apalah bayar lebih mahal sedikit kan jarang-jarang. Tiket untuk melihat Panda dijual terpisah, walau memang ada paket, tiketnya cukup mahal memang dan hanya bisa digunakan sekali masuk. Jadi kita ga bisa tuh mondar-mandir bolak-balik ke Panda. Harga paket Zoo & Panda sekitar RM 54 bagi penduduk dan RM 85 bagi warga asing (mahal yaah?!?!) tapi apakah sepadan dengan harganya? Lets see ya.

Mau kemana dulu? siapkan tenaga dan cemilannya hehe
Zoo Negara memiliki luas sekitar 44 hektar, bonbin yang didirikan tahun 1963 ini memiliki lebih dari 470 spesies baik mamalia, reptil dll. Seperti halnya kalau saya pergi ke kebun binatang lainnya, favorit saya pasti adalah hewan-hewan buas dan langka seperti harimau, macan, alpacca sampai si panda ini. Nah karena tidak sabar sambil menyusuri hewan lain saya segera menuju sisi belakang bonbin. Persis setelah saya melewati kandang si kera dan gorilla, kami bertemu dengan sebuah gedung atau kubah besar yang didepannya dijaga sekuriti yang siap memeriksa semua barang bawaan kita. Ini lah kandang si Panda. Sekuriti ini akan meminta kita untuk menitipkan tas, makanan, minuman dan yang berbau tajam agar tidak mengganggu panda di dalam. Wah, ketat dan steril sekali ya, saya jadi makin penasaran ingin cepat-cepat lihat pandanya.

Hawa sangat dingin dari penyejuk udara langsung terasa. Mungkin disesuaikan dengan iklim di habitat asalnya di pegunungan Cina ya. Dan saya langsung menemukan dua ekor panda yang lucu dan juga cantik. Akhirnya terwujud keinginan saya, im so happy! (hahaha). Siapapun yang melihat kedua panda jantan dan betina ini pasti suka dan betah karena mereka benar-benar lucu. Keduanya didatangkan langsung dari Cina sebagai simbol diplomatis dan perdamaian antara Cina dan Malaysia yang sudah berlangsung selama 40 tahun. Kedua panda ini pun ditemani langsung oleh penjaga mereka dari Cina.


"hurmm... jalan-jalan dulu ah pemanasan... tu wa..tu wa.."
Mau tahu nama keduanya? Si jantan bernama Xing-Xing (Fu Wa) dan betinanya bernama Liang-Liang (Feng Yi). Lucu sekali melihat tingkah mereka, ketika saya tiba si jantan (atau si betina? Sulit bedakan hehe) lagi asyik tidur-tiduran dengan posisi freeze yang sulit (keren dan lucu) dan panda lainnya asyik jalan-jalan. Dari info yang saya dapat disana, panda tidak berhibernasi karena tidak memiliki cukup lemak akibat dari diet bambunya (udeh diet bambu aja masih segitu gede haha).
Kita akan melihat kedua panda ini dari atas, jadi ketika masuk ke dome tersebut jalanannya akan sedikit menanjak melewati setapak yang sudah dbuat dan panda akan ada dibawah kita. Arealnya cukup luas jadi cukup nyaman. Yang pasti kita dilarang BERISIK!! Penjaga sudah siap untuk memperingatkan siapapun yang bersuara terlalu kuat, bukan peringatan dengan mulut (bahkan penjaga pun tak boleh bersuara bising) tapi dengan tulisan-tulisan yang sudah mereka pegang. Sekali kamu berisik, tulisan bertongkat panjang itu akan segera diarahkan petugas ke muka kita! SSSTT!! (makanya diem aje dan foto-foto haha).

"okeh... sepertinya mulai lelah"
"Mana..mana.. tempat yang nyaman itu!"
Ingat, hanya sekali masuk jadi saya benar-benar sampai puas disana. Duh, sekarang jadi kangen lah sama si Panda (hehe). Saya percaya Malaysia tidak mengeluarkan biaya yang sedikit untuk membawa panda jauh-jauh dari asalnya. Makanya, kalau tak mau lama menunggu panda yang kabarnya akan ada di Indonesia , lebih baik segera meluncur ke KL karena panda ini hanya akan ada 10 tahun di Malaysia sebelum dikembalikan lagi ke Cina, dan ada kabar gembira kalau anak mereka sekarang sudah lahir (waaah pastii lucuuu!!) dan dari yang saya baca bila memang ada anak panda yang lahir hanya boleh ada di Malaysia sekitar dua tahun saja mungkin supaya dapat perawatan lebih baik jika di negara asalnya. Makanya buruuaann!!!

"aahh ini dia... sejuuk!"
"now its time to take a nap"


Saturday, 31 October 2015

‘Mumpung’ story (eps.4) : Pulau Putri – Kep. Seribu

Yeaayy. Cerita terbaru dari serial ‘mumpung’ story akhirnya datang lagi. Sebelumnya sudah ada tiga seri yang semuanya menerapkan prinsip yang sama, aji mumpung! Mumpung ada tugas kantor akhirnya jalan-jalan (hahaha). Destinasi yang kami tuju kali ini adalah Pulau Putri, yang ada di Kepulaun Seribu, DKI Jakarta. Nah bedanya, kali ini kantor saya sedang mengadakan acara kebersamaan (staff gathering) yang berarti salah satu tujuannya memang refreshing. Tapi, karena saya termasuk panitia akhirnya ya kerja juga. Tapi tak apa, pasti selalu ada sesi santai (maksa huhu).

Keren kaan speedboat kita hehe Welcome to Putri island!
Sebagian warga Jakarta pasti pernah ya wisata ke Kep.Seribu, betul kan? yang belum berarti mesti coba karena disana ada banyak pilihan pulau. Secara jarak, Kep.Seribu relatif dekat dengan Jakarta dibanding pulau favorit lain seperti Karimun Jawa atau Bali, dan nyatanya pemandangan di Kep.Seribu pun tak kalah indah. Nah, Pulau Putri ini adalah salah satu yang terjauh dari gugusan pulau di Kep. Seribu, butuh waktu 1,5 jam naik speedboat keren dari dermaga Marina Ancol. Bayangkan kalau harus naik perahu angkutan yang banyak dipakai warga pulau, bisa 2-3 kali lipat waktu tempuhnya. Dulu saya pernah ke Pulau Tidung yang cukup dekat, hampir tiga jam saya diatas perahu nelayan, tapi ternyata hanya satu jam kalau naik speedboat. Jadi pintar-pintar pilih angkutan ya terutama buat yang suka mabuk laut, tapi lihat harganya juga. Saya mah namanya juga aji mumpung (hihihi).

Pulau Putri teryata dikhususkan untuk penginapan/resort dan rekreasi. Jadi disini tidak ada pemukiman warga atau pusat pemerintahan jadi tidak sembarang pengunjung bisa datang hanya yang akan menginap saja. Yang saya tahu, hanya Pulau Putri dan Pulau Sepa yang memiliki resort. Tapi bukan berati di pulau lain tidak ada penginapan. Pulau Tidung contohnya, kita bisa menginap di rumah warga/guesthouse yang banyak tersedia disana. Oiya, dari 355 pulau yang ada di Kep.Seribu hanya 200-an yang sudah memiliki nama. Dan tidak semua berpenghuni. Lain di nama lain di lapangan ya, bukan seribu ternyata jumlahnya (hehe). Pulau-pulau favorit lain diantaranya adalah P.Pramuka, P.Bidadari, P.Pari, P.Macan, P.Harapan dan lainnya.

Sambutan dan salam perpisahannya selalu pakai lagu
Patung empat putri duyung akan menyambut kita ketika tiba di dermaga P.Putri diiringi welcome dance tarian Bali dan lantunan lagu-lagu dari grup musik. Ini bagian dari jamuan selamat datang bagi tamu P.Putri. Sekilas saat menginjak kaki di dermaga saya mengamati pulau ini ternyata tidak memiliki pantai yang luas, tapi semua kamarnya menghadap ke laut plus disini kita seperti di pulau pribadi karena hanya ada tamu pengunjung saja dan tidak ada yang lebih menyenangkan lagi dari pulau pribadi kan (hehe). Oia, pulaunya memang tidak terlalu besar, kamarnya sekitar 70-an dan tidak sampai setengah jam kita sudah bisa keliling pulau yang banyak ornamen Bali ini.
Tidak perlulah saya ceritakan bagaimana acara gathering­ kantor. Yang perlu dicatat memang kami semua merasa senang, lebih kenal dan semakin kompak bersama, tapi yang lebih penting ketika team building, tim sayalah juara pertamanya (hohoho).



Pemandangan dari kamar, kolam renang buat yang gak mau ke laut dan juga pantai 'pendek' di Pulau Putri :)

Jadi apa saja yang bisa kita lakukan di Pulau Putri? 
Layaknya sebuah resort pantai, fasilitas olahraga air disini bisa dikatakan cukup lengkap. Di hari kedua ketika memasuki acara bebas sebagian kawan langsung memulai kegiatan dengan snorkeling, yang lain mencoba banana boat, ada juga yang kayaking, tapi belum ada yang berani diving ternyata. Semua alat snorkeling, sepeda air sampai alat scuba diving tersedia disini dan bisa disewa dengan harga yang wajar saya fikir. Untuk bisa kayaking selama satu jam kita tak sampai mengeluarkan uang 50 ribu rupiah, murah kan! ditambah perairan yang sangat jernih dan arus yang tenang hampir tak berombak rasanya semua harga sewa disini cukup layak. Bahkan staff maskot kantor kami pun (Pak Santo hehe) sampai rela malas-malasan terapung diperairan dangkal leyeh-leyeh diatas baju pelampung ‘saking´ menikmati pemandangan yang mungkin tak pernah dia jumpai di manapun (#piss pak) tak pusing pasal muka hitam atau bahkan meriang karena masuk angin (hehe).
Kayaking di perarian yang dangkal, jernih dan indah bisa lihat ikan-ikan kecil dan karang dibawahnya
Sudah merasa semua olahraga air itu menarik? Tunggu sampai kita mengikuti trip jalan-jalan keliling pulaunya untuk melihat karang dan juga sunset indah (Duh kok kayak iklan ya, wah hrs dapet voucher inap grtais ni dari P.Putri hihihi). Ya, Pulau Putri memiliki rangkaian trip untuk melihat terumbu karang dengan glass bottom boat atau kapal yang tepiannya berdinding kaca. Kacanya bukan didasar atau di kaki kita ya tapi disamping tempat duduk  jadi sangat leluasa melihat dasar laut dan terumbu karang dari dekat. Tak perlu lah menyelam kedasar bagi yang takut atau yang malas (hehe). Atau pilihan lainnya kita bisa menikmati terowongan bawah laut (deep tunnel) yang ada di kiri dermaga, jadi kalau takut naik kapal tapi ingin tetap melihat ikan dan karang silahkan jalan-jalan di terowongan ini.
Banana Boat!! Saya masih saja belum pernah naik ini hahaha
Sorenya kami pergi dengan salah satu kapal untuk menikmati sunset atau biasanya disebut sunset cruise. Nah, untuk menikmati sunset terbaik kami perlu bergerak kelautan terbuka, sehingga matahari tenggelam tidak akan terhalang pulau-pulau lain.  Jadi kapal pun bergerak sekitar 45 menit menuju daerah terbuka tersebut. Mujur pulau ini memang ada di gugusan terluar Kep.Seribu jadi tak begitu jauh untuk mencapai spot daerah terbuka. Sepanjang perjalanan kami pun diceritakan pulau-pulau yang kami lewati, ada Pulau Bira, Pulau Macan dan lainnya. Juga cerita unik yang menyertainya, ada pulau yang akhirnya ditinggalkan penduduk, pulau yang penginapannya tak berpintu dan langsung menghadap laut (saya lihat sendiri di pulau kecil itu, mantep!) sampai pulau yang dimiliki suatu badan bahkan orang pribadi. Lucu rasanya mendengarkan pulau ini milik perusahaan ini, pengusaha itu, milik orang kaya ini. Hebat ya bisa sampai memiliki pulau. Konsepnya sebetulnya sama saja seperti memiliki sebidang tanah di daratan hanya saja karena di pulau kecil jadinya kayak punya satu pulau, tak apalah kalau masih orang Indonesia yang punya, kalau sudah orang asing seperti yang ada di pulau-pulau eksotis terluar Indonesia saya kok gak setuju, tak rela!
Sunset yang kami dapat belum maksimal sih tapi lumayan bisa keliling-keliling pulau
Nah, hati-hati ya yang suka snorkeling!?! 
Lalu apakah setiap pengunjung P.Putri akan mendapatkan semua rangkaian trip itu? Yak, bisa! Bahkan bisa lebih banyak kegiatan tergantung biaya (hehe). Saya sendiri sudah coba semua, yaaa secara teknis kegiatan air nya tidak semua sih, saya hanya snorkeling itu pun di akhir waktu karena saya awalnya tak rela harus menginjak karang jadi ingin perairan yang lebih dalam. Selain sakit ke kaki (beberapa kawan sampai berdarah hebat karena karang), terumbu karang adalah makhluk hidup yang bisa mati kalau ada tsunami, bom, bahkan injakan kaki yang serabutan begitu. Dan untuk hidup kembali butuh waktu tahunan jadi seharusnya dijaga baik-baik. Tapi ternyata bagus juga di pulau ini ada area snorkeling yang cukup dalam sehingga akhirnya saya ‘nyemplung’ jadi tidak perlu merusak karang walau bagi yang takut ke laut pasti akan menjadikan karang sebagai pijakan (oh nooo hehe). Tak heran banyak karang yang warnanya tak lagi cerah tapi pucat, sebagian karena tertutup karang yang mati yang berwarna putih. Semoga kesekian kalinya mereka snorkeling akhirnya bisa mengerti.

Setiap perjalanan wisata pasti ada masa untuk bersenang-senang, masa untuk kembali mengingat hal baik yang sudah kita lakukan dan bahkan belajar hal baik yang baru. Saya yang wisata sambil kerja saja bisa (mumpung) apalagi traveler yang niat jalan-jalan. Sudah kah melakukan hal baik disana? Minimal tidak merusak atau  turut menjaga apapun hal baik itu disana?


Lets be a good traveler

Thursday, 24 September 2015

Tiga Jawara Kuliner Malang

Tak habis rasanya kalau cerita soal Malang, saya saja selalu mau kesana lagi kalau ada trip gratis (hehe). Tempat wisatanya, alam sekitarnya, sampai makanan murah meriahnya semuanya bisa membuat siapa saja betah di Malang atau setidaknya pasti datang lagi setelah kunjungan pertamanya. Sebut saja Gn. Bromo, Gn. Semeru, Pulau Sempu! Hadeuuh bagus-bagus itu! Tapi ya sudahlah ya saya pun belum sempat kesemua itu. So, Malang wait again for me ya!!

Saya ini bukan penggemar berat makan (prinsipnya makan untuk hidup bukan hidup untuk makan) makanya jarang menulis pasal kuliner atau makanan khas tapi entah kenapa perut ini terasa terus membesar bak penggila makanan (hahaha). Jadi supaya makin banyak yang “membesar” kaya saya ini, saya akan bagikan pengalaman jajan di Malang yang uenak tenan!! Wajib coba lho.

Si bakso legendaris

Buat yang tinggal di Malang pasti tahu warung bakso yang namanya sudah legendaris, ada di pinggir rel kereta, baksonya orang nomor satu di Indonesia, Yapp Bakso President!! Saya sengaja datang karena ingin tahu rasa dan suasana yang ada disini. Konon katanya memang lezat dan khas karena lokasi yang dari dulu belum pernah pindah, disamping rel kereta api, jadi bisa sambil menikmati pemandangan kereta lewat (duh apa gak malah ngeri ya?!). Oiya, nama President sendiri berasal dari nama sebuah bioskop yang dulunya ada di dekat warung ini. Namanya bakso Malang pasti berbeda dengan bakso dari daerah lain yang terkenal contohnya Solo maupun Bandung. Bakso Malang memiliki banyak ragam tidak hanya bakso bulat seperti bola pingpong... (ehehe #nyanyi) tapi juga ada siomay goreng, tim goreng, siomay basah dan tahu isi. Dan di Bakso President ini mereka semua nampak gede-gede euy, jadi waktu pesan salah satu paketnya benar-benar kenyang poll!!

Panas-panas ngebakso itu memang sueger tenan, minumnya es teh (yummy!!)
Harganya memang sedikit diatas harga rata-rata tapi rasanya enak lho. Sayang, saya tunggu si kereta tak kunjung lewat jadi belum lengkap pengalaman makan baksonya (hehe). Mencari alamat Bakso President cukup sulit bagi yang tidak biasa ke Malang, begitu pun dengan saya yang harus tanya sana-sini karena lokasinya yang tertutup bangunan dan dilalui jalan yang tidak terlalu besar. Tapi kalau sudah sampai dilokasi ternyata parkirannya nyaman dan aman kok, motor dan mobil bisa parkir.

Es Krim ala Belanda

Ini yang saya makan hehe (sedap!)
Malam setelah saya makan di Bakso President saya kembali menuju pusat kota tepatnya di Jl. Basuki Rahmat. Di dekat alun-alun kota berseberangan dengan Gereja Katedral berdiri sebuah restoran dengan gaya kolonial yang begitu apik. Toko Oen namanya, dari namanya saja kita tahu bahwa pemiliknya pasti keturunan Arab (hohoho) keturunan Tionghoa yaa. Adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Oma Oen yang berhasil memperkenalkan es krim lezat buatannya sendiri. Saya pun tak ketinggalan mencicipi es krim tersebut. Rasanya memang tidak neko-neko, pas dilidah, tidak terlalu manis dan memang lezat. Ada banyak pilihan rasa disana. Kentalnya suasana kolonial terasa mulai dari bangunan, hiasan dan pajangan, kursi sampai perabot semuanya dipertahankan sejak Toko Oen dibuka tahun 1930. Lagi-lagi, harganya memang berbeda dengan es krim lainnya tapi suasana Toko Oen dan lezat hidangannya tentu tak bisa digantikan apapun (#aseekh). Selain es krim disini juga ada makanan baik rasa Indonesia seperti nasi goreng, gado-gado sampai European food seperti beef steak. Tapi tenang saja bayarnya tetap pakai rupiah kok (hehe)

Terlihat kan suasananya yang berbeda, seperti kembali ke masa kolonial dulu
Makan di museum

Sambutan awal restoran
Nama restoran ini adalah Inggil Resto Museum yang berada di Jl. Gajah Mada tak jauh dari Balai Kota Malang. Saya pun jalan kaki setelah meletakkan kendaraan di banyak parkiran di sekitar Tugu Malang. Dari namanya saja harusnya sudah bisa tahu ya bahwa restoran ini mengusung suasana jawa (istilah Inggil merupakan tatanan tertinggi dalam bahasa jawa). Lalu kenapa museum? Karena layaknya sebuah museum disini juga banyak dipajang benda artistik yang menarik seperti sepeda, piringan, perabot yang mengesankan masa lalu. Ya, jika di Toko Oen kita serasa dibawa kerumah orang Belanda di tahun 30-an, di Inggil Resto Museum suasana jawa tempo doeloe-lah yang lebih kental.

Malam itu saya memesan makanan favorit, ayam goreng dengan sambal lalapan ala kampung (haha doyan banget) dan juga hidangan lainnya. Harga makanannya tidak terlalu mahal, kan suasananya pun sangat berbeda. Ditambah ada sinden dan grup musik yang menemani dengan tembang jawanya, sesekali juga menyanyikan lagu masa kini. Yaah itung-itung bayar buat sewa tempat sama ditemani live gamelan gitu (hehe).


Suasana Jawanya kental sekali, yang lesehan, yang di kursi semua ada plus sinden pengiring di ujung restoran. Lengkap!!!
Jadi, dari ketiga tempat makanan itu sepertinya persamaannya adalah bahwa harganya diatas rata-rata semua ya (hahaha), yaa kapan lagi mumpung ke Malang mungkin tidak ada salahnya coba sesekali. Belum lagi disetiap tempat tersebut banyak hal/cerita uniknya. Mungkin itu yang tidak bisa kita dapatkan ditempat makan yang lain (baca: biasa dan murah). Nah kalau memang mau yang murah saya pernah juga makan di sekitaran UM (Univ. Muhammadiyah) Malang, wah kalau disini banyak yang enak dan juga memang murah. So, please choose :)


Sunday, 9 August 2015

Jatim Park 2 Vs Trans Studio Bandung (coaster)

Sepertinya sudah lama sekali ya sejak terakhir saya membandingkan dua tempat wisata, atau bahkan sejak terakhir saya menulis blog (hehehe maklum cibuk). Lucunya lagi tempat wisata yang akan saya ulas ini juga sudah saya kunjungi berbulan-bulan lalu. Tapi tak apa, semangat menulis terus saya pupuk sampai akhirnya tiba juga waktunya saya mengulas Bandung dan Kota Batu, eits tapi bukan tentang daerahnya ya melainkan hanya theme park yang ada disana. Ada yang tahu?

Sambutan meriah Jatim Park 2
Sebagai pecinta taman bermain atau theme park saya selalu punya keinginan besar untuk bisa merasakan semua wahana yang ada di taman bermain di seluruh dunia (haha berlebihan!) okelah di Indonesia, ini jadi semacam bucket list saya. Nah, seperti sebelumnya ketika membandingkan Rita Park Tegal dan Jungleland Sentul-Bogor kali ini saya juga akan membandingkan dua pengalaman saya ketika bermain di Jatim Park 2 (JP2) kota Batu yang tak jauh dari Malang serta Trans Studio Bandung (TSB).


Museum Satwa disamping si patung gajah diatas :)
Oke, pertanyaan pertamanya adalah apa persamaan Jatim Park 2 dan Trans Studio Bandung? Banyak! Baik JP2 maupun TSB Keduanya sama-sama menawarkan tempat hiburan keluarga. Keduanya berada di kota yang notabene kota sejuk (Bandung masih boleh dibilang sejuk kan ya hehe). Juga punya jagoan sendiri untuk permainan ekstrem. Keduanya sama-sama punya rumah hantu (huhu). Mereka punya akses transportasi yang mudah, TSB persis ada di pinggir jalan raya besar yang dilalui angkot (Jl. Gatot Subroto) sedangkan JP2 juga ada di kawasan wisata utama kota Batu (jl. Oro Oro Ombo) yang juga memiliki akses angkutan umum jadi sangat strategis. Dan yang pasti keduanya memang sama-sama menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari Rita Park dan Jungleland tapi tidak lebih menyenangkan dari Dunia Fantasi di Jakarta. Masih juara lah Dufan ini apalagi sekarang dengan adanya wahana baru Ice Age, wah tambah seru loh! (#okeeeesalahfokus).


Sambuatn gemerlapnya Trans Studio Bandung
Berikutnya dimana letak perbedannya? Bila kita lihat lebih dekat, Trans Studi Bandung menawarkan konsep yang berbeda dari Jatim Park 2. TSB berada di dalam mal (indoor theme park) dan memang jadi satu-satunya taman bermain pertama di Indonesia yang ada di dalam ruangan (bersama dengan Trans Studio Makassar) jadi kebayang kan ademnya di dalam TSB, tak ada sengatan matahari dan tak ada peluh karena antri kepanasan dibawah terik (hehe) jadi buat yang tak suka panas-panasan mesti cocok disini. Tapi disisi lain TSB memiliki luas yang tak sebesar JP2. Luas TSB tak lebih dari 4,2 hektar, bandingkan dengan JP2 yang mencapai 14 hektar. Sangat luas ya JP2 ini. Walaupun Jatim Park 2 memiliki lahan yang lebih luas tapi tidak semua wilayahnya adalah taman bermain (theme park), sisanya dibagi kedalam beberapa area diantaranya Batu Secret Zoo (kebun binatang), Museum Satwa dan Hotel Pohon Inn. Selain areanya yang luas kesemua bagian dari Jatim Park 2 ini sangatlah bagus dan modern, benar-benar memiliki tema-tema yang khas.

Salah satu zona TSB - Lost City - dekorasinya suka lah :)
Okelah tak mau lama-lama membahas hal lain, saya hanya ingin mengenang kembali wahana apa sajakah yang ekstrem di kedua tempat ini? Adakah roller coaster favorit dikeduanya? Mana yang lebih ekstrem? Roller coaster rasanya selalu jadi icon sebuah taman bermain, siapa yang tidak tahu Halilintar di Dufan kan?! Nah di TSB dan JP2 pun masing-masing memiliki coaster yang ternyata sangat berbeda namun pengalaman menaikinya sangat menyenangkan. Trans Studio Bandung memiliki Yamaha Racing Coaster yang merupakan ‘santapan wajib’ pengunjung disana. Inilah juga tujuan utama saya kesana, tapi sayang siang itu ketika saya datang petugas mengatakan angin diluar tengah kencang jadi permainan ditangguhkan dulu, cukup kecewa bahkan khawatir saya tidak akan sempat naik coaster ini. Lalu kenapa ada masalah angin? Ternyata walaupun ini theme park indoor tapi sebagian besar track coaster berada di luar gedung dan dengan ketinggian seperti itu tak heran banyak angin kencang yang akan menerpa apalagi jika kondisi cuacanya buruk dan pastinya berbahaya.

Tutup !! huhu (Eh ada The Doctor)
Ini diaa.. wuussh sensasinya luar biasaahh :) (google.com)
Tak patah semangat, saya kembali mendatangi coaster ini sebelum pulang dan ternyata mereka sudah buka kembali! Beberapa orang bahkan sudah mengantri dan saya pun langsung bersemangat ambil bagian (yeay!!). Trans Studio Bandung mengklaim bahwa Yamaha Racing Coaster merupakan salah tiga dari jenisnya di dunia. Dua lainnya ada di Amerika. Jenis seperti apa? Anda akan dibawa meluncur dari kecepatan 0km/jam sampai 130 km/jam dalam beberapa detik saja untuk kemudian berputar-putar dan terakhir mendaki 90 derajat sampai ketinggian 50 m lalu mundur kembali dengan kecepatan yang sama. Semuanya tak lebih dari 40 detik. Dahsyat kan?! (haha) tapi menyenangkan, teman saya pun yang katanya takut kalau naik roller coaster ternyata bisa suka juga dengan permainan ini. Benar-benar membawa kita melesat cepat plus memacu adrenalin sesaat sebelum coaster jatuh dari ketinggian. Waah pengalaman yang bagi siapapun pencinta permainan ekstrem harus coba. Rugi tak jajal Yamaha Racing Coaster kalau berkunjung ke TSB.

Bagaimana dengan Jatim Park 2? Awalnya saya ragu tidak akan ada coaster yang cukup menyenangkan disini mengingat JP2 bukan untuk wisata theme park saja. Tapi ternyata setelah saya jalan-jalan melewati kawasan Batu Secret Zoo alias kebun binatang paling modern di Indonesia ini (hehe lebay ya, tapi bener loh! kueren banget lah ini bonbin) dengan track yang apik dan bersih kita akan memasuki kawasan taman bermain. Lalu saya teruskan jalan kaki melihat mana-mana saja permainan ekstrem disini. Sampai akhirnya setelah berjalan agak kebelakang sedikit di sebelah wahana Tsunami ada sebuah single coaster bernama Animal Coaster dengan track turun naik saja. Kenapa single? Karena memang hanya satu kereta yang maksimal bisa diisi dua orang, idealnya satu orang. Kenapa animal? Karena motifnya corak binatang semua. Tapi jangan lantas berfikir anak-anak langsung senang dan kita izinkan naik wahana ini karena dijamin mereka takut juga. Saya sendiri takut tapi juga tertawa geli sesudahnya.
Seerruu!! Durasinya pun lebih lama dari coaster manapun jadi puas hehe
Saya membujuk teman saya untuk mau naik satu kereta berdua karena teman saya pun takut juga (hehe). Saya takut karena saya belum pernah naik single coaster (di Indonesia pun jarang sekali) tapi sangat penasaran ditambah coaster ini tak setinggi Yamaha Racing Coaster ataupun Halilintar. Disini jauh lebih rendah. Akhirnya teman saya pun bersedia. Kami naik satu kereta berdua. Disana ada beberapa kereta yang dioperasikan dengan jeda waktu tertentu (jangan sampai tabrakan ni). Lalu kami pun naik menunggu giliran.

Track awal adalah menanjak. Saya merasa tidak aman sekali disini karena tidak ada safety equipment yang benar-benar menutup badan kita seperti di coaster lain, hanya tali di pinggang (tapi buat apa juga ya?! kan turun naik aja hehe). Setelah menanjak, kereta akan turun melaju mengikuti track yang melingkar sehingga membentuk belokan tajam yang membuat saya seperti mau terlempar keluar track (serius ini, takut banget!!) tapi ternyata keretanya kuat, lalu belok lagi terus menerus seperti membentuk angka 8 dan seperti biasa disetiap belokan tajam badan saya seperti akan terhempas tapi tak jadi (huhuhu). Kemudian track akan menemukan turunan tajam berkali-kali seperti bukit yang sukses membuat siapapun teriak geli dan takut karena walaupun tak seberapa tingginya tapi kecepatannya lumayan juga memberi efek ‘jantung copot’. Kami pun turun dengan tertawa tak henti-henti karena geli, takut dan puas.


Ini tanda kita sudah memasuki area taman bermain di JP2
Seru ya kedua coaster ini? Siapapun harus coba dan rasakan sensasi adrenalinnya. Saya senang banyak taman bermain di Indonesia yang memiliki wahana ekstrem (hahay). Kalau saya berkesempatan main kesana lagi pasti saya akan menyambangi Yamaha Racing Coaster dan Animal Coaster. Hanya satu yang tak akan saya kunjungi lagi yaitu wahana rumah hantu di Jatim Park 2, namanya Horor House (!?!!). 

Di Trans Studio Bandung pun saya sebetulnya (dipaksa) masuk rumah hantu tapi ya disana  normal saja seperti wahana rumah hantu lainnya. Kita akan duduk manis di kereta yang berjalan menelusuri tempat-tempat menyeramkan yang membuat durasinya jelas. Tapi di Jatim Park 2 ini lain cerita, kita diminta jalan kaki bawa senter per grup, ada jeda waktu masuk per grupnya jadi sepi sekali di dalam. Lalu mulailah kita masuk ke rumah gelap yang punya backsound menyeramkan dan ornamen hantu di kiri, kanan, atas, bahkan lantai. Semuanya mengagetkan dengan durasi tak tentu tergantung kita apakah memilih jalan, diam karena ketakutan atau bahkan berlari saja. Tapi saya sih jalan saja tanpa teriakan karena mulai dari masuk sampai keluar mata saya terpejam hanya modal pegang pundak kawan (hahay) jadi semua yang saya tulis tadi itu diceritakan kawan saja (hehe tak tahu sama sekali isi rumah itu). Salam ekstrem.