![]() |
Selabintana (www.google.com) |
Perjalanan menggunakan KA
Pangrango dari Bogor menuju Sukabumi ternyata memberikan ‘waktu kosong’. Kereta
pulang saya masih 5 jam lagi di jam 3 sore nanti. Sengaja saya pesan sore,
supaya bisa sedikit jalan-jalan di Sukabumi walaupun niat awal saya hanya ingin
merasakan sensasi naik kereta baru KA Pangrango (baca : Menilik Gede-Pangrango dari KA Pangrango).
Jadi mau kemana nantinya di Sukabumi? Itu yang saya dan teman-teman diskusikan di dalam gerbong eksekutif KA Pangrango (asekh, sombong dikit ah haha). Pilihannya sih mau cari Moci yang jadi oleh-oleh andalan Sukabumi, ke sekitaran Gunung Gede seperti Selabintana atau hanya jalan-jalan di sekitar kota. Sampai akhirnya Ardi menawarkan pilihan yang cukup menarik. Mau ke Situ Gunung nggak? Boleh lah pikir saya dan untuk itu kami harus turun di stasiun Cisaat, tepat sebelum stasiun Sukabumi.
Jadi mau kemana nantinya di Sukabumi? Itu yang saya dan teman-teman diskusikan di dalam gerbong eksekutif KA Pangrango (asekh, sombong dikit ah haha). Pilihannya sih mau cari Moci yang jadi oleh-oleh andalan Sukabumi, ke sekitaran Gunung Gede seperti Selabintana atau hanya jalan-jalan di sekitar kota. Sampai akhirnya Ardi menawarkan pilihan yang cukup menarik. Mau ke Situ Gunung nggak? Boleh lah pikir saya dan untuk itu kami harus turun di stasiun Cisaat, tepat sebelum stasiun Sukabumi.
Cisaat, bukan penampakan stasiun
baru seperti halnya stasiun Paledang di Bogor. Setidaknya itu yang saya lihat.
Bangunan stasiun bercat putih kusam berpadu coklat tua dengan dua lajur rel saja
seperti menyiratkan ‘umur’ stasiun atau tepatnya trayek Bogor-Sukabumi yang
tidak bisa dibilang baru. Dari yang saya baca, rute ini termasuk tahap pertama
yang dibangun Hindia Belanda dalam periode tahun 1875-1888. Trayek
Bogor-Sukabumi sendiri dibangun setelah rute Batavia–Buittenzorg
(Jakarta-Bogor) di tahun 1880. Tuh, tua
sangat kan? Rel dan keretanya sendiri kerap berganti sebab perbaikan.
Dari stasiun Cisaat kami
harus berganti angkutan umum dua kali untuk menuju Situ Gunung. Pertama menuju
perempatan polsek Cisaat dan kedua melanjutkan ‘naik gunung’. Namanya juga
Danau Situ Gunung (agak aneh ya, ‘situ’ sendiri artinya sudah danau hehe) pasti
berada di dataran tinggi yang ternyata danau ini masih termasuk kawasan Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango. Nah, saya beruntung karena saya sendiri belum
pernah ke danau yang benar-benar ada di
gunung. Karuan langsung membayangkan Ranu Kumbolo atau Ranu Pane di Gn. Semeru seperti
di film 5 cm. Pasti cantik.
![]() |
Selamat datang! Angkutan hanya sampai sini saja |
Hebat juga angkutan carry ini membawa kami berempat meliuk
mendaki jalanan aspal yang kadang rusak. Sampai gerbang bapak supir meminta
beberapa lembar ribuan kami, mahal murah itu relatif lah (percaya nggak, waktu menulis ini saya dan adik
sedang berdebat perihal mahal murahnya angkot itu hehe). Akhirnya Wisata Alam
Situ Gunung menyambut kami, tiket masuk murah (yang ini sepakat) sudah kami
bayarkan. Dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1 km.
Jalanannya nyaman, lebar berbatu dan aman. Disekitar pun sudah banyak keluarga yang datang, menempatkan mobil-mobilnya di lahan parkir yang tersedia dan kemudian berjalan kaki. Muda-mudi berseragam dari sebuah sekolah menengah atas turut menyusul.
Jalanannya nyaman, lebar berbatu dan aman. Disekitar pun sudah banyak keluarga yang datang, menempatkan mobil-mobilnya di lahan parkir yang tersedia dan kemudian berjalan kaki. Muda-mudi berseragam dari sebuah sekolah menengah atas turut menyusul.
Ngos-ngosan? Sudah pasti (haha). Tapi tetap nyaman karena pemandangan hutan yang hijau
akan menyegarkan mata siapapun. Belum lagi udaranya, segar. Akhirnya danau
cantik itu muncul, berlatar pepohonan lebat yang hijau dan dikejauhan tampak
segaris biru pegunungan indah. Gede-Pangrango mungkin disana. Ah, siapapun
pasti suka disini. Ada dataran rumput cukup luas untuk sekedar berbaring duduk
santai beralas tikar. Beberapa anak kecil yang kemudian datang bahkan berlarian
riang ditemani putaran kolecer yang mengeluarkan bunyi khas ketika tertiup
angin. Menenangkan.
![]() |
Luas, nyaman, bahkan ada wisma yang disewakan. Mau coba bermalam? pasti seru (photo by Achmad) |
Tak hanya menyimpan Situ
Gunung, kawasan ini juga punya air terjun yang indah. Tak menunggu lama, setelah
puas menikmati danau kami beranjak menuju salah satunya yaitu Curug Sawer. Sekitar
setengah jam perjalanan turun naik bukit akhirnya kami sampai. Jalanannya
benar-benar seperti naik gunung, cukup sempit, tertutup rapatnya tanaman. Sesampainya disana saya sendiri puas sekedar menikmati curug dari jauh
(takut basah, takut pacet hahaha).
![]() |
Bagus ya?! |
![]() | ||
Saya belum sempat merasakan airnya |
Sadar akan waktu yang
terbatas, kami segera meninggalkan air terjun untuk kembali ke kota Cisaat dan
kemudian Sukabumi. Dari Curug Sawer kami melewati jembatan bambu yang cantik. Setelah menyusuri jalanannya, entah bagaimana kami tiba di bagian kawasan yang
lain, daerah perkemahan Cinumpang namanya. Ternyata jalur ini lebih enak
dilalui dan cukup luas serta datar, tidak seperti jalur dari Situ Gunung menuju
Curug Sawer. Tak heran sewaktu meninggalkan curug kami ditawarkan ojek (haha). Tidak begitu lama untuk sampai di perkemahan Cinumpang dan seketika
itu juga ada angkutan yang sudah siap mengantar kami ke Cisaat untuk kemudian berganti angkutan menuju Sukabumi.
KA Pangrango
sudah menanti kami di stasiun Sukabumi. Dan tampaknya stasiun ini juga sama
seperti yang lainnya hanya sedikit lebih besar tapi letaknya yang ada di
belakang pasar cukup mengganggu saya (hehe). Perjalanan singkat ini
menyenangkan walau pegal sudah pasti akan terasa karena mendaki-menuruni bukit
seharian saja. Tak heran saya mudah terlelap di kereta walau kali ini ekonomi
(ganti kelas sekarang hehe).
![]() | |
Banyak yang foto-foto, mungkin trip sehari juga. |
sayang mochinya ga kebeli ya mas T.T
ReplyDeleteIya, mochi gede-gede ya katanya o.O
Deletetulis biaya juga dong gan :D *Kepo
ReplyDeleteTrip begini biaya lebih besarnya di kereta aja gan (100rb PP) :D
DeleteDari cisaat ke situ gunung ngeluarin ongkos berapa kira2 mas?
ReplyDeleteWah detilnya lupa euy, tapi murah kok. Mungkin sekitar 3000 - 5000 ya naik angkot dari pertigaan Cisaat (yang ada polres kalo gak salah) nanti banyak angkot ke Sukabumi.
DeletePolsek cisaat mas bay, mungkin sekarang 10 ribuan..
DeleteHooo iya-iya betul Pak Ardi :)
DeleteThanks udah ditambahin -Yuk lah kesana lagi Di?- Hehe
kontek ja ma klo mau ke sukabumi lagi insya allah di temenin
Deletebang sy pen bacpackeran sukabumi
Deletebisa minta tips nya ga
yang mau ke situ gunung atau daerah cisaat dan sukabumi boleh kontek saya 085794804466
ReplyDeletenanti saya ajakin ke tempat yang lebih oke yaitu gunung sunda...
yang mau ke situ gunung atau daerah cisaat dan sukabumi boleh kontek saya 085794804466
ReplyDeletenanti saya ajakin ke tempat yang lebih oke yaitu gunung sunda...
Mas ferry, mas Muhammad, mas faisal..hahah bingung manggil yg mana..mau nanya dong..kalau mau ke gunung sunda mending turun di cisaat atau sukabumi?
DeleteDmn itu bang
Deleteklo mau ke gunung sunda mending turun di cisaat lebih deket
ReplyDeleteAngkutannya apa aja dan trayek mana gan?
ReplyDeleteberarti pulangnya dari pada ke sukabumi pesennya berangkat dari cisaat dunk.
ReplyDeleteTerima kasih gan. Artikelnya menjawab unek-unek yang ada di kepala saya. Soalnya dari kemarin2 saya mikir dan bertanya2 ke mbah google kalo piknik ke sukabumi seharian, kira2 bisa kemana aja. Lah ternyata ketemu jawabannya disini.
ReplyDeleteSeandainya ada tambahan info hotel-nya mungkin lebih baik kalo soal destinasi tempat wisata sih saya yakin mudah kejawab, tapi rekomendasi hotel alias penginapan yang belum saya dapet.
Oya, barangkali berkenan, kunjungi blog saya jga gan.
Info Hotel dan Destinasi Tempat wisata
Tempat Wisata Jawa Barat