 |
Mendaki tebing @Bromo |
Berjalan kaki di padang
savana Bromo kemarin membuat saya mengingat kembali betapa sebetulnya ‘jalan
kaki’ menjadi kegiatan tak terhindarkan di setiap saya menjelajahi kota-kota di
Indonesia (lagaknya kayak udah banyak yang dikunjungi hehe). Dan saya yakin
banyak traveler yang juga pasti (mau) berjalan kaki menjelajahi tempat menarik,
terlebih hubungan antara tempat eksotis dan kurangnya akses biasanya berbanding
lurus. Semakin tak terjamah suatu tempat wisata maka semakin menarik dan
semakin minim akses menuju kesana yang biasanya memaksa traveler berjalan kaki.
Contoh naik-naik ke puncak gunung (yaiyalah). Selain terpaksa karena minim transportasi,
alasan memutuskan jalan kaki pun beragam. Bagi saya menikmati lingkungan
sekitar sepanjang jalan cukup membuat saya mau berjalan kaki jauh yang biasanya berimbas (positif) pada penghematan
budget.
Atau alasan ekstrem saya karena takut ‘kebablasan’ kalau naik angkutan yang
akhirnya ‘sok-sok’ kuat jalan kaki beriringan dengan angkutan di jalan raya
yang liar.
 |
Dua 'kisanak' selalu berkelana @savana Bromo |
Memori pertama kali saya
berjalan kaki jauh adalah sewaktu kuliah dulu menemani seorang teman menyusuri
pantai. Bukan untuk senang-senang, melainkan tuntutan tugas akhir (skripsi)
yang membuat kami harus memetakan (tracking)
titik-titik di pinggir pantai Cilacap setiap 100-200 meter dengan GPS, sejauh
hampir 20 km! Sebetulnya bisa saja naik becak, sewa motor atau lainnya. Tapi
akhirnya kami memutuskan berjalan kaki dengan alasan menikmati pantai dan pemandangannya
ditambah (sekali lagi) kondisi keuangan (mahasiswa kan!).