![]() |
Ramainya turun gunung. Cloudy savanna here we come :) |
Hardtop memang sepertinya jadi pengantar utama ketika kita ingin menikmati berbagai
tempat menarik di Bromo. Selain kontur jalan yang berpasir, secara jarak
katanya tempat-tempat ‘populer’ berada cukup jauh satu sama lain seperti
Penanjakan (tempat melihat sunrise), kawah Bromo, padang savana, Bukit
Teletubies dan Pasir Berbisik. Tapi bila dilihat lagi, sebetulnya Kawah Bromo ke
Padang Savana tidaklah terlalu jauh. Toh
si mobil 4WD itu tidak benar-benar mengantar kita ke tempat tujuan, yang
artinya harus jalan kaki juga malah lebih banyak jalannya.
![]() |
Mulailah berjalan kaki !! |
Nah, atas dasar inilah,
ditambah penginapan saya yang dekat pintu masuk, dan setelah memetakan jalur
untuk berjalan kaki (hehe) akhirnya saya bertiga memutuskan untuk tidak ikut hardtop rombongan pulang setelah dari
kawah Bromo (bayarnya si tetep PP hehe). Tidak perlu dulu lah menuju Bukit Teletubies ataupun Pasir
Berbisik, saya lebih ingin menikmati padang savana, menikmati awan-awan rendah
diatasnya dan angin gunung yang sejuk dengan berjalan kaki tanpa terburu waktu.
![]() |
Pura Luhu Poten, banyak kuda lari kenceng, mantep! |
Oia, di padang pasir kaki Gunung Bromo,
ada sebuah pura hindu yang terlihat sangat eksotis berbalut kabut, apalagi
ketika melihatnya dari atas. Indah sekali berlatar deretan bukit hijau. Pura ini biasa dijadikan tempat upacara Kesodo (Yadnya Kasada) bagi
umat hindu. Gunung Bromo memang jadi gunung suci bagi umat hindu suku Tengger. Saya datang tidak jauh setelah
perayaan Galungan, jadi banyak sekali umbul-umbul (disebutnya
penjor) di depan setiap rumah,
seperti ikut merasakan bagaimana Bromo (Brahma) menjadi sangat berarti bagi
mereka, menjaga mereka, memberikan hidup untuk mereka. Upacara Kesodo sendiri
dilakukan setiap bulan kesepuluh kalender Jawa, kalau menurut hitungan saya, tahun ini datanglah di sekitar bulan Agustus -September saat purnama.
Kesodo akan berlangsung dari tengah malam hingga dini hari.