Siapa yang tidak mau
mengunjungi semua situs baik kota, hutan, lalu gunung, danau, atau pulau serta bangunan tua sampai
gurun di seluruh dunia yang punya banyak cerita sejarah peninggalan masa lalu? Yang sudah
diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia (UNESCO
World Heritage Sites) dengan nilai budaya yang tinggi, tempat-tempat dengan
perpaduan bangunan multietnis yang masih terjaga baik hingga alam yang masih
asri. Sampai tahun 2014 tidak kurang dari 1007 situs telah terdaftar sebagai
warisan dunia di lebih dari 190 negara di seluruh dunia. Bagaimana di
Indonesia?
![]() |
A Famosa di Melaka. Salah satu warisan dunia. |
Sampai 2014 ada delapan
situs Indonesia yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO yang bisa
kita kunjungi diantaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan serta Lanskap Budaya
Bali termasuk didalamnya sistem pengairan Subak yang kesemua itu memang sudah
karuan selalu dikunjungi wisatawan karena merupakan destinasi pariwisata utama
di Indonesia. Tapi tahukah juga tempat-tempat seperti Situs Sejarah Manusia Purba
di Sangiran-Solo, Pulau Komodo, Hutan Hujan Tropis Sumatera serta Ujung Kulon
di Banten sampai Taman Nasional Lorentz di Papua yang juga masuk kedalam daftar
tersebut. Mau kemana selanjutnya? Kalau saya, untuk selanjutnya mungkin mau
coba ke Solo dulu yang dekat (hehe).
Bagaimana dengan negara luar
Indonesia? Mulai lah dulu dari negara tetangga yang oleh sebab jarak tidak
terlalu banyak makan waktu dan biaya. Singapura? Ternyata tidak ada situs
warisan dunia disana, setidaknya sejak 2012 negara ini masih mengajukan proposal
ke Paris agar Singapore Botanical Garden bisa masuk ke daftar tersebut (kalo
daftar pencakar langit mah mungkin
negara ini juara hehe). Di Malaysia saya ingin sekali mengunjungi George Town
dan Melaka yang termasuk dalam kota sejarah Selat Malaka (Historic Cities of the Straits Malacca) yang juga ada dalam daftar
warisan dunia UNESCO. Dan saya pun berhasil mengunjungi George Town dengan
segala bangunan bersejarah dan murral tepi jalan yang indah (baca Jelajah Penang) lalu
tidak lengkap kan kalau belum ke Melaka. Maka kesanalah saya.
![]() |
Selepas dari Batu Caves, lanjut.. |
Jika bertolak dari KL
sentral, banyak bus yang mengantarkan kita menuju Melaka. Kala itu bus antar
kota Transnasional yang bertolak pukul 8 malam jadi pilihan kami. Bus ini
nyaman, dengan bekal air minum gratis dan sedikit jejanan yang kami bawa serta
hiburan didalam bus membuat perjalanan dua jam ini cukup menyenangkan. Kami
turun di perhentian terakhir bus, Melaka Sentral. Tempat ini merupakan terminal
pusat yang besar dan nyaman, banyak bus antar kota dan bus yang menuju KLIA,
nantinya saya pun menuju bandara dari sini. Tapi sayang, sejauh mata memandang
memang tidak ada bus yang beroperasi. Kabarnya dari Melaka Sentral ini ada bus
Panorama Melaka yang jadi transportasi utama di kota ini. Kala itu kami sampai
pukul 10 malam tapi bus ini pun ternyata sudah selesai beroperasi. Taksi lah
yang jadi pilihan menuju penginapan.
![]() |
Mahal juga taksinya euy... |
Ada apa saja di Melaka?
Sebagai kota yang memiliki warisan budaya yang tinggi, tentu akan banyak kisah
yang diceritakan di setiap museumnya, bisa juga menikmati alam dari ketinggian
serta sungai cantik nan romantisnya, atau mengunjungi konservasi hewannya
sampai ke Planetarium canggih di Ayer Keroh yang tak seberapa jauh dari pusat
kota Melaka.
Pagi itu tujuan pertama
saya adalah Menara Taming Sari. Menara pandang yang berputar sampai 360 derajat
ini memiliki ketinggian 80 meter. Dengan harga yang cukup mahal untuk durasi
yang sebentar, pengalaman ini cukup seru tapi aman karena menara ini akan naik
perlahan sambil berputar lalu dapat souvenir pula dan sesampainya diatas kita akan
dijelaskan oleh pemandu tentang tempat-tempat daerah disekitar menara ini plus tempat wisatanya. Asik
kan! Kesinilah dulu untuk membidik sasaran wisata selanjutnya bak pengintai
(hehe).
![]() |
Ini dia museum Samudera (dua bagian) |

Saya sendiri memang suka dikedua museum ini. Museum Kesultanan Melayu yang berbentuk istana sultan ini begitu besar dan megah, banyak diorama yang diceritakan. Diorama perwakilan dari Jawa pun ada disini (hehe). Memang pada masanya, banyak juga orang-orang Nusantara yang berdagang atau bekerjasama dengan Kesultanan Melaka. Lalu kalau di Museum Samudera saya suka karena bentuknya yang menyerupai kapal Flora de la Mar yang menjadi saksi masa kegemilangan Melaka. Dikisahkan kapal ini lantas tenggelam di Selat Melaka pada tahun 1512 saat berlayar menuju Eropa.
Melaka memang jatuh di tangan Portugis pada tahun 1511 melalui serangan yang hebat. Pelabuhan, benteng pertahanan, istana sampai masjid hancur dan dirampas. Hal ini mengakhiri kekuasaan kesultanan Melaka dan selanjutnya Melaka dikuasai pihak asing mulai dari Potugis, Inggris sampai Jepang hingga akhirnya Malaysia merdeka pada 1957. Andai kesultanan-kesultanan itu masih berjaya ya, ada Melaka, Samudra Pasai, Demak, atau Deli pasti seru dunia sekarang (haha). Oke lanjutkan.
Museum lainnya? Masih
banyak. Ada Museum Rakyat, Museum Seni Bina Malaysia, Youth Museum, Museum
Kastam, Museum TLDM (tentara laut-nya Malaysia) dan banyak lagi yang kesemua tempat
itu tidak begitu jauh. Saya pun berjalan kaki saja, walau panas tak pamit-pamit
menyengat.
![]() |
Semua serba merah disini. Ada sewa sepeda juga lho! |
Lalu bagaimana dengan
peninggalan budaya barat di Melaka? Cobalah jalan kaki ke kawasan Stadthuys
atau bangunan merah yang jadi ikon kota Melaka sekaligus bukti peninggalan budaya
barat di tanah Melayu. Menikmatinya bisa juga dengan bersepeda (hehe). Lalu ada
juga Kota A Famosa yang sekarang ini hanya tersisa gerbang depannya saja serta
gereja St. Paul yang jelas sekali menunjukkan kemegahan pada zamannya. Berada
di bukit, gereja ini menampilkan pemandangan kota Melaka dari ketinggian. Capek
lah sudah selalu jalan kaki masih naik bukit, tapi sesampainya diatas sangat
menyenangkan menikmati itu semua. Tak lupa saya pun foto-foto untuk sekedar kenang-kenangan
(alasan haha).
![]() |
Sebelahan sm klenteng loh. Cool! |
Nah, Melayu dan budaya
barat sudah kami kunjungi maka tak lengkap kalau tidak mengunjungi kawasan Cina
dan India. Yup, di Melaka pun terdapat beberapa kawasan yang menunjukan kedua
budaya tersebut. Sebut saja Jonker Walk yang banyak bertebaran tempat makan chinesse food, atau juga menyambangi
Masjid Kampung Keling yang menceritakan kisah multietnis (Cina, India dan
Eropa) yang berada tak jauh dari kawasan Jonker Walk. Museum Laksamana muslim
Cheng Ho pun ada di dekat Jonker Walk ini. Jangan lupa juga jalan-jalan malam
di kawasan Jonker atau Mal Dataran Palawan yang begitu ramai, pasti menambah
semarak suasana liburan. Terakhir, yang tidak boleh dilewatkan di malam
hari adalah Melaka River Cruise.
![]() |
Coba jg kuliner khasnya ya! |
Tak jauh dari kawasan
pusat museum ataupun kawasan menara Taming Sari. Kita bisa menikmati Melaka
melalui wisata sungainya yang sudah melegenda. Inilah juga salah satu alasan
saya ingin ke Melaka. Penasaran sama river
cruise-nya (hehe). Waktu terbaik katanya malam hari. Maka sengajalah saya
datang malam. Kala itu cukup banyak yang naik. Dengan biaya sekitar RM10 saya
puas menyusuri sungai Melaka. Lampu-lampu cantik dan pemandangan gedung bergaya
Eropa serta tampilan restoran pinggir sungai benar-benar menarik untuk dilihat.
Suasananya syahdu (halah hehe) dan durasinya pun lama pulang pergi. Sungai luas
ini seperti membuktikan kekuatan pelabuhan Melaka yang maju 5 abad lalu,
pelabuhan yang berperan penting baik untuk perdagangan maupun pertahanan. Ah,
memang begitu banyak kisah dari sejarah masa lalu yang dirasakan ketika kita di
Melaka. Membuktikan kebesarannya dulu sebagai kota pelabuhan yang maju dan
disegani. Dan sekarang sebagai pusat wisata yang menarik banyak wisatawan.
![]() |
Oleh-olehnya tas kecil aja (haha) @pasar depan museum Samudera |
![]() |
Becak cantik & Museum Kesultanan Melayu dibelakangnya |
![]() | |
Ini dia, mimpi terwujud. River cruise @one of world heritage site :) |