Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts

Saturday, 31 October 2015

‘Mumpung’ story (eps.4) : Pulau Putri – Kep. Seribu

Yeaayy. Cerita terbaru dari serial ‘mumpung’ story akhirnya datang lagi. Sebelumnya sudah ada tiga seri yang semuanya menerapkan prinsip yang sama, aji mumpung! Mumpung ada tugas kantor akhirnya jalan-jalan (hahaha). Destinasi yang kami tuju kali ini adalah Pulau Putri, yang ada di Kepulaun Seribu, DKI Jakarta. Nah bedanya, kali ini kantor saya sedang mengadakan acara kebersamaan (staff gathering) yang berarti salah satu tujuannya memang refreshing. Tapi, karena saya termasuk panitia akhirnya ya kerja juga. Tapi tak apa, pasti selalu ada sesi santai (maksa huhu).

Keren kaan speedboat kita hehe Welcome to Putri island!
Sebagian warga Jakarta pasti pernah ya wisata ke Kep.Seribu, betul kan? yang belum berarti mesti coba karena disana ada banyak pilihan pulau. Secara jarak, Kep.Seribu relatif dekat dengan Jakarta dibanding pulau favorit lain seperti Karimun Jawa atau Bali, dan nyatanya pemandangan di Kep.Seribu pun tak kalah indah. Nah, Pulau Putri ini adalah salah satu yang terjauh dari gugusan pulau di Kep. Seribu, butuh waktu 1,5 jam naik speedboat keren dari dermaga Marina Ancol. Bayangkan kalau harus naik perahu angkutan yang banyak dipakai warga pulau, bisa 2-3 kali lipat waktu tempuhnya. Dulu saya pernah ke Pulau Tidung yang cukup dekat, hampir tiga jam saya diatas perahu nelayan, tapi ternyata hanya satu jam kalau naik speedboat. Jadi pintar-pintar pilih angkutan ya terutama buat yang suka mabuk laut, tapi lihat harganya juga. Saya mah namanya juga aji mumpung (hihihi).

Pulau Putri teryata dikhususkan untuk penginapan/resort dan rekreasi. Jadi disini tidak ada pemukiman warga atau pusat pemerintahan jadi tidak sembarang pengunjung bisa datang hanya yang akan menginap saja. Yang saya tahu, hanya Pulau Putri dan Pulau Sepa yang memiliki resort. Tapi bukan berati di pulau lain tidak ada penginapan. Pulau Tidung contohnya, kita bisa menginap di rumah warga/guesthouse yang banyak tersedia disana. Oiya, dari 355 pulau yang ada di Kep.Seribu hanya 200-an yang sudah memiliki nama. Dan tidak semua berpenghuni. Lain di nama lain di lapangan ya, bukan seribu ternyata jumlahnya (hehe). Pulau-pulau favorit lain diantaranya adalah P.Pramuka, P.Bidadari, P.Pari, P.Macan, P.Harapan dan lainnya.

Sambutan dan salam perpisahannya selalu pakai lagu
Patung empat putri duyung akan menyambut kita ketika tiba di dermaga P.Putri diiringi welcome dance tarian Bali dan lantunan lagu-lagu dari grup musik. Ini bagian dari jamuan selamat datang bagi tamu P.Putri. Sekilas saat menginjak kaki di dermaga saya mengamati pulau ini ternyata tidak memiliki pantai yang luas, tapi semua kamarnya menghadap ke laut plus disini kita seperti di pulau pribadi karena hanya ada tamu pengunjung saja dan tidak ada yang lebih menyenangkan lagi dari pulau pribadi kan (hehe). Oia, pulaunya memang tidak terlalu besar, kamarnya sekitar 70-an dan tidak sampai setengah jam kita sudah bisa keliling pulau yang banyak ornamen Bali ini.
Tidak perlulah saya ceritakan bagaimana acara gathering­ kantor. Yang perlu dicatat memang kami semua merasa senang, lebih kenal dan semakin kompak bersama, tapi yang lebih penting ketika team building, tim sayalah juara pertamanya (hohoho).



Pemandangan dari kamar, kolam renang buat yang gak mau ke laut dan juga pantai 'pendek' di Pulau Putri :)

Jadi apa saja yang bisa kita lakukan di Pulau Putri? 
Layaknya sebuah resort pantai, fasilitas olahraga air disini bisa dikatakan cukup lengkap. Di hari kedua ketika memasuki acara bebas sebagian kawan langsung memulai kegiatan dengan snorkeling, yang lain mencoba banana boat, ada juga yang kayaking, tapi belum ada yang berani diving ternyata. Semua alat snorkeling, sepeda air sampai alat scuba diving tersedia disini dan bisa disewa dengan harga yang wajar saya fikir. Untuk bisa kayaking selama satu jam kita tak sampai mengeluarkan uang 50 ribu rupiah, murah kan! ditambah perairan yang sangat jernih dan arus yang tenang hampir tak berombak rasanya semua harga sewa disini cukup layak. Bahkan staff maskot kantor kami pun (Pak Santo hehe) sampai rela malas-malasan terapung diperairan dangkal leyeh-leyeh diatas baju pelampung ‘saking´ menikmati pemandangan yang mungkin tak pernah dia jumpai di manapun (#piss pak) tak pusing pasal muka hitam atau bahkan meriang karena masuk angin (hehe).
Kayaking di perarian yang dangkal, jernih dan indah bisa lihat ikan-ikan kecil dan karang dibawahnya
Sudah merasa semua olahraga air itu menarik? Tunggu sampai kita mengikuti trip jalan-jalan keliling pulaunya untuk melihat karang dan juga sunset indah (Duh kok kayak iklan ya, wah hrs dapet voucher inap grtais ni dari P.Putri hihihi). Ya, Pulau Putri memiliki rangkaian trip untuk melihat terumbu karang dengan glass bottom boat atau kapal yang tepiannya berdinding kaca. Kacanya bukan didasar atau di kaki kita ya tapi disamping tempat duduk  jadi sangat leluasa melihat dasar laut dan terumbu karang dari dekat. Tak perlu lah menyelam kedasar bagi yang takut atau yang malas (hehe). Atau pilihan lainnya kita bisa menikmati terowongan bawah laut (deep tunnel) yang ada di kiri dermaga, jadi kalau takut naik kapal tapi ingin tetap melihat ikan dan karang silahkan jalan-jalan di terowongan ini.
Banana Boat!! Saya masih saja belum pernah naik ini hahaha
Sorenya kami pergi dengan salah satu kapal untuk menikmati sunset atau biasanya disebut sunset cruise. Nah, untuk menikmati sunset terbaik kami perlu bergerak kelautan terbuka, sehingga matahari tenggelam tidak akan terhalang pulau-pulau lain.  Jadi kapal pun bergerak sekitar 45 menit menuju daerah terbuka tersebut. Mujur pulau ini memang ada di gugusan terluar Kep.Seribu jadi tak begitu jauh untuk mencapai spot daerah terbuka. Sepanjang perjalanan kami pun diceritakan pulau-pulau yang kami lewati, ada Pulau Bira, Pulau Macan dan lainnya. Juga cerita unik yang menyertainya, ada pulau yang akhirnya ditinggalkan penduduk, pulau yang penginapannya tak berpintu dan langsung menghadap laut (saya lihat sendiri di pulau kecil itu, mantep!) sampai pulau yang dimiliki suatu badan bahkan orang pribadi. Lucu rasanya mendengarkan pulau ini milik perusahaan ini, pengusaha itu, milik orang kaya ini. Hebat ya bisa sampai memiliki pulau. Konsepnya sebetulnya sama saja seperti memiliki sebidang tanah di daratan hanya saja karena di pulau kecil jadinya kayak punya satu pulau, tak apalah kalau masih orang Indonesia yang punya, kalau sudah orang asing seperti yang ada di pulau-pulau eksotis terluar Indonesia saya kok gak setuju, tak rela!
Sunset yang kami dapat belum maksimal sih tapi lumayan bisa keliling-keliling pulau
Nah, hati-hati ya yang suka snorkeling!?! 
Lalu apakah setiap pengunjung P.Putri akan mendapatkan semua rangkaian trip itu? Yak, bisa! Bahkan bisa lebih banyak kegiatan tergantung biaya (hehe). Saya sendiri sudah coba semua, yaaa secara teknis kegiatan air nya tidak semua sih, saya hanya snorkeling itu pun di akhir waktu karena saya awalnya tak rela harus menginjak karang jadi ingin perairan yang lebih dalam. Selain sakit ke kaki (beberapa kawan sampai berdarah hebat karena karang), terumbu karang adalah makhluk hidup yang bisa mati kalau ada tsunami, bom, bahkan injakan kaki yang serabutan begitu. Dan untuk hidup kembali butuh waktu tahunan jadi seharusnya dijaga baik-baik. Tapi ternyata bagus juga di pulau ini ada area snorkeling yang cukup dalam sehingga akhirnya saya ‘nyemplung’ jadi tidak perlu merusak karang walau bagi yang takut ke laut pasti akan menjadikan karang sebagai pijakan (oh nooo hehe). Tak heran banyak karang yang warnanya tak lagi cerah tapi pucat, sebagian karena tertutup karang yang mati yang berwarna putih. Semoga kesekian kalinya mereka snorkeling akhirnya bisa mengerti.

Setiap perjalanan wisata pasti ada masa untuk bersenang-senang, masa untuk kembali mengingat hal baik yang sudah kita lakukan dan bahkan belajar hal baik yang baru. Saya yang wisata sambil kerja saja bisa (mumpung) apalagi traveler yang niat jalan-jalan. Sudah kah melakukan hal baik disana? Minimal tidak merusak atau  turut menjaga apapun hal baik itu disana?


Lets be a good traveler

Thursday, 24 September 2015

Tiga Jawara Kuliner Malang

Tak habis rasanya kalau cerita soal Malang, saya saja selalu mau kesana lagi kalau ada trip gratis (hehe). Tempat wisatanya, alam sekitarnya, sampai makanan murah meriahnya semuanya bisa membuat siapa saja betah di Malang atau setidaknya pasti datang lagi setelah kunjungan pertamanya. Sebut saja Gn. Bromo, Gn. Semeru, Pulau Sempu! Hadeuuh bagus-bagus itu! Tapi ya sudahlah ya saya pun belum sempat kesemua itu. So, Malang wait again for me ya!!

Saya ini bukan penggemar berat makan (prinsipnya makan untuk hidup bukan hidup untuk makan) makanya jarang menulis pasal kuliner atau makanan khas tapi entah kenapa perut ini terasa terus membesar bak penggila makanan (hahaha). Jadi supaya makin banyak yang “membesar” kaya saya ini, saya akan bagikan pengalaman jajan di Malang yang uenak tenan!! Wajib coba lho.

Si bakso legendaris

Buat yang tinggal di Malang pasti tahu warung bakso yang namanya sudah legendaris, ada di pinggir rel kereta, baksonya orang nomor satu di Indonesia, Yapp Bakso President!! Saya sengaja datang karena ingin tahu rasa dan suasana yang ada disini. Konon katanya memang lezat dan khas karena lokasi yang dari dulu belum pernah pindah, disamping rel kereta api, jadi bisa sambil menikmati pemandangan kereta lewat (duh apa gak malah ngeri ya?!). Oiya, nama President sendiri berasal dari nama sebuah bioskop yang dulunya ada di dekat warung ini. Namanya bakso Malang pasti berbeda dengan bakso dari daerah lain yang terkenal contohnya Solo maupun Bandung. Bakso Malang memiliki banyak ragam tidak hanya bakso bulat seperti bola pingpong... (ehehe #nyanyi) tapi juga ada siomay goreng, tim goreng, siomay basah dan tahu isi. Dan di Bakso President ini mereka semua nampak gede-gede euy, jadi waktu pesan salah satu paketnya benar-benar kenyang poll!!

Panas-panas ngebakso itu memang sueger tenan, minumnya es teh (yummy!!)
Harganya memang sedikit diatas harga rata-rata tapi rasanya enak lho. Sayang, saya tunggu si kereta tak kunjung lewat jadi belum lengkap pengalaman makan baksonya (hehe). Mencari alamat Bakso President cukup sulit bagi yang tidak biasa ke Malang, begitu pun dengan saya yang harus tanya sana-sini karena lokasinya yang tertutup bangunan dan dilalui jalan yang tidak terlalu besar. Tapi kalau sudah sampai dilokasi ternyata parkirannya nyaman dan aman kok, motor dan mobil bisa parkir.

Es Krim ala Belanda

Ini yang saya makan hehe (sedap!)
Malam setelah saya makan di Bakso President saya kembali menuju pusat kota tepatnya di Jl. Basuki Rahmat. Di dekat alun-alun kota berseberangan dengan Gereja Katedral berdiri sebuah restoran dengan gaya kolonial yang begitu apik. Toko Oen namanya, dari namanya saja kita tahu bahwa pemiliknya pasti keturunan Arab (hohoho) keturunan Tionghoa yaa. Adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Oma Oen yang berhasil memperkenalkan es krim lezat buatannya sendiri. Saya pun tak ketinggalan mencicipi es krim tersebut. Rasanya memang tidak neko-neko, pas dilidah, tidak terlalu manis dan memang lezat. Ada banyak pilihan rasa disana. Kentalnya suasana kolonial terasa mulai dari bangunan, hiasan dan pajangan, kursi sampai perabot semuanya dipertahankan sejak Toko Oen dibuka tahun 1930. Lagi-lagi, harganya memang berbeda dengan es krim lainnya tapi suasana Toko Oen dan lezat hidangannya tentu tak bisa digantikan apapun (#aseekh). Selain es krim disini juga ada makanan baik rasa Indonesia seperti nasi goreng, gado-gado sampai European food seperti beef steak. Tapi tenang saja bayarnya tetap pakai rupiah kok (hehe)

Terlihat kan suasananya yang berbeda, seperti kembali ke masa kolonial dulu
Makan di museum

Sambutan awal restoran
Nama restoran ini adalah Inggil Resto Museum yang berada di Jl. Gajah Mada tak jauh dari Balai Kota Malang. Saya pun jalan kaki setelah meletakkan kendaraan di banyak parkiran di sekitar Tugu Malang. Dari namanya saja harusnya sudah bisa tahu ya bahwa restoran ini mengusung suasana jawa (istilah Inggil merupakan tatanan tertinggi dalam bahasa jawa). Lalu kenapa museum? Karena layaknya sebuah museum disini juga banyak dipajang benda artistik yang menarik seperti sepeda, piringan, perabot yang mengesankan masa lalu. Ya, jika di Toko Oen kita serasa dibawa kerumah orang Belanda di tahun 30-an, di Inggil Resto Museum suasana jawa tempo doeloe-lah yang lebih kental.

Malam itu saya memesan makanan favorit, ayam goreng dengan sambal lalapan ala kampung (haha doyan banget) dan juga hidangan lainnya. Harga makanannya tidak terlalu mahal, kan suasananya pun sangat berbeda. Ditambah ada sinden dan grup musik yang menemani dengan tembang jawanya, sesekali juga menyanyikan lagu masa kini. Yaah itung-itung bayar buat sewa tempat sama ditemani live gamelan gitu (hehe).


Suasana Jawanya kental sekali, yang lesehan, yang di kursi semua ada plus sinden pengiring di ujung restoran. Lengkap!!!
Jadi, dari ketiga tempat makanan itu sepertinya persamaannya adalah bahwa harganya diatas rata-rata semua ya (hahaha), yaa kapan lagi mumpung ke Malang mungkin tidak ada salahnya coba sesekali. Belum lagi disetiap tempat tersebut banyak hal/cerita uniknya. Mungkin itu yang tidak bisa kita dapatkan ditempat makan yang lain (baca: biasa dan murah). Nah kalau memang mau yang murah saya pernah juga makan di sekitaran UM (Univ. Muhammadiyah) Malang, wah kalau disini banyak yang enak dan juga memang murah. So, please choose :)


Sunday, 9 August 2015

Jatim Park 2 Vs Trans Studio Bandung (coaster)

Sepertinya sudah lama sekali ya sejak terakhir saya membandingkan dua tempat wisata, atau bahkan sejak terakhir saya menulis blog (hehehe maklum cibuk). Lucunya lagi tempat wisata yang akan saya ulas ini juga sudah saya kunjungi berbulan-bulan lalu. Tapi tak apa, semangat menulis terus saya pupuk sampai akhirnya tiba juga waktunya saya mengulas Bandung dan Kota Batu, eits tapi bukan tentang daerahnya ya melainkan hanya theme park yang ada disana. Ada yang tahu?

Sambutan meriah Jatim Park 2
Sebagai pecinta taman bermain atau theme park saya selalu punya keinginan besar untuk bisa merasakan semua wahana yang ada di taman bermain di seluruh dunia (haha berlebihan!) okelah di Indonesia, ini jadi semacam bucket list saya. Nah, seperti sebelumnya ketika membandingkan Rita Park Tegal dan Jungleland Sentul-Bogor kali ini saya juga akan membandingkan dua pengalaman saya ketika bermain di Jatim Park 2 (JP2) kota Batu yang tak jauh dari Malang serta Trans Studio Bandung (TSB).


Museum Satwa disamping si patung gajah diatas :)
Oke, pertanyaan pertamanya adalah apa persamaan Jatim Park 2 dan Trans Studio Bandung? Banyak! Baik JP2 maupun TSB Keduanya sama-sama menawarkan tempat hiburan keluarga. Keduanya berada di kota yang notabene kota sejuk (Bandung masih boleh dibilang sejuk kan ya hehe). Juga punya jagoan sendiri untuk permainan ekstrem. Keduanya sama-sama punya rumah hantu (huhu). Mereka punya akses transportasi yang mudah, TSB persis ada di pinggir jalan raya besar yang dilalui angkot (Jl. Gatot Subroto) sedangkan JP2 juga ada di kawasan wisata utama kota Batu (jl. Oro Oro Ombo) yang juga memiliki akses angkutan umum jadi sangat strategis. Dan yang pasti keduanya memang sama-sama menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari Rita Park dan Jungleland tapi tidak lebih menyenangkan dari Dunia Fantasi di Jakarta. Masih juara lah Dufan ini apalagi sekarang dengan adanya wahana baru Ice Age, wah tambah seru loh! (#okeeeesalahfokus).


Sambuatn gemerlapnya Trans Studio Bandung
Berikutnya dimana letak perbedannya? Bila kita lihat lebih dekat, Trans Studi Bandung menawarkan konsep yang berbeda dari Jatim Park 2. TSB berada di dalam mal (indoor theme park) dan memang jadi satu-satunya taman bermain pertama di Indonesia yang ada di dalam ruangan (bersama dengan Trans Studio Makassar) jadi kebayang kan ademnya di dalam TSB, tak ada sengatan matahari dan tak ada peluh karena antri kepanasan dibawah terik (hehe) jadi buat yang tak suka panas-panasan mesti cocok disini. Tapi disisi lain TSB memiliki luas yang tak sebesar JP2. Luas TSB tak lebih dari 4,2 hektar, bandingkan dengan JP2 yang mencapai 14 hektar. Sangat luas ya JP2 ini. Walaupun Jatim Park 2 memiliki lahan yang lebih luas tapi tidak semua wilayahnya adalah taman bermain (theme park), sisanya dibagi kedalam beberapa area diantaranya Batu Secret Zoo (kebun binatang), Museum Satwa dan Hotel Pohon Inn. Selain areanya yang luas kesemua bagian dari Jatim Park 2 ini sangatlah bagus dan modern, benar-benar memiliki tema-tema yang khas.

Salah satu zona TSB - Lost City - dekorasinya suka lah :)
Okelah tak mau lama-lama membahas hal lain, saya hanya ingin mengenang kembali wahana apa sajakah yang ekstrem di kedua tempat ini? Adakah roller coaster favorit dikeduanya? Mana yang lebih ekstrem? Roller coaster rasanya selalu jadi icon sebuah taman bermain, siapa yang tidak tahu Halilintar di Dufan kan?! Nah di TSB dan JP2 pun masing-masing memiliki coaster yang ternyata sangat berbeda namun pengalaman menaikinya sangat menyenangkan. Trans Studio Bandung memiliki Yamaha Racing Coaster yang merupakan ‘santapan wajib’ pengunjung disana. Inilah juga tujuan utama saya kesana, tapi sayang siang itu ketika saya datang petugas mengatakan angin diluar tengah kencang jadi permainan ditangguhkan dulu, cukup kecewa bahkan khawatir saya tidak akan sempat naik coaster ini. Lalu kenapa ada masalah angin? Ternyata walaupun ini theme park indoor tapi sebagian besar track coaster berada di luar gedung dan dengan ketinggian seperti itu tak heran banyak angin kencang yang akan menerpa apalagi jika kondisi cuacanya buruk dan pastinya berbahaya.

Tutup !! huhu (Eh ada The Doctor)
Ini diaa.. wuussh sensasinya luar biasaahh :) (google.com)
Tak patah semangat, saya kembali mendatangi coaster ini sebelum pulang dan ternyata mereka sudah buka kembali! Beberapa orang bahkan sudah mengantri dan saya pun langsung bersemangat ambil bagian (yeay!!). Trans Studio Bandung mengklaim bahwa Yamaha Racing Coaster merupakan salah tiga dari jenisnya di dunia. Dua lainnya ada di Amerika. Jenis seperti apa? Anda akan dibawa meluncur dari kecepatan 0km/jam sampai 130 km/jam dalam beberapa detik saja untuk kemudian berputar-putar dan terakhir mendaki 90 derajat sampai ketinggian 50 m lalu mundur kembali dengan kecepatan yang sama. Semuanya tak lebih dari 40 detik. Dahsyat kan?! (haha) tapi menyenangkan, teman saya pun yang katanya takut kalau naik roller coaster ternyata bisa suka juga dengan permainan ini. Benar-benar membawa kita melesat cepat plus memacu adrenalin sesaat sebelum coaster jatuh dari ketinggian. Waah pengalaman yang bagi siapapun pencinta permainan ekstrem harus coba. Rugi tak jajal Yamaha Racing Coaster kalau berkunjung ke TSB.

Bagaimana dengan Jatim Park 2? Awalnya saya ragu tidak akan ada coaster yang cukup menyenangkan disini mengingat JP2 bukan untuk wisata theme park saja. Tapi ternyata setelah saya jalan-jalan melewati kawasan Batu Secret Zoo alias kebun binatang paling modern di Indonesia ini (hehe lebay ya, tapi bener loh! kueren banget lah ini bonbin) dengan track yang apik dan bersih kita akan memasuki kawasan taman bermain. Lalu saya teruskan jalan kaki melihat mana-mana saja permainan ekstrem disini. Sampai akhirnya setelah berjalan agak kebelakang sedikit di sebelah wahana Tsunami ada sebuah single coaster bernama Animal Coaster dengan track turun naik saja. Kenapa single? Karena memang hanya satu kereta yang maksimal bisa diisi dua orang, idealnya satu orang. Kenapa animal? Karena motifnya corak binatang semua. Tapi jangan lantas berfikir anak-anak langsung senang dan kita izinkan naik wahana ini karena dijamin mereka takut juga. Saya sendiri takut tapi juga tertawa geli sesudahnya.
Seerruu!! Durasinya pun lebih lama dari coaster manapun jadi puas hehe
Saya membujuk teman saya untuk mau naik satu kereta berdua karena teman saya pun takut juga (hehe). Saya takut karena saya belum pernah naik single coaster (di Indonesia pun jarang sekali) tapi sangat penasaran ditambah coaster ini tak setinggi Yamaha Racing Coaster ataupun Halilintar. Disini jauh lebih rendah. Akhirnya teman saya pun bersedia. Kami naik satu kereta berdua. Disana ada beberapa kereta yang dioperasikan dengan jeda waktu tertentu (jangan sampai tabrakan ni). Lalu kami pun naik menunggu giliran.

Track awal adalah menanjak. Saya merasa tidak aman sekali disini karena tidak ada safety equipment yang benar-benar menutup badan kita seperti di coaster lain, hanya tali di pinggang (tapi buat apa juga ya?! kan turun naik aja hehe). Setelah menanjak, kereta akan turun melaju mengikuti track yang melingkar sehingga membentuk belokan tajam yang membuat saya seperti mau terlempar keluar track (serius ini, takut banget!!) tapi ternyata keretanya kuat, lalu belok lagi terus menerus seperti membentuk angka 8 dan seperti biasa disetiap belokan tajam badan saya seperti akan terhempas tapi tak jadi (huhuhu). Kemudian track akan menemukan turunan tajam berkali-kali seperti bukit yang sukses membuat siapapun teriak geli dan takut karena walaupun tak seberapa tingginya tapi kecepatannya lumayan juga memberi efek ‘jantung copot’. Kami pun turun dengan tertawa tak henti-henti karena geli, takut dan puas.


Ini tanda kita sudah memasuki area taman bermain di JP2
Seru ya kedua coaster ini? Siapapun harus coba dan rasakan sensasi adrenalinnya. Saya senang banyak taman bermain di Indonesia yang memiliki wahana ekstrem (hahay). Kalau saya berkesempatan main kesana lagi pasti saya akan menyambangi Yamaha Racing Coaster dan Animal Coaster. Hanya satu yang tak akan saya kunjungi lagi yaitu wahana rumah hantu di Jatim Park 2, namanya Horor House (!?!!). 

Di Trans Studio Bandung pun saya sebetulnya (dipaksa) masuk rumah hantu tapi ya disana  normal saja seperti wahana rumah hantu lainnya. Kita akan duduk manis di kereta yang berjalan menelusuri tempat-tempat menyeramkan yang membuat durasinya jelas. Tapi di Jatim Park 2 ini lain cerita, kita diminta jalan kaki bawa senter per grup, ada jeda waktu masuk per grupnya jadi sepi sekali di dalam. Lalu mulailah kita masuk ke rumah gelap yang punya backsound menyeramkan dan ornamen hantu di kiri, kanan, atas, bahkan lantai. Semuanya mengagetkan dengan durasi tak tentu tergantung kita apakah memilih jalan, diam karena ketakutan atau bahkan berlari saja. Tapi saya sih jalan saja tanpa teriakan karena mulai dari masuk sampai keluar mata saya terpejam hanya modal pegang pundak kawan (hahay) jadi semua yang saya tulis tadi itu diceritakan kawan saja (hehe tak tahu sama sekali isi rumah itu). Salam ekstrem.


Sunday, 26 July 2015

Sangiran, another world heritage

Di masa sekolah dulu pasti kita diajarkan mengenai teori evolusi yang digagas oleh Charles Darwin, betul kan?! Singkatnya teori ini menjelaskan bagaimana suatu makhluk (contoh tenarnya kera/monyet) kemudian berevolusi, berubah bentuk menjadi manusia (baik karena kebetulan maupun seleksi alam) sehingga tercipta bentuk seperti sekarang ini.

Nah, buat siapapun yang tertarik mengenai informasi-informasi tersebut pasti akan senang jika berkunjung ke Sangiran, sebuah daerah di utara kota Solo yang merupakan situs arkeologi manusia purba terlengkap di Asia. Beberapa bulan lalu saya pun berkesempatan mengunjungi daerah yang terletak di kaki Gunung Lawu ini. Jaraknya sekitar 30 menit berkendara dari Solo. Wilayah Sangiran luasnya mencapai 56 km2, tentulah akan sangat memakan waktu jika kita ingin benar-benar menjelajahi mana-mana saja daerah penggaliannya. Nah, untuk bisa mengetahui semua informasi tentang Sangiran tapi juga menghemat waktu, datang saja ke museumnya yang sudah sangat lengkap. Museum Manusia Purba Sangiran namanya.
Gerbang masuk museum (difoto pas pulang haha)

Di museum ini ada sekitar 13 ribu fosil purba yang terlengkap di Asia. Selain nampak baru dan megah, museum Sangiran memang memberikan banyak kontribusi untuk dunia arkeologi, geologi, palenthologi sampai biologi. Karena itu hingga saat ini banyak penelitian yang masih dilakukan di wilayah Sangiran dan bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan. Pada tahun 1996 situs ini dimasukkan kedalam daftar warisan budaya UNESCO (world heritage list). Yuhuu, akhirnya tambah lagi daftar warisan dunia yang saya kunjungi (hehe).

Siang itu, sesampainya di kawasan museum saya disambut oleh gerbang yang menyerupai gading gajah (atau itu tanduk ya hehe) yang sangat besar. Memasuki latar parkir, terlihat ramai bus-bus pariwisata dari berbagai daerah. Anak-anak sekolah rapih berbaris bersiap memasuki kawasan. Sekilas saya pandangi kawasan ini memang besar dengan bangunan yang modern. Sempat susah juga cari parkir karena banyaknya bus dengan lahan parkir yang tidak begitu luas. Oia, menuju Sangiran tidak ada angkutan. Jadi bawalah kendaraan sendiri ataupun sewa mobil/motor.

Adik-adik pencinta museum :)
Tiket masuk museum ini terbilang murah. Dengan banyaknya ruang pameran serta audio visual yang bisa dinikmati, tiket yang tak sampai 10 ribu pun benar-benar bisa membuat siapapun mau datang. Ini benar-benar harga yang menyenangkan (hehe). Rasanya saya mau saja ikut jadi bagian rombongan tur anak sekolah tadi, supaya bisa curi dengar penjelasan sang pemandu, tapi niat pun tak cukup, melihat ramai dan bisingnya mereka akhirnya saya berjalan sendiri saja (hadeeuhh).

Penjelasan mengenai apa-apa saja zaman yang ada sebelum masa sekarang ini (zaman Jurasik atau Triasik) lalu tokoh-tokoh evolusionis, hewan-hewan purba yang ada di Sangiran sampai bagaimana pulau Jawa terbentuk dijelaskan di dalam ruang-ruang apik dan menarik. Patung-patung yang menunjukkan bagaimana rupa manusia purba yang dibuat oleh arkeolog terkenal pun terpajang dengan sangat baik, tak lupa fosil asli dari manusia jawa atau pithecantropus erectus. Jadi, bagi sesiapa saja yang senang atau tepatnya cukup percaya dengan manusia purba ini mungkin akan tertarik berkunjung ke Museum Sangiran.



Interior museum yang megah dan modern, siap-siap turun naik (hehe)
Terlepas dari itu semua, terlepas dari pandangan saya pribadi yang tidak percaya bahwa nenek moyang saya adalah kera/monyet (hehe) saya cukup suka mengunjungi museum ini. Tata bangunan yang apik dan megah terasa nyaman dan menyenangkan, semoga Museum Sangiran selalu bisa memberikan informasi dan memajukan dunia arkeologi Indonesia yang seakurat mungkin. Ayo kunjungi museum.

Sunday, 9 February 2014

Kemana saja 5 jam di Sukabumi?



Selabintana (www.google.com)
Perjalanan menggunakan KA Pangrango dari Bogor menuju Sukabumi ternyata memberikan ‘waktu kosong’. Kereta pulang saya masih 5 jam lagi di jam 3 sore nanti. Sengaja saya pesan sore, supaya bisa sedikit jalan-jalan di Sukabumi walaupun niat awal saya hanya ingin merasakan sensasi naik kereta baru KA Pangrango (baca : Menilik Gede-Pangrango dari KA Pangrango). 

Jadi mau kemana nantinya di Sukabumi? Itu yang saya dan teman-teman diskusikan di dalam gerbong eksekutif KA Pangrango (asekh, sombong dikit ah haha). Pilihannya sih mau cari Moci yang jadi oleh-oleh andalan Sukabumi, ke sekitaran Gunung Gede seperti Selabintana atau hanya jalan-jalan di sekitar kota. Sampai akhirnya Ardi menawarkan pilihan yang cukup menarik. Mau ke Situ Gunung nggak? Boleh lah pikir saya dan untuk itu kami harus turun di stasiun Cisaat, tepat sebelum stasiun Sukabumi.

Cisaat, bukan penampakan stasiun baru seperti halnya stasiun Paledang di Bogor. Setidaknya itu yang saya lihat. Bangunan stasiun bercat putih kusam berpadu coklat tua dengan dua lajur rel saja seperti menyiratkan ‘umur’ stasiun atau tepatnya trayek Bogor-Sukabumi yang tidak bisa dibilang baru. Dari yang saya baca, rute ini termasuk tahap pertama yang dibangun Hindia Belanda dalam periode tahun 1875-1888. Trayek Bogor-Sukabumi sendiri dibangun setelah rute Batavia–Buittenzorg (Jakarta-Bogor) di tahun 1880. Tuh, tua sangat kan? Rel dan keretanya sendiri kerap berganti sebab perbaikan.

Friday, 7 February 2014

Menilik Gede-Pangrango dari KA Pangrango



Suatu Minggu niat ingin keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan, kaki saya menuntun arah ke selatan Jakarta menuju Bogor. Mungkin saya rindu juga akan kota hujan itu, tempat saya selama 5 tahun mengarungi kerasnya kuliah (Ahaha... lama!). Tapi tidak hanya mentok di Bogor, sebetulnya saya punya niat yang sempat tertunda, yaitu menikmati kereta baru menuju Sukabumi yang berangkat dari Bogor.

St. Bogor (wuisshh!)
Waktu itu, sebelum jam 10 pagi KRL saya sudah sampai di stasiun Bogor. Juga kaget melihat stasiun ini semakin luas dan ramai. Perjalananan diteruskan dengan berjalan kaki menuju stasiun Paledang yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja. Kereta menuju Sukabumi memang bukan berangkat dari stasiun Bogor. 

Stasiun Paledang yang baru dibangun ini terlihat cukup rapih dan bersih hanya tempat membeli karcis dan juga peron tempat menunggu terbilang kecil. Kala itu tulisan tangan diatas kertas yang ditempel dikaca loket karcis mengecawakan saya (meski sebetulnya saya tidak terlalu terkejut). Tiket habis. Antusias masyarakat sudah pasti besar terhadap KA Pangrango yang beroperasi sejak November 2013  ini, karuan saya tak kebagian tiket di akhir pekan itu. Dengan tiket yang terjangkau berkisar 15-50 ribu plus pemandangan yang sudah pasti indah, siapa yang menolak ketimbang menggunakan bus atau colt yang ngetem lama. Petugas tiket bilang memang biasanya tiket di akhir pekan sudah pasti habis. Belakangan saya tahu dari Ibu penunggu toliet hari-hari yang sepi hanya Selasa-Rabu. Akhirnya rencana Sukabumi pun harus tertunda lagi.

Sunday, 24 November 2013

Sunrise Puncak Lawu : Cemoro Kandang



“Besok katanya si ada rombongan trail mau naik ke atas Mas, mungkin 50 ada tuh”

Itu yang Bapak pemilik warung ucapkan di malam ketika kami numpang menginap. Ucapan seiring doa untuk turut meramaikan warungnya esok. Dan pagi harinya selagi kami masih di gubuk, bukan motor trail yang kami lihat tapi puluhan Bapak-bapak TNI yang sedang ‘wisata’ naik ke puncak Lawu. Latihan mungkin. Bahkanmereka berangkat dari subuh. Ada juga trail tapi rasanya tidak akan sampai ke atas dan tidak sampai 50 (emang mau ngojek hehe). Jam 8 pagi kami melanjutkan pendakian, meninggalkan POS 1 seraya pamit dan mengucap banyak terima kasih ke Bapak Ibu pemilik warung (Duh, lupa tanya nama).

Istirahat dulu di POS 3. lanjut nanjak lagi!!
Seiring waktu, kontur jalan rasanya semakin naik tajam, jarang saya temukan jalan mendatar padahal saya mengharapkan sesuatu yang mendatar barang sejenak tapi memang begitulah ketika kita ambil jalur Cemoro Sewu. Jalur ini memang terus naik tapi lebih pendek dibandingkan jalur Cemoro Kandang yang relatif datar tapi panjang karena memutar jadi memakan waktu lebih lama. Di perjalanan kami menikmati pemandangan yang sangat indah. Tumbuhan khas pegunungan seperti edelwise ada dimana-mana tapi yang paling indah memang melihat kumpulan awan putih yang ada di bawah kita. Udara memang semakin tipis dan dingin tapi kami masih harus bergerak justru supaya terasa lebih hangat.

Saturday, 16 November 2013

Sunrise Puncak Lawu : Cemoro Sewu


Menantikan Tawangmangu!
Rencana, kita memang hanya bisa berencana tapi akhirnya siapa yang tahu juga (ngomong apa ya hehe). Pendakian ke Gunung Lawu semula direncanakan oleh tiga orang, saya dan dua teman kantor, tapi ternyata takdir berkata lain (cieh) hanya saya dan Ardi yang bisa merasakan sensasi di atas awan itu. Yup, Gunung Lawu dengan ketinggian 3265 m dpl katanya benar-benar bisa membuat kita merasakan sensasi di atas awan. Tapi hanya dua orang menuju puncak itu cukup terdengar mengerikan, kalau kami berdua sakit, kalau ada apa-apa, apalagi gunungnya jauh lebih tinggi dari Gn. Pangrango yang pernah saya daki sebelumnya (amatir euy). Bismillah...

Cuti dua hari dari kantor sudah disiapkan, tiket kereta Jakarta-Solo PP pun sudah dipesan satu bulan sebelumnya (untuk tiga orang bahkan hehe). Jumat sore kami sudah tiba di Stasiun Senen setia menanti KA Brantas, kereta api ekonomi yang sekarang sudah difasilitasi pendingin tapi tetap murah karena dapat subsidi. Untuk harga Jakarta-Solo PP kami hanya mengeluarkan biaya 125 ribu per orangnya (jadi pengen naik kereta kan!). Nah, dari Solo rencananya kami akan naik bus menuju Tawangmangu untuk selanjutnya ke daerah Cemoro Sewu dan disanalah titik pendakian dimulai.

Saturday, 18 May 2013

Jalan kaki jalan-jalan

Mendaki tebing @Bromo
Berjalan kaki di padang savana Bromo kemarin membuat saya mengingat kembali betapa sebetulnya ‘jalan kaki’ menjadi kegiatan tak terhindarkan di setiap saya menjelajahi kota-kota di Indonesia (lagaknya kayak udah banyak yang dikunjungi hehe). Dan saya yakin banyak traveler yang juga pasti (mau) berjalan kaki menjelajahi tempat menarik, terlebih hubungan antara tempat eksotis dan kurangnya akses biasanya berbanding lurus. Semakin tak terjamah suatu tempat wisata maka semakin menarik dan semakin minim akses menuju kesana yang biasanya memaksa traveler berjalan kaki. Contoh naik-naik ke puncak gunung (yaiyalah). Selain terpaksa karena minim transportasi, alasan memutuskan jalan kaki pun beragam. Bagi saya menikmati lingkungan sekitar sepanjang jalan cukup membuat saya mau berjalan kaki jauh yang biasanya berimbas (positif) pada penghematan budget. Atau alasan ekstrem saya karena takut ‘kebablasan’ kalau naik angkutan yang akhirnya ‘sok-sok’ kuat jalan kaki beriringan dengan angkutan di jalan raya yang liar.

Dua 'kisanak' selalu berkelana @savana Bromo
Memori pertama kali saya berjalan kaki jauh adalah sewaktu kuliah dulu menemani seorang teman menyusuri pantai. Bukan untuk senang-senang, melainkan tuntutan tugas akhir (skripsi) yang membuat kami harus memetakan (tracking) titik-titik di pinggir pantai Cilacap setiap 100-200 meter dengan GPS, sejauh hampir 20 km! Sebetulnya bisa saja naik becak, sewa motor atau lainnya. Tapi akhirnya kami memutuskan berjalan kaki dengan alasan menikmati pantai dan pemandangannya ditambah (sekali lagi) kondisi keuangan (mahasiswa kan!).

Sunday, 5 May 2013

Ferris wheel di alun-alun Batu


Kembali lagi ke Malang. Mungkin harusnya itu judul yang tepat ya, mengingat sudah tiga kali saya mengunjungi kota ini disaat sebetulnya budget bisa dianggarkan ke kota lain (hehe Indonesia punya ratusan kota wisata kan?) tapi memang tak ada habisnya jalan-jalan di Malang terutama kota wisata Batu. Merencanakannya pun lebih baik tidak sekedar ‘mampir’ seperti perjalanan saya sebelumnya, pertama kali berkunjung ke Malang cuma mampir dari pagi sampai siang (baca wisata alam sampai theme park Malang ), yang kedua lebih singkat hanya 2 jam ‘malem-malem’ di BNS theme park (baca keseleo di Malang). Nah, yang terakhir ini saya tinggal sedikit lebih lama yaitu setelah perjalanan ke Bromo. Sengaja merencanakan pulang ke Jakarta dari Malang jadi saya bisa menginap semalam di Batu (ambigu !?@#$!).

Terminal Probolinggo (dishubprobolinggokota.net)
Mencari bus menuju Malang di terminal Probolinggo sangat mudah, banyak bus besar yang siap mengantar. Saya dan teman-teman memilih bus kedua demi mendapatkan bangku kosong paling belakang mengingat bawaan yang ‘gede-gede’ dari Bromo. Walaupun bus ini urutan kedua jalannya saya tidak khawatir karena di terminal ini ternyata bus tidak ‘ngetem’ berlama-lama (penuh/kosong tetap jalan). Rasanya ingin bilang “Bagus Pak! nanti rezekinya ada dijalanan” hehe dan ternyata benar! cukup banyak penumpang naik di kota-kota yang dilewati seperti Pasuruan, Purwosari, Purwodadi maupun Lawang. Beberapa diantaranya mahasiswa mengingat hari ini Minggu dan banyak yang akan kembali melanjutkan kuliahnya di Malang yang memang memiliki banyak universitas.

Sunday, 7 April 2013

Menikmati savana tanpa hardtop

Ramainya turun gunung. Cloudy savanna here we come :)

Hardtop memang sepertinya jadi pengantar utama ketika kita ingin menikmati berbagai tempat menarik di Bromo. Selain kontur jalan yang berpasir, secara jarak katanya tempat-tempat ‘populer’ berada cukup jauh satu sama lain seperti Penanjakan (tempat melihat sunrise), kawah Bromo, padang savana, Bukit Teletubies dan Pasir Berbisik. Tapi bila dilihat lagi, sebetulnya Kawah Bromo ke Padang Savana tidaklah terlalu jauh. Toh si mobil 4WD itu tidak benar-benar mengantar kita ke tempat tujuan, yang artinya harus jalan kaki juga malah lebih banyak jalannya.

Mulailah berjalan kaki !!
Nah, atas dasar inilah, ditambah penginapan saya yang dekat pintu masuk, dan setelah memetakan jalur untuk berjalan kaki (hehe) akhirnya saya bertiga memutuskan untuk tidak ikut hardtop rombongan pulang setelah dari kawah Bromo (bayarnya si tetep PP hehe). Tidak perlu dulu lah menuju Bukit Teletubies ataupun Pasir Berbisik, saya lebih ingin menikmati padang savana, menikmati awan-awan rendah diatasnya dan angin gunung yang sejuk dengan berjalan kaki tanpa terburu waktu.

Pura Luhu Poten, banyak kuda lari kenceng, mantep!
Oia, di padang pasir kaki Gunung Bromo, ada sebuah pura hindu yang terlihat sangat eksotis berbalut kabut, apalagi ketika melihatnya dari atas. Indah sekali berlatar deretan bukit hijau. Pura ini biasa dijadikan tempat upacara Kesodo (Yadnya Kasada) bagi umat hindu. Gunung Bromo memang jadi gunung suci bagi umat hindu suku Tengger. Saya datang tidak jauh setelah perayaan Galungan, jadi banyak sekali umbul-umbul (disebutnya penjor) di depan setiap rumah, seperti ikut merasakan bagaimana Bromo (Brahma) menjadi sangat berarti bagi mereka, menjaga mereka, memberikan hidup untuk mereka. Upacara Kesodo sendiri dilakukan setiap bulan kesepuluh kalender Jawa, kalau menurut hitungan saya, tahun ini datanglah di sekitar bulan Agustus -September saat purnama. Kesodo akan berlangsung dari tengah malam hingga dini hari.

Thursday, 4 April 2013

Sunrise di puncak Bromo

status Bromo : Waspada
Pukul tiga dini hari, salah satu teman membangunkan saya untuk segera bersiap ‘menangkap’ matahari terbit. Tanpa sleeping bag, udara dingin khas pegunungan meresap ketubuh membuat hidung tak pamit-pamit untuk bersin. Rasanya semalam, penginapan murah ini tidak terlalu dingin apalagi kami tidur sekasur bertiga, ditambah keyakinan bahwa ternyata Bromo tidak sedingin Dieng. Tapi akhirnya jaket dua lapis tetap saya pakai untuk melawan udara luar yang lebih dingin.

angkutan utama di kawasan Bromo
Setengah empat, Mas Bahrim, kenalan kami di perjalanan belum juga bangun padahal dialah juru kunci kami untuk mendapatkan hardtop, kenalan kami yang lain pasangan suami istri dari Malaysia malah sudah terlihat membersihkan diri. Rencananya kami bertujuh akan menyewa satu hardtop dengan rute langsung ke kawah Bromo, bukan rute kebanyakan orang ketika ingin menangkap sunrise. Setelah kami bangunkan Mas Bahrim ternyata kami masih harus menunggu temannya yang belum bersiap-siap, teman saya sudah gelisah takut ketinggalan sunrise karena rasanya kami akan jalan cukup jauh ditambah banyaknya iringan hardtop yang melintasi kami seakan menyampaikan pesan “ayo buruan... tar ketinggalan loh!” yang membuat saya juga ikut pusing karena si hardtop tak kelihatan moncong besinya.

Pukul empat pagi, kendaraan kami datang. Sebelumnya disepakati angka 200 ribu untuk menuju Kawah dan kembali ke penginapan. Itulah untungnya punya kenalan yang berdarah Madura, tawar teruss!! karena di Bromo ternyata banyak sekali penutur madura, mungkin pendatang atau memang jadi bisa berbahasa madura. Pantas, saya yang cukup familiar dengan bahasa jawa kesulitan sekali mengerti pembicaraan mereka “ini bahasa jawatimuran ya? kok gak ngerti...apa madura ya.. atau Bali” pikir saya. Biasanya dengan rute kebanyakan, tiga sampai lima tempat wisata (penanjakan – kawah – bukit teletubies – padang savana – pasir berbisik) akan dikenakan biaya antara 600 – 750 ribu rupiah. Tapi kawah bromo adalah intinya dan kami ingin melihat kawah dengan jelas saat sunrise, karena katanya kalau lebih siang kawah ini susah terlihat karena sudah banyak asap. Tapi kalau memang ingin melihat sunrise dengan latar Gunung Bromo, Gn. Batok sampai Gn. Semeru seperti yang ada di banyak foto promosi Bromo, kita bisa menuju Penanjakan terlebih dahulu.

Wednesday, 17 October 2012

Pantai Matras Bangka atau Baron Jogja?


Ketika memutuskan untuk mengunjungi Bangka di Mei 2012 lalu, yang saya fikirkan adalah jalan-jalan kali ini harus ke pantai,yup pantai yang bagus. Lalu kenapa tidak ke Belitung? Selain karena penerbangan yang jarang dan hampir semua full waktu itu, juga saya berfikir tak ada salahnya melihat dulu Bangka karena pasti indah dan kalau memang Belitung lebih indah seperti kata orang maka saya akan sangat penasaran dan pasti akan kembali untuk menikmati Belitung. 

Nah, beberapa bulan sebelumnya saya juga sempat mengunjungi Jogja, dari beberapa kali jalan-jalan saya ke kota itu baru di Februari 2012 itu saya menjelajah selatan Jogja. Yup, pantai Jogja. Lanskap daerah selatan Jogja penuh dengan perbukitan, jadi jalanannya ya turun naik meliuk bikin pusing, tapi indah karena hijau dan bisa melihat lembah dan pemukiman dibawahnya. Dan dibalik bukit itulah terdapat pantai-pantai selatan yang menakjubkan.

di pantai Baron juga terdapat pertemuan dengan muara sungai
Rombongan ke Jogja kali ini lebih banyak orang, karena ceritanya lagi reunian teman kantor jadi banyak teman-teman dari kota lain, dan karena itulah lebih enak dan ringan untuk sewa mobil hehe. Tidak kurang dari dua jam perjalanan, kami sampai di pantai pertama. Pantai Baron.
 
Di pantai Baron banyak perahu nelayan yang berlabuh, beberapa dari mereka terlihat sibuk membereskan jalanya. Sedikit berbeda dengan pantai selanjutnya yaitu Kukup, yang jarang terlihat nelayan karena sepertinya pantai ini lebih terjal. Ciri khas pantai-pantai di selatan Jawa atau barat Sumatera yang berhadapan dengan Samudera Hindia adalah pantainya yang terjal, dengan air yang biasanya berwarna coklat dan ombak yang besar, tengok saja Mentawai di barat Sumatera yang menjadi salah satu arena surfing terbaik di Indonesia bahkan dunia. Nah, tapi enaknya pemandanganya biasanya indah, dengan tanjung atau bukit di sekitarnya jadi kita bisa menikmati pantai dan laut dari atas tebing seperti di pantai Kukup ini yang hanya beberapa menit saja dari Baron.

hati-hati yang takut ketinggian :) ataupun takut melihat ombak besar saling bergulung

Saturday, 28 July 2012

Sunrise Dieng dan Ruwatan Rambut Gembel


Dieng Culture Festival hari kedua. Hari yang paling menarik. 
Pukul setengah lima pagi kami sudah dibangunkan untuk mengikuti kegiatan pertama, melihat terbitnya matahari dari puncak bukit. Waw, langsung semangat karena selama traveling saya belum pernah benar-benar serius mengikuti acara nonton sunrise alasannya kalau bukan ngantuk pasti karena terlalu dingin apalagi kalau lagi naik gunung (banyak alasan ya). Tapi kali ini harus diniatkan dan bersungguh-sungguh (hehe)!! Katanya Dieng terkenal dengan dinginnya, eh ternyata betul! Dingin airnya menusuk kulit, ampunn!! Jadi tak perlu mandi langsung pasang jaket dua lapis. Semua orang di Bluwek coffee -nama penginapan saya- sudah siap. Teman-teman mahasiswa dari Jogja memang bawa mobil sendiri. Kami? Ternyata sudah dipinjamkan motor. Yap, harus menerjang dinginnya Dieng subuh-subuh pakai motor!! Jaket dua lapis mungkin sedikit membantu tapi saya tak punya persiapan seperti sarung tangan atau masker, jadilah tangan beku mulut kering akibat kekibas angin dingin. Si Ardi malah pakai celana pendek (hehe) tancapp gan!! 

bintang di langit subuh Dieng
Kurang lebih 20 menit perjalanan yang menyiksa -karena menahan dingin- kami sampai di tempat parkir untuk kemudian melanjutkan berjalan kaki sekitar 1 km mendaki bukit. Dan sudah ada banyak sekali mobil dan motor bahkan mini bus, wisatawan yang berjalan kaki juga tak kalah banyak. Jalanan menuju puncak bukit pun antre. Eh sepanjang mendaki saya masih bisa melihat bintang di langit biru subuh ini, indah sekali. 

Ada dua puncak yang dijadikan posisi terbaik melihat matahari terbit, yang masing-masing dapat menampung 100-200 orang. Karena saya bukan yang pertama datang (bayangkan harus datang lebih awal, Brrrr) maka setiap puncaknya pun sudah terlihat penuh. Persis dibawah salah satu puncak saya mencari posisi yang pas, bersama teman-teman pendaki lain memandangi semburat kuning di timur langit yang memanjang persis didepan mata kami dan menunggu hingga akhirnya bintang besar itu muncul. Memang betul, sangat indah melihat matahari terbit, melihat bukit-bukit dibawah kami yang mulai terpapar sinar dan mengikuti hilangnya bintang karena langit beranjak terang.

Monday, 9 July 2012

Dieng, keindahan alam dibalik si rambut Gembel

Dua anak laki-laki duduk persis disebelah saya di deretan tempat duduk paling belakang, cukup jauh diluar jangkauan kedua orang tuanya. Sang kakak terlihat selalu sigap menjaga dan memperhatikan adiknya yang saya rasa umurnya hanya terpaut beberapa tahun saja. Sikap dewasa-dini yang muncul karena terdesak keadaan dan berhasil membuat saya tersenyum sendiri, kagum (hehe), maklum bus ekonomi non-AC Putri Jaya yang kami tumpangi kondisinya memang tidak begitu menyenangkan bagi anak-anak ini. Bayangkan banyaknya mereka yang merokok sepanjang perjalanan sampai dua buah motor yang dengan sukses berhasil diangkut masuk kedalam bus yang posisinya persis didepan saya dan anak-anak tersebut. Mantap!!

Panitia adat melakukan persiapan
di pelataran Candi Arjuna
Mungkin nasib keluarga ini sama seperti saya yang sebelumnya tidak pernah terpikir bakal join dengan Putri Jaya, tapi untuk langsung menuju Wonosobo malam itu kami memang kehabisan bus. Padahal saya dan seorang teman kantor sudah bekerja keras mulai dari izin tango alias ‘teng’ langsung ‘go’ jam enam sore sampai cari taksi di Jumat malam yang ternyata susahnya minta ampun! Dan akhirnya disinilah kami, pukul sembilan malam tepat Putri Jaya meluncur dari Pulo Gadung menuju Purwokerto, salah satu kota transit untuk kemudian menuju Wonosobo lalu Dieng. Ya, tujuan kami adalah mengikuti acara kebudayaan tahunan Dieng yang kali ini memasuki tahunnya yang ketiga (Dieng Culture Festival III). Akan ada banyak pagelaran seni budaya mulai dari tari topeng, barongsai, minum Purwaceng bersama, pertunjukan wayang kulit sampai ritual pemotongan rambut gembel yang fenomenal itu. Bakal seru!!


Tuesday, 12 June 2012

Jakarta is Us

Belum pas rasanya kalau belum cerita tempat-tempat wisata menarik versi saya di Jakarta karena bagaimana pun selama 14 tahun saya di Jakarta Depok, saya tetap cinta Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang dari ‘orok’ harusnya lebih cinta dan peduli ya (pastinyaaa).

Jalan-jalan kemana saja di Jakarta? Banyak!!! Semua ada, kita bisa menikmati wisata kuliner yang saya rasa makanan khas sa Indonesa ada, wisata belanja sudah karuan banyak, mau theme park tinggal ke kawasan Ancol atau Taman Mini Indonesia Indah, wisata alam salah satu pilihannya ada di Pulau Seribu, wisata sejarah dan budaya seperti museum pun tersedia atau sekedar keliling kota menikmati ‘panorama’ modern sang ibu kota negara juga bisa. Transportasi menuju tempat tersebut juga cukup beragam seperti kereta listrik (KRL), Transjakarta Busway maupun angkutan umum lain, atau mau pakai kendaraan pribadi pun silahkan.

Mungkin sulit mendapatkan info bagaimana menuju suatu tempat wisata apalagi yang tidak begitu populer.  Informasi resmi yang terintegrasi antara tempat wisata dan moda transportasinya memang belum maksimal, dan biasanya cara paling baik menurut saya tanyalah warga sekitar atau googling saja (hehe). Beberapa tahun lalu, Transjakarta sudah menyediakan peta di setiap shelter-nya yang menunjukkan beberapa kawasan wisata Jakarta dipadukan dengan jalur atau koridor busway yang dilewati, hal ini cukup membantu wisatawan dan mungkin malah membuat beberapa warga memilih Transjakarta sebagai transportasi untuk jalan-jalan (daripada macet mungkin). Semoga diimbangi dengan pelayanan yang semakin baik.

Monday, 9 April 2012

Bandung, The Beauty of Her

Sepeda motor melaju menuju kawasan Soreang, menawarkan pemandangan dan udara yang jauh lebih segar dari perkotaan. Sebagai salah satu ‘kampung’ masa kecil saya, melihat Bandung sekarang ini memang jauh berbeda dengan 13 tahun silam. Daerah selatan maupun utara Bandung akhirnya menjadi alternatif wisata bagi anda yang juga mencari keindahan alam. Beranikanlah juga memilih moda transportasi yang lain seperti sepeda motor, pas sekali berdua dengan si dia ‘melarikan diri' memecah padatnya kota menemukan romantic hideaways anda sendiri.
 
Terus mengarah ke selatan Bandung mendekati Ciwidey, sepeda motor sewaan kami mulai menemukan tantangannya. Kontur jalan berbukit yang naik turun dan berkelok-kelok membuat ia harus ekstra kerja keras mengingat penumpangnya yang yaa.. agak berat ni (hehe). Pemandangan-nya tentu tidak mengecewakan, sawah sampai hutan pinus yang indah akan banyak dijumpai. Kawah Gunung Patuha adalah tujuan kami. Kawah ini sering disebut sebagai Kawah Putih karena permukaannya yang berbatu dan berpasir putih. Air kawahnya yang berwarna terang dapat berubah-ubah serta memunculkan kepulan asap putih. Banyak pohon-pohon yang bagi saya sangat eksotis, hitam, beberapa diantaranya meranggas menyisakan sepi pada cabang-cabangnya memagari sekeliling kawah menampilkan padanan yang terasa sunyi tapi indah.