Showing posts with label pantai. Show all posts
Showing posts with label pantai. Show all posts

Monday, 15 August 2016

Mau ke hutan mangrove PIK? Mudah kok!


Total area disini mencapai 99 hektar! 
Sudah baca tulisan saya mengenai tempat-tempat wisata di Jakarta? (baca: Jakarta is us) Mungkin harusnya tulisan itu saya update ya mengingat beberapa tahun belakangan ini Jakarta memiliki satu tempat wisata lagi yang tengah di ‘gandrungi’ baik oleh muda-mudi maupun keluarga. Tapi saya malas edit-edit tulisan lama jadi ya buat baru saja (ahaha).

Oke, pertama kita kenalan dulu. Nama resmi wisata baru ini adalah Taman Wisata Alam Pantai Indah Kapuk. Sesuai namanya taman ini ada di daerah Glodok (ehehe) bukan ya, ada di PIK, Jakarta Utara. Beberapa orang menyebutnya dengan wisata hutan mangrove PIK. Mungkin karena memang mangrove lah hiburan utama di tempat ini. Tapi ternyata tidak hanya mangrove loh, mungkin itulah sebabnya pengelola tidak memberikan ‘embel-embel’ mangrove di plang pintu masuk karena disini kita bisa melakukan banyak hal lainnya seperti menanam mangrove, foto mangrove, mengamati hutan mangrove (ehehe mangrove-mangrove juga) oke-oke selain itu kita juga bisa mengamati burung-burung, ‘bersampan’, menginap, outbond, sampai menikmati pantai ala PIK (hehe). Banyak kan!?

penanaman bibit mangrove oleh pengunjung
Berikutnya bagaimana cara kesana? Terutama dengan kendaraan umum? Untuk yang mau naik mobil pribadi sih gampang ya, tinggal merem juga sampe (ehehe sampe mana?!). Bagi yang ingin coba naik kendaraan umum kita bisa ambil rute busway Monas-PIK yang berangkat mulai dari halte Monas dan akan melewati beberapa halte seperti Kota, Penjaringan, Pluit sampai berhenti di PIK. Bus biru kecil bertuliskan Transjakarta ini akan mengantarkan kita tanpa biaya tambahan (jadi tidak ada lagi buskota terintegrasi busway atau BKTB yang berbayar), tapi memang karena armada belum begitu banyak dengan rute yang cukup panjang maka waktu tunggu bus ini akan jauh lebih lama dari bus reguler. Sabar-sabar ya.

Kala itu saya coba menunggu bus di daerah Mangga Besar yang menuju arah Kota. Setelah menunggu hampir 30 menit bus itu akhirnya datang juga. Percayalah menunggu lebih baik daripada harus naik angkot berpindah-pindah belum ‘ngetem’ dan panasnya (ehehe PIK bo!). Tidak usah khawatir turun dimana, jika memang tujuannya hutan mangrove maka kita akan diturunkan sesaat sebelum perhentian akhir (Halte PIK), pastikan bus sudah melewati Rumah Sakit PIK dan menuju gedung megah sekolah Tsu Zhi yang seperti di China itu dan disanalah kita turun. Atau sudah lah gampangnya nanti mas busway pun akan teriak dengan lantangnya “ya yang mangrove.. mangrove!” seperti yang saya alami waktu itu, dan saya pun turun beserta sekitar 10 orang lain (banyak ya yang mau kesana).

Lalu berjalanlah mengikuti kesepuluh orang tadi (ehehe itu kalau saya), ikuti saja petunjuk yang ada atau berjalan ke arah sisi belakang gedung dimana wisata mangrove berada. Dan kalau sudah melihat plang bertuliskan nama resmi wisata itu berarti sudah sampai. Panas menjadi teman yang tidak akan lepas sepanjang jalan, mulai terasa seperti di pantai ya. Jalannya tidak jauh kok.

Setelah membayar tiket 25 ribu per orang, kami mulai memasuki kawasan. Dari yang saya baca saat ini kondisi taman wisata sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan yang saat itu saya lihat memang sebuah taman yang sudah didesain dengan baik dan rapih serta apik. Cantik sekali. Tidak heran banyak yang ingin kesini, bahkan banyak yang melakukan foto pre wedding-nya disini. Kawasan ini memberikan kesempatan berwisata yang tidak hanya menyenangkan tapi juga bisa kesempatan belajar bahkan membantu melestarikan lingkungan dengan banyaknya program penanaman pohon bakau yang digalang pengelola. Tidak perlu takut kalau lapar, haus atau lelah karena banyak spot untuk istirahat, ada tempat makan bahkan penginapan dan fasilitas lainnya seperti yang saya sampaikan di awal. Lengkap kan.




Seru kan ya, pemandangan dan juga fasilitasnya. Oiya disini juga menyewakan ruang pertemuan (meeting). Tertarik?
Untuk urusan pantai memang belum sepenuhnya digarap, atau memang seperti itu pantai yang ditawarkan? Wah kok begitu saja ya. Jadi kalau ingin kepantai, cobalah jalan lebih ke ujung kawasan dimana plang penunjuk pantai berada. Kita akan melewati mulai dari jalanan yang lebar, sampai akhirnya bertemu dengan jalanan tanah sampai jalanan kayu dan bambu cantik menembus tengah-tengah bakau. Dan apakah langsung akan keluar di pantai? Ternyata tidak saudara-saudara. Diujung nya memang ada semacam gazebo dari kayu dengan ukuran sedang dan bisa untuk bersantai sambil memandangi laut dikejauhan. Yak, mungkin kegiatan ini lebih tepat dinamakan memandangi laut (hehe). Tapi tak apa, mari berharap suatu saat nanti memang akan ada akses menuju pantai dengan pasir-pasir putih cantik dan pohon kelapa melambai diiringi alunan gamelan khas Bali (eeh). Anyway, let us hope for the best untuk Taman Mangrove ini. Enjoy the trip!

Sunday, 14 February 2016

Pulau Pangkor: Another beautiful sunset

Mungkin daerah ini tidak begitu populer apalagi bagi orang-orang Indonesia, cerita yang terdengar dan dibawa pulang oleh mereka dari Malaysia biasanya seputar Bukit Bintang, KLCC, Batu Cave, Langkawi, Penang, atau agak mendekat ke Singapura, Johor Baru (ini kebanyakan saya dah pergi ni hihihi sombong!!)

Jeti penyebrangan menuju Pulau Pangkor @Lumut
Tapi siapa yang pernah ke Pangkor? Ketika saya tanya ke teman-teman hampir tidak ada yang pernah, mungkin malah tak tahu itu dimana atau komentar lainnya, ngapain kesana? Huurmm, memang kalau dipikir buat apa ya kesana kan uangnya bisa dipakai untuk pergi ke tempat lain, Thailand misalkan (belum pernah soalnya huhuhu rasain!) Eits, tapi jangan salah, memang tidak perlu waktu khusus terbang ke Malaysia hanya untuk berlibur ke Pangkor. Pulau ini bisa saja kok dimasukkan dalam daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi bersamaan dengan destinasi lainnya di Kuala Lumpur. Jaraknya pun tidak terlalu jauh walau sebenarnya masih lebih dekat ke Genting sih (kalau ini saya udah pergi juga ahaha sombong lagi!). Nah selain jarak yang dekat, Pulau Pangkor juga memiliki pemandangan yang indah, suer! Jadi kalau memang sedang wisata beberapa malam di KL, coba saja rasakan satu malam di Pangkor, cukup kok. Sama seperti yang saya lakukan.

Rencana kepergian kami ke Pangkor memang bisa dibilang mendadak, hanya karena hasutan hasil dari sebuah cerita kawan yang pernah kesana. Dan tepat ketika saya tengah berada di KL maka saya pikir kenapa tidak mencobanya. Jadilah pagi itu kami sudah berada di sebuah terminal besar terpadu di daerah Pudu dan berhasil membeli tiket untuk menuju daerah Lumut, tempat penyebrangan menuju Pulau Pangkor. Terasa semangat membayangkan akhirnya saya naik kapal lagi (hehe). Tiketnya sendiri berkisar RM 27, tak begitu mahal mengigat bus yang digunakan pun bagus J

Menunggu... tapi lumayan bisa selonjoran disini haha
Ternyata bus Transnasional dari Pudu ini tidak membawa kami langsung ke Lumut, kami harus berganti bus di pool mereka. Entah di daerah mana. Tapi rasanya masih di pinggiran KL. Menunggu bus pengganti selama satu jam itu cukup membosankan, bahkan terkadang timbul rasa was-was akan sampai jam berapa disana, saya dengar perjalanan kesana hampir 4 jam. Tapi perasaan lega menyergap kala saya melihat jam menunjukan pukul 11 pagi. Mungkin tak akan terlalu gelap ketika kami tiba.

Lumut. Terlihat ramai, mungkin karena kami tiba di terminal, banyak penjual makanan sampai oleh-oleh. Tampak seperti pasar kecil dan diujung sisi yang lain itulah dermaga atau jetty tempat kami akan menyebrang ke Pulau Pangkor. Banyak warga yang berkumpul disini, senang rasanya melihat keramaian. Melakukan perjalanan ke daerah yang lebih jauh di Semenanjung Malaysia ini memang memberikan nuansa berbeda. Sepanjang perjalanan bus, daerah yang kami lewati cukup sepi rasanya, tak seperti KL. Atau mungkin karena saya sudah terbiasa tinggal di Pulau Jawa yang penduduknya padat sangat, keramaian seakan menjadi teman yang tak pernah kenal tapi menenangkan. Untung saya memang sedang ingin wisata dan bukan keramaian lah yang saya cari (hehe).

Setelah makan siang di kedai terdekat kami buru-buru menuju jetty membeli tiket lalu melompat senang menuju kapal. Dan wow kapal nya bagus, ruangan AC dengan tempat duduk empuk, persis seperti yang saya gunakan dari Marina menuju kepulauan seribu tapi yang ini murah saja – sejauh yang saya ingat haha – dan pastinya aman. Untuk menuju Pulau Pangkor kita akan dikenakan biaya kapal, dan jika keluar dari Pangkor tidak perlu membayar lagi. Persis seperti naik fery di Pulau Penang. Mungkin memang begitu kebijakannya di seantero negeri ya. Biaya keluar pulau seperti sudah dibayarkan diawal. Bijak dan menarik.
Enak kan kapalnya, pendingin ruangan dan kursi yang empuk sudah cukup untuk puas foto-foto #gakkeringetan #jetty

Kami berlabuh dengan selamat di jetty P.Pangkor dan beruntung ternyata masih dibayangi matahari (yeay!), perjalanan di atas kapal tidak terlalu lama ternyata. Segera kami cari angkutan menuju sisi barat pulau dimana penginapan kami berada. Kawasan Teluk Nipah. Angkutan yang ada yaitu kereta/mobil minivan yang bisa muat sampai belasan orang saya rasa. Dan mereka banyak tersedia tepat di pintu keluar pelabuhan. Dan kami pun naik salah satu diantaranya setelah sebelumnya perang harga (tetep gak dimana juga). 

Tiba di pulau langsung ke pantai hahaha beautiful  +Pangkor 
Teluk Nipah ini kawasan yang cantik, dengan pantai yang landai, pasir yang halus dan putih, ombak yang tidak terlalu besar. Indah lah! Dan saya pikir-pikir lagi, mencoba mengingat perjalanan selama naik minivan ke Teluk Nipah saya sadar Pulau Pangkor ini memang cantik semua. Bukit dengan pepohonan hijau yang asri. Banyak pantai yang tidak terlalu sepi tapi juga tak ramai. Batu-batu ala Bangka Belitung pun ada. Dan yang dahsyat tentu sunsetnya. Apalagi di Teluk Nipah ini, woow amazing gitu. Saya betah berlama-lama disini. Yang buat tak betah hanya monyet! Huft! Kenapa sih mereka itu selalu usil. Sandal saya di pinggiran pantai pun hampir diboyongnya. Tapi tenang saja, kedai-kedai di pinggir pantai siap mengobati kekesalan akan monyet ini (hehe) karena selain pemandangan pantai menakjubkan dari kedai. Mereka semua punya jagoan penangkal monyet, yaitu boneka singa/macan. Setiap kedai punya lho. Entah kenapa monyet tersebut tidak akan berani mendekat kalau ada boneka singa ini (hehehe). Raja hutan mau dilawan!

Saya selalu ingat pemandangan sunset Pulau Pangkor sampai sekarang, sama seperti masih ingatnya saya akan Ubud. Keduanya memberikan gambar-gambar cantik di otak saya. Indah dan menenangkan. Itu memang yang saya cari.


Sunset Indah di Pulau +Pangkor Siapa yang gak mau duduk leyeh-leyeh memandangi matahari itu kan?

Dan bagi saya, pantai disini lebih sepi dan lebih indah dari Langkawi atau Penang. Pasti akan lebih indah lagi pemandangan di pulau-pulau kecil di sekitar Pangkor ini apalagi yang saya baca disana banyak spot diving dan snorkeling. Contohnya di Pulau Giam dan Pangkor Laut. Kabarnya disana terdapat spot diving yang indah sampai resort mewah impian semua orang (hehe begitu yang tertera di iklannya). Sayang saya belum sempat kesana (atau belum mampu haha). Jadi kemana saja selama dua hari satu malam ini di Pangkor?


Kota Belanda! Panas? iyah hehe tapi ada tukang jajan kok
Selain tentunya puas-puaskan diri leyeh-leyeh di pantai baik pagi, siang atau sore saya juga mengunjungi  beberapa tempat wisata yang ada di Pulau Pangkor. Tapi sebelumnya saya beri tahu ya, seiring dengan masuknya Belanda ke kawasan Perak pada 1680 maka Pulau Pangkor juga termasuk jajahannya. Jadi  tempat wisata yang saya kunjungi ini memang banyak berhubungan dengan Belanda. Yang pertama adalah Kota Belanda. Sebuah kota batu binaan Belanda yang sekarang tinggal tersisa bentengnya dan sedikit kawasan yang dibuat seperti taman. Jadi jangan membayangkan kota yang besar begitu ya. Disini bagus untuk foto-foto (hehe) apalagi warna bentengnya yang bagus untuk latar. Selanjutnya beberapa meter dari Kota Belanda ada sebuah batu besar yang diberi nama Batu Bersurat. Mungkin seperti prasasti begitu ya, tapi yang ini dibuat oleh Belanda. Disana ada gambar harimau dan juga manusia yang dipercaya adalah budak yang dibawa harimau -atau seperti itu-.
Ini dia benteng di Kota Belanda. Foto disini ya... hasilnya memukau hehe batu-batunya bagus :) puas-puaskan selfie
Yupp.. as seen above. Batunya yang mana? tuh belakang. Gelap? dateng sendiri makanya hihihi

Setelah itu motor (sewaan) kami pacu menuju sisi utara setelah tadi ada di kawasan selatan pulau. Kami hanya ingin melihat-lihat seperti apa wajah Pulau Pangkor secara dekat. Kami menuju pekan Pangkor atau seperti pusat kota yang biasanya ada pasar. Dan memang ramai disini, kegiatan masyarakat banyak berpusat disini. Jetty P.Pangkor pun ada disini lalu ada juga sekolah sampai pusat bisnis. Berbeda dengan kawasan wisata di Teluk Nipah yang memang didominasi cottage dan penginapan serta turis-turis. Di pekan, saya asik lihat-lihat sana sini tanpa tahu harus kemana sampai akhirnya capek dan kami harus berputar karena ragu dengan arah yang kami ambil plus tambahan adegan kunci kamar kami jatuh di tengah perjalanan sehingga kami harus ganti rugi (huhuhu 10 ringgit melayang). Tapi setelah itu, kami membalas kesedihan dengan kembali ke pantai (yeayy!!) mandi-manda kalau istilah bahasa melayu.
Yeay!! ke pantai lagi.. Pemandangan dari kafe raja hutan ini bagus loh. Mata sama perut kenyang! hahaha

Nah, bisa kan menikmati Pangkor hanya dua hari satu malam seperti saya ini. Tapi ya kalau ingin lebih menikmati sampai bisa hopping island berarti memang harus tinggal lebih lama. Saya pun rasanya mau kalau kesana lagi (hehe). Siang menjelang sore itu saya kembali menuju Jetty untuk menuju Lumut. Bapak di penginapan baik juga mau mengantarkan kami pakai mobilnya dengan harga yang tidak lebih mahal dari taksi minivan itu. Dan lagi kami diantarkannya ke Jetty Sungai Pinang Kecil yang lebih dekat dengan Teluk Nipah.

Tiket bus segera kami pesan di terminal Lumut dan ternyata waktu kami masih lama sampai bus datang. Kami putuskan untuk jalan-jalan menuju arah kota. Niatnya cari makan terdekat. Kabarnya ada sebuah pusat belanja yang bernama Pasaraya Billion, kemarin memang saya sempat lihat ketika menuju terminal. Dan akirnya kami berhasil kesana dengan Taksi yang rasanya mahal harganya (huhu selalu rindu angkot kalau di Malaysia ini), karena memang tak ada angkutan umum. Tapi tak heran dengan jalanan yang sepi bahkan sepi dari pejalan kaki, siapa yang mau naik kalau ada angkot? (hehe)

Kami makan di sebuah restoran cepat saji lokal, rasanya enak. Namanya Fatty Cafe. Pemiliknya mas-mas gendut (hehe) tak heran, pasti dia tahu bagaimana harus membuat makanan yang lezat. Setelah jalan-jalan di dalam mal kecil itu kami lanjutkan menuju terminal (sekali lagi cari taksinya susah huhu) dan akhirnya tak terlambat untuk menuju KL dengan bus Plusliner yang keren itu. Ah, pengalaman yang menarik memang selama saya di Pangkor. Suasanaya, alamnya, juga sunsetnya. Memang pantai dan laut itu selalu bisa membuat saya senang.
Miss you sunset of Pangkor huhu (padahal kan mataharinya sama aja ya hihihi)


Saturday, 31 October 2015

‘Mumpung’ story (eps.4) : Pulau Putri – Kep. Seribu

Yeaayy. Cerita terbaru dari serial ‘mumpung’ story akhirnya datang lagi. Sebelumnya sudah ada tiga seri yang semuanya menerapkan prinsip yang sama, aji mumpung! Mumpung ada tugas kantor akhirnya jalan-jalan (hahaha). Destinasi yang kami tuju kali ini adalah Pulau Putri, yang ada di Kepulaun Seribu, DKI Jakarta. Nah bedanya, kali ini kantor saya sedang mengadakan acara kebersamaan (staff gathering) yang berarti salah satu tujuannya memang refreshing. Tapi, karena saya termasuk panitia akhirnya ya kerja juga. Tapi tak apa, pasti selalu ada sesi santai (maksa huhu).

Keren kaan speedboat kita hehe Welcome to Putri island!
Sebagian warga Jakarta pasti pernah ya wisata ke Kep.Seribu, betul kan? yang belum berarti mesti coba karena disana ada banyak pilihan pulau. Secara jarak, Kep.Seribu relatif dekat dengan Jakarta dibanding pulau favorit lain seperti Karimun Jawa atau Bali, dan nyatanya pemandangan di Kep.Seribu pun tak kalah indah. Nah, Pulau Putri ini adalah salah satu yang terjauh dari gugusan pulau di Kep. Seribu, butuh waktu 1,5 jam naik speedboat keren dari dermaga Marina Ancol. Bayangkan kalau harus naik perahu angkutan yang banyak dipakai warga pulau, bisa 2-3 kali lipat waktu tempuhnya. Dulu saya pernah ke Pulau Tidung yang cukup dekat, hampir tiga jam saya diatas perahu nelayan, tapi ternyata hanya satu jam kalau naik speedboat. Jadi pintar-pintar pilih angkutan ya terutama buat yang suka mabuk laut, tapi lihat harganya juga. Saya mah namanya juga aji mumpung (hihihi).

Pulau Putri teryata dikhususkan untuk penginapan/resort dan rekreasi. Jadi disini tidak ada pemukiman warga atau pusat pemerintahan jadi tidak sembarang pengunjung bisa datang hanya yang akan menginap saja. Yang saya tahu, hanya Pulau Putri dan Pulau Sepa yang memiliki resort. Tapi bukan berati di pulau lain tidak ada penginapan. Pulau Tidung contohnya, kita bisa menginap di rumah warga/guesthouse yang banyak tersedia disana. Oiya, dari 355 pulau yang ada di Kep.Seribu hanya 200-an yang sudah memiliki nama. Dan tidak semua berpenghuni. Lain di nama lain di lapangan ya, bukan seribu ternyata jumlahnya (hehe). Pulau-pulau favorit lain diantaranya adalah P.Pramuka, P.Bidadari, P.Pari, P.Macan, P.Harapan dan lainnya.

Sambutan dan salam perpisahannya selalu pakai lagu
Patung empat putri duyung akan menyambut kita ketika tiba di dermaga P.Putri diiringi welcome dance tarian Bali dan lantunan lagu-lagu dari grup musik. Ini bagian dari jamuan selamat datang bagi tamu P.Putri. Sekilas saat menginjak kaki di dermaga saya mengamati pulau ini ternyata tidak memiliki pantai yang luas, tapi semua kamarnya menghadap ke laut plus disini kita seperti di pulau pribadi karena hanya ada tamu pengunjung saja dan tidak ada yang lebih menyenangkan lagi dari pulau pribadi kan (hehe). Oia, pulaunya memang tidak terlalu besar, kamarnya sekitar 70-an dan tidak sampai setengah jam kita sudah bisa keliling pulau yang banyak ornamen Bali ini.
Tidak perlulah saya ceritakan bagaimana acara gathering­ kantor. Yang perlu dicatat memang kami semua merasa senang, lebih kenal dan semakin kompak bersama, tapi yang lebih penting ketika team building, tim sayalah juara pertamanya (hohoho).



Pemandangan dari kamar, kolam renang buat yang gak mau ke laut dan juga pantai 'pendek' di Pulau Putri :)

Jadi apa saja yang bisa kita lakukan di Pulau Putri? 
Layaknya sebuah resort pantai, fasilitas olahraga air disini bisa dikatakan cukup lengkap. Di hari kedua ketika memasuki acara bebas sebagian kawan langsung memulai kegiatan dengan snorkeling, yang lain mencoba banana boat, ada juga yang kayaking, tapi belum ada yang berani diving ternyata. Semua alat snorkeling, sepeda air sampai alat scuba diving tersedia disini dan bisa disewa dengan harga yang wajar saya fikir. Untuk bisa kayaking selama satu jam kita tak sampai mengeluarkan uang 50 ribu rupiah, murah kan! ditambah perairan yang sangat jernih dan arus yang tenang hampir tak berombak rasanya semua harga sewa disini cukup layak. Bahkan staff maskot kantor kami pun (Pak Santo hehe) sampai rela malas-malasan terapung diperairan dangkal leyeh-leyeh diatas baju pelampung ‘saking´ menikmati pemandangan yang mungkin tak pernah dia jumpai di manapun (#piss pak) tak pusing pasal muka hitam atau bahkan meriang karena masuk angin (hehe).
Kayaking di perarian yang dangkal, jernih dan indah bisa lihat ikan-ikan kecil dan karang dibawahnya
Sudah merasa semua olahraga air itu menarik? Tunggu sampai kita mengikuti trip jalan-jalan keliling pulaunya untuk melihat karang dan juga sunset indah (Duh kok kayak iklan ya, wah hrs dapet voucher inap grtais ni dari P.Putri hihihi). Ya, Pulau Putri memiliki rangkaian trip untuk melihat terumbu karang dengan glass bottom boat atau kapal yang tepiannya berdinding kaca. Kacanya bukan didasar atau di kaki kita ya tapi disamping tempat duduk  jadi sangat leluasa melihat dasar laut dan terumbu karang dari dekat. Tak perlu lah menyelam kedasar bagi yang takut atau yang malas (hehe). Atau pilihan lainnya kita bisa menikmati terowongan bawah laut (deep tunnel) yang ada di kiri dermaga, jadi kalau takut naik kapal tapi ingin tetap melihat ikan dan karang silahkan jalan-jalan di terowongan ini.
Banana Boat!! Saya masih saja belum pernah naik ini hahaha
Sorenya kami pergi dengan salah satu kapal untuk menikmati sunset atau biasanya disebut sunset cruise. Nah, untuk menikmati sunset terbaik kami perlu bergerak kelautan terbuka, sehingga matahari tenggelam tidak akan terhalang pulau-pulau lain.  Jadi kapal pun bergerak sekitar 45 menit menuju daerah terbuka tersebut. Mujur pulau ini memang ada di gugusan terluar Kep.Seribu jadi tak begitu jauh untuk mencapai spot daerah terbuka. Sepanjang perjalanan kami pun diceritakan pulau-pulau yang kami lewati, ada Pulau Bira, Pulau Macan dan lainnya. Juga cerita unik yang menyertainya, ada pulau yang akhirnya ditinggalkan penduduk, pulau yang penginapannya tak berpintu dan langsung menghadap laut (saya lihat sendiri di pulau kecil itu, mantep!) sampai pulau yang dimiliki suatu badan bahkan orang pribadi. Lucu rasanya mendengarkan pulau ini milik perusahaan ini, pengusaha itu, milik orang kaya ini. Hebat ya bisa sampai memiliki pulau. Konsepnya sebetulnya sama saja seperti memiliki sebidang tanah di daratan hanya saja karena di pulau kecil jadinya kayak punya satu pulau, tak apalah kalau masih orang Indonesia yang punya, kalau sudah orang asing seperti yang ada di pulau-pulau eksotis terluar Indonesia saya kok gak setuju, tak rela!
Sunset yang kami dapat belum maksimal sih tapi lumayan bisa keliling-keliling pulau
Nah, hati-hati ya yang suka snorkeling!?! 
Lalu apakah setiap pengunjung P.Putri akan mendapatkan semua rangkaian trip itu? Yak, bisa! Bahkan bisa lebih banyak kegiatan tergantung biaya (hehe). Saya sendiri sudah coba semua, yaaa secara teknis kegiatan air nya tidak semua sih, saya hanya snorkeling itu pun di akhir waktu karena saya awalnya tak rela harus menginjak karang jadi ingin perairan yang lebih dalam. Selain sakit ke kaki (beberapa kawan sampai berdarah hebat karena karang), terumbu karang adalah makhluk hidup yang bisa mati kalau ada tsunami, bom, bahkan injakan kaki yang serabutan begitu. Dan untuk hidup kembali butuh waktu tahunan jadi seharusnya dijaga baik-baik. Tapi ternyata bagus juga di pulau ini ada area snorkeling yang cukup dalam sehingga akhirnya saya ‘nyemplung’ jadi tidak perlu merusak karang walau bagi yang takut ke laut pasti akan menjadikan karang sebagai pijakan (oh nooo hehe). Tak heran banyak karang yang warnanya tak lagi cerah tapi pucat, sebagian karena tertutup karang yang mati yang berwarna putih. Semoga kesekian kalinya mereka snorkeling akhirnya bisa mengerti.

Setiap perjalanan wisata pasti ada masa untuk bersenang-senang, masa untuk kembali mengingat hal baik yang sudah kita lakukan dan bahkan belajar hal baik yang baru. Saya yang wisata sambil kerja saja bisa (mumpung) apalagi traveler yang niat jalan-jalan. Sudah kah melakukan hal baik disana? Minimal tidak merusak atau  turut menjaga apapun hal baik itu disana?


Lets be a good traveler

Wednesday, 15 April 2015

Pulau Samosir : Dari pantai sampai danau di atas danau (Sumut Trip)

Hotspring di Pangururan
Malam di Pulau Samosir itu jauh lebih dingin. Dengan ketinggian pulau sekitar 1000 m dpl terbayang kan bagaimana dinginnya ketika hari beranjak gelap. Dan itulah juga kenapa penginapan kami tak butuh alat pendingin ruangan, mungkin memang begitu disebagian besar hotel disana. Malam pertama kami lewati dengan tidur yang sangat nyenyak karena di Pulau Samosir tak banyak juga atraksi wisata malam hari seperti halnya di kota Medan.

Hari kedua adalah harinya keliling pulau. Maunya sih bisa betul-betul keliling pulau dari titik awal sampai ketitik awal lagi tapi dari informasi ibu penyewa motor (Duh siapa ya namanya huhu) butuh 2 hari penuh untuk bisa mengeliling Pulau Samosir (besar kan pulau ini) dan jalanan di bagian selatan pulau agak ‘seram’ entah karena sepi atau jalanan rusak. Akhirnya kami putuskan hanya menjelajah ke utara sampai kawasan Pangururan lalu kembali ke Tuk-tuk. Itu artinya kami akan keliling setengah Samosir, lumayanlah (hehe).


Penginapan kami pun punya private pool kaan :)
Setelah sarapan pagi nyatanya saya malah nongkrong dulu di tepi hotel yang langsung menghadap ke danau (hehe). Ada gazebo dan kursi santai ala pantai disana. Seru! Maunya sih langsung nyemplung berenang tapi malu juga karena ada banyak feri lewat dan juga mas-mas yang menawarkan jasa bermain jet ski. Jadinya cuma nyemplungin kaki sama ciprat-ciprat aja (haha). Seperti yang saya ceritakan sebelumnya hampir setiap hotel di Samosir punya kolam renang alam yang sangat luas. Ya! Danau Toba lah kolam renangnya (hahay). Tak heran setiap hotel punya tangga dipinggir danau untuk siapapun turun lalu berenang merasakan air segar danaunya. Saya sendiri pun selalu ingin merasakan langsung air danaunya (tapi malu haha).


Lihat ada air terjun #menujuTomok
Tak berapa lama kami pun beranjak dari hotel untuk mengunjungi Tomok terlebih dahulu yang ada di selatan Tuk-Tuk dengan perjalanan tak lebih dari 20 menit saja. Disana cukup banyak tempat wisata. Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi adalah Museum Batak, Makam Raja serta Sigale-gale. Kesemuanya memang wisata sejarah dan budaya yang menarik mengingat sekitar Danau Toba atau Samosir ini merupakan tempat lahirnya salah satu suku Batak yang banyak dikenal yaitu Batak Toba bahkan mitosnya daerah ini juga merupakan salah satu cikal bakal lahirnya suku Batak, suku yang banyak mendiami wilayah Sumut.

Nah dari yang saya baca, bahkan teman saya sendiri pun mengakuinya, sekarang ini nyatanya beberapa etnis di Sumut ada yang tidak mengindentikan dirinya sebagai suku Batak. Yah, pokoknya yang penting rukun aja (hehe saya yang nulis gak mau pusing). Di kesemua tempat wisata itu kita dapat melihat patung-patung khas peninggalan suku Batak yang unik, kain ulos hasil tenun sampai cinderamata serta makam raja Sidabutar. Di lorong yang menghubungkan tempat wisata ini pun banyak dijual oleh-oleh khas Sumut (saya beli barong Toba plus keychain haha). Oh iya, semua tempat itu rasanya tidak menarik biaya alias gratis (atau saya yang dateng kepagian ya) kecuali jika ingin melihat pertunjukan sigale-gale yang langka itu, pun hanya di jam tertentu saja atau malah hanya berdasarkan permintaan.

Bersampingan dengan rumah warga, eh ada anak kecil nyanyi..
bagus bener suaranya huhu (emang dah juara suku ini kalo soal nyanyi mah haha)
Itu dia Sigale-gale, di ujung sana juga ada Tungtung berupa kayu ukiran tinggi sekali
untuk sinyal, kode, penanda jika ada peristiwa dalam masyarakat (kentongan kali maksudnya ya hehe)
Ini adalah Solu Bolon (perahu kerajaan) yang ada di
Museum Hutabolon, begitu panjang dan besar lho!
Beralih dari Tomok kami mulai menapaki rute keliling setengah Samosir, tujuan berikutnya adalah desa Simanindo dimana terdapat museum Hutabolon. Jaraknya cukup jauh dari Tomok, hampir satu jam kami berkendara. Huta artinya kampung tradisional orang Batak yang didalamnya terdapat rumah raja (Bolon). Di museum ini terdapat rumah adat beserta peninggalan leluhur Batak Toba, lalu juga ada ulos beserta alat penenunnya, rangka perahu atau kapal yang besar serta pertunjukan tari sigale-gale dengan biaya tambahan.

Kembali lagi saya dihadapkan dengan tarian ini yang membuat saya akhirnya penasaran (tapi gak nonton juga karena mahal hahay). Kebudayaan Batak Toba memang selalu menarik dan bahkan sedikit mistis. Semua tarian, pakaian, detil setiap adatnya punya makna tersendiri, hurmm begitu kaya dan sampai terkenal di dunia internasional! Salah satu contohnya sigale-gale. Singkatnya ini adalah sebuah patung yang dibuat mirip manusia, tingginya, bentukan tangan sampai kakinya. Patung kayu ini juga akan diberikan pakaian untuk kemudian akan menari diiringi musik (gondang) tentunya dibantu oleh beberapa dalang yang membuat si boneka kayu ini bergerak-gerak sesuai irama. Dikisahkan pematung yang membuat sigale-gale ini harus merelakan jiwanya agar patung terlihat hidup. Mungkin ini juga yang membuat patung sigale-gale ini sangat langka, hanya ada beberapa dan itu pun di Samosir saja sisanya di Jakarta dan luar negeri (ngeri juga huhu).

Gimana? kayak dipantai kan ya... cobalah juga berenang :)
Okelah, selanjutnya kami kembali mengarah ke utara. Kali ini menuju Pantai Pasir Putih Parbaba yang ada di kecamatan Pangururan. Pantai di danau? Yupp (hehe). Saya pun heran pertama mendengarnya, setelah melihat langsung ternyata baru mengerti. Ini merupakan salah satu pinggiran Danau Toba yang memiliki dataran ala pantai yang cukup luas kemudian diberi pasir pantai serta beberapa fasilitas wisata pinggir laut mulai dari tenda dan tikar untuk bersantai, warung-warung jajanan sampai sewa sepeda air.

Nah, saya langsung semangat mau coba pas lihat sepeda air ini. Biayanya tak mahal hanya 40ribuan. Rasanya kalau melihat orang lain mengemudikannya cukup mudah, sampai ketika saya rasakan sendiri ternyata sulit (huhu). Tak jelas arah sampai tak bisa kembali ke tepi, belum lagi ada anak-anak kecil gelendotan riang di belakang sepeda. Mereka muncul dari dalam air bergerak lincah ketawa-ketiwi sampai kesamping sepeda yang membuat ayuhan kaki terasa semakin berat. Lalu si bebek raksasa ini pun semakin ke tengah danau (Huaah kan gak lucu terdampar di tengah Danau Toba) sampai akhirnya ide kami muncul, si adik-adik kecil ini akhirnya saya karyakan (rayu tepatnya hehe) untuk membantu mengerahkan sepeda ke tepi dengan imbalan. Mereka sebetulnya baik malah senang diberi perintah begitu, kami pun mulai bergerak ke arah yang benar plus saya juga sempat ikut nyemplung (kesampean juga kan renang di Danau Toba hihi untung cetek masih pinggiran) bantu dorong sepeda bersama adik-adik ini. Selang puluhan menit berjuang akhirnya kami sampai di pasir tepi danau tapi apesnya celana saya basah semua (hihi terima kasih Dik, selamat menikmati kue hadiahnya).
Tetangga ni saat bermain sepeda air, heran mereka ini anteng banget!
Sepedanya pun normal aja.. gak kemana-mana huhuhu
Destinasi terakhir adalah wilayah Pangururan, yang merupakan ibukota Kabupaten Samosir. Namanya ibukota memasuki daerah ini memang lebih pikuk dan ramai seperti halnya masuk ke kota. Pusat niaga seperti pasar serta pemukiman pun banyak kami jumpai dan ternyata di wilayah ini juga ada jalan penghubung dengan dataran Pulau Sumatera artinya tidak perlu naik ferry untuk ke wilayah dataran Sumatera. Tujuan pertama kami adalah pemandian Aek Rangat. Ini adalah pemandian air panas, tentunya kami tidak mandi (hehe) cuma mau mengamati seperti apa daerahnya. Di perjalanan (cerita klasik ini mah) ban motor kami kempes (gak dimana ya, tetep) untuk kemudian akan selalu ada cerita cari tukang tambal ban jauuuuh (fiuuhh).


Welcome to Pangururan, indahnyaaaa!!!
Betah kan ya memandangi pemadangan macam ini!
Terakhir kami mengunjungi Danau Sidihoni. Ini adalah danau diatas danau. Begitu menarik kan wisata Samosir ini? setelah ada pantai di danau kali ini ada danau atas danau (hehe). Danau ini indah, perjalanan menuju kesana pun tak kalah indah. Dengan rute berkelok naik bukit, kita dapat melihat pemandangan Pangururan bahkan Danau Toba  dari ketinggian. Juga akan banyak kita temukan dinding bukit kecoklatan yang merupakan endapan danau. Eksotis dan indahlah perjalanan kesini. Dan ketika kita sampai di Danau Sidihoni, semua itu akan tambah menyenangkan. Danau jernih yang dikelilingi dataran luas berumput hijau itu seperti sebuah tempat tersembunyi yang tak banyak campur tangan manusia, yang saya temukan hanya beberapa hewan yang asyik merumput sambil sesekali menikmati segarnya air danau. Saya pun puas dengan duduk santai di tepi danau sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya harus pulang, berkendara beberapa jam lagi dan mujur saya sampai di Tuk-tuk tepat ketika hari beranjak gelap dan dingin.

Pemandangan Danau Toba dari bukit menuju D.Sidihoni,
sesaat sebelum kembali ke Tuk-tuk untuk kemudian menuju Brastagi dan Medan

Saturday, 27 December 2014

Bali : Beautiful Uluwatu

Salah satu pendopo di Ubud Palace
Di belahan selatan Bali, saya menemukan seni dan keindahan yang tak kalah cantik dengan daerah lainnya. Pantai-pantai mempesona yang sebagian besar belum terlalu ramai, tebing-tebing tinggi dengan pemandangan samudra biru luas, tarian kolosal sampai seni ukir yang indah serta nikmatnya bersantap masakan laut saat senja. Dan semua itu bisa didapatkan dalam satu hari. Yup, Pulau Dewata ini seakan tak ada habisnya.

Ubud, tempat saya sebelumnya menghabiskan waktu memang menyisakan pengalaman haru, menyenangkan bahkan terkadang magis. Saya menemukan Bali dengan semua budaya luhur dan alam asrinya disana. (Sebelumnya Bali : Unforgettable Ubud) Perjalanan menuju Uluwatu di selatan Bali pun turut menyisakan harapan untuk bisa menemukan keindahan lainnya, wajah Bali yang lain. Kendaraan kami melaju cepat menelusuri By Pass Ngurah Rai, jalan raya besar yang hampir membuat kami tersesat masuk ke jalan tol baru diatas laut itu (tapi mau juga sih coba hehe). Setelah berkendara hampir empat puluh menit dari Kuta, melewati Bandara Ngurah Rai serta kampus Udayana kami mampir di kawasan Taman Budaya GWK atau Garuda Wisnu Kencana. Sebuah taman cantik di areal luas yang direncanakan akan dibuat landmark Bali berupa patung Dewa Wisnu raksasa yang menunggangi Garuda.

Kebayang ya gimana dua patung ini kalo bersatu. Guede Banget!!!



















Nanti kaya gini jadinya

Di GWK, kita akan menemukan patung dewa Wisnu di plaza Wisnu dan patung Garuda di plaza yang lain yang masih terpisah. Memang sangat besar dan pasti akan megah sekali ketika nanti patung tersebut dibentuk utuh satu kesatuan. Sekarang saja pun sudah membuat saya terpesona (aiihh). Di GWK ini juga ada teater pertunjukan untuk menonton tari di jam-jam tertentu setiap harinya sampai labirin dari tebing cantik yang eksotis sekali di kawasan plaza Garuda. Sejak awal datang saya puas nonton tari, foto-foto, jalan-jalan dari satu plaza ke plaza yang lain, ke lotus pond sampai foto narsis di pinggir tebing-tebing kapur itu. Tari kecak pun ternyata dipertontonkan di GWK menjelang malam, tapi saya tidak menetap lama karena masih harus memburu destinasi selanjutnya.

Kami ingin menikmati pantai selatan Bali yang katanya tersembunyi dan cantik-cantik. Sebut saja pantai Balangan, pantai Padang-padang dan pantai Dreamland yang jadi surganya peselancar dunia plus ditambah pemandangan tebing cantik di sekitar pantai. Tak sabar, berbekal perut kenyang hasil ngantri di restoran cepat saji yang terkenal seantero dunia (cari yang aman dan cepat saja haha) kami segera menuju kawasan Pecatu. Orang bilang jalannya ribet, kecil, susah lah. GPS bawaan telepon genggam pun jadi panduan arah kami. Jalanan kecil yang banyak dimaksud orang pun mulai kami jajali lalu jalanan mulai berpasir tanda dekat dengan kawasan pantai, kemudian laut biru nampak dikejauhan (sampai bau laut pun rasanya tercium hehe) tapi kemudian kami mulai masuk ke kawasan sepi, lalu rumah warga, jalanan rusak, berbatu, laut masih tetap tampak jauh hanya terlihat birunya saja, dan tak ada pantai.

Kami berhenti, Fiuhh! kami tersesaaat (hehe) dan ini bukan yang pertama memang. Dialog singkat sampai debat terjadi, akhirnya bye-bye­ pantai karena kami harus ke Uluwatu. Tiket yang sudah saya pesan untuk pertunjukan tari Kecak di Pura Uluwatu tidak boleh terlewat. Belum kalo tersesat lagi, jadi jam 4 sore kami sudah langsung menuju Uluwatu. Mungkin belum jodoh sama si Dreamland. But let us see the beautiful GWK first (hehe)

Pertunjukan tari di Amphiteather. Menarik :) beberapa kali dipertunjukan sehari
Ini dia si tebing batu-batu kapur. Kita bisa menelusuri lorongnya yang seperti labirin
Narsis lah.. udah pake barong gitu loh :) Ada Garuda dan Wisnu jg. Lengkap!!
Mujur jalanan mulus serta ramai kendaraan menuju Uluwatu (yang menandakan kami di jalan yang benar hehe). Tidak sampai satu jam saya sampai di pelataran parkir Kawasan Pura Uluwatu. Dan ada monyet-monyet lagi!! Aduuh!! Saya melipir ke loket pura, ternyata harus bayar lagi sekitar dua puluhribuan dan ini diluar tiket kecak saya. Oia, beli tiket kecaknya online saja karena lebih murah dibandingkan beli ditempat. Lalu kita akan diberi selendang untuk menuju Pura (ssstt saya sengaja pakai celana pendek biar dikasih kain. Suka lah pake kain begini, ala-ala Bli gitu hahay). Dan saya pun mulai berjalan kaki bersama puluhan mungkin ratusan wisatawan (yang sebagian besar bule) menapaki rute menuju Pura.

Ketika lautan mulai terlihat, pemandangannya luar biasa indah. Kita akan berada di sisi tebing tinggi dengan pemandangan samudra luas. Dan nampak Pura diujung tebing yang lain. Tebing ini aman karena dikelilingi pagar, saya pun begitu bebas menikmati lautan sejauh mata memandang, menghirup udara segar, melepaskan penat sambil terkagum akan keindahannya. Pura Uluwatu sendiri awalnya adalah tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan karena ajaran-ajarannya serta pendeta Dang Hyang Nirartha yang mengakhiri perjalan sucinya dengan apa yang disebut Moksah atau Ngeluhur di tempat ini, itu juga yang menjadi asal nama Uluwatu.
 
So beautiful right? Pura ini dipercaya sebagai penyangga dari 9 mata angin
Pura Uluwatu adalah tempat terbaik nonton Kecak :)
Setelah puas berkeliling pura, saat sore tiba saya segera menuju tempat pementasan tari Kecak Uluwatu yang terkenal itu. Buat saya, menonton tari kecak disini adalah yang terbaik. Di kawasan daerah tinggi (tebing), ditemani pemandangan lautan saat senja dan tebing cantik lainnya dikejauhan. Lengkap rasanya. Diawali doa oleh seorang bapak paruh baya, sesajian khas Bali tak luput dari tangannya, dimulailah kisah Rama Sinta serta Rahwana yang melegenda itu, plus kehadiran Hanoman si Kera Putih yang ditunggu-tunggu. Tak ayal banyak penonton terkesima oleh permainan api, tertawa oleh tingkah Hanoman yang interaktif sampai terkagum dengan paduan indah tari dan harmonisnya suara ‘cak-cak’ yang dibawakan puluhan pria. Ah, terasa lagi ‘Bali banget’nya. Saya senang bisa sampai disini.

Malam tiba, saatnya saya meninggalkan Uluwatu (oia, pas pulang ada ibu2 rebutan tasnya sama monyet di kawasan pura itu hiii). Saya berkendara kembali menuju arah Kuta dan mampir di Jimbaran. Kumpulan resto pinggir pantai sudah menunggu disana. Bagi siapa saja yang ke Bali pasti tidak akan melewatkan Jimbaran ini. Tempat yang nyaman pinggir pantai, ditemani lampu remang, pemandangan lampu bandara dan tinggal landasnya pesawat dikejauhan, dan suara ombak yang tenang. Pasti santap makan malamnya jadi lebih syahdu (ahay). Sempat tersesat juga sebenarnya kesini (tetep ya). Alhasil, perut kenyang, jalan-jalan puas dan hati juga senang. Jadi, siapa yang tak mau ke Bali?

Siapapun betah berlama-lama lah di Jimbaran. Oia ada pemusik keliling ke Meja loh

Pantai Pecatu, 97 meter dibawah pura juga jadi tempat perlombaan selancar
Percaya kan? Uluwatu jadi tempat terbaik nonton Kecak. Sunseett!!! :)