Showing posts with label gunung. Show all posts
Showing posts with label gunung. Show all posts

Wednesday, 15 April 2015

Pulau Samosir : Dari pantai sampai danau di atas danau (Sumut Trip)

Hotspring di Pangururan
Malam di Pulau Samosir itu jauh lebih dingin. Dengan ketinggian pulau sekitar 1000 m dpl terbayang kan bagaimana dinginnya ketika hari beranjak gelap. Dan itulah juga kenapa penginapan kami tak butuh alat pendingin ruangan, mungkin memang begitu disebagian besar hotel disana. Malam pertama kami lewati dengan tidur yang sangat nyenyak karena di Pulau Samosir tak banyak juga atraksi wisata malam hari seperti halnya di kota Medan.

Hari kedua adalah harinya keliling pulau. Maunya sih bisa betul-betul keliling pulau dari titik awal sampai ketitik awal lagi tapi dari informasi ibu penyewa motor (Duh siapa ya namanya huhu) butuh 2 hari penuh untuk bisa mengeliling Pulau Samosir (besar kan pulau ini) dan jalanan di bagian selatan pulau agak ‘seram’ entah karena sepi atau jalanan rusak. Akhirnya kami putuskan hanya menjelajah ke utara sampai kawasan Pangururan lalu kembali ke Tuk-tuk. Itu artinya kami akan keliling setengah Samosir, lumayanlah (hehe).


Penginapan kami pun punya private pool kaan :)
Setelah sarapan pagi nyatanya saya malah nongkrong dulu di tepi hotel yang langsung menghadap ke danau (hehe). Ada gazebo dan kursi santai ala pantai disana. Seru! Maunya sih langsung nyemplung berenang tapi malu juga karena ada banyak feri lewat dan juga mas-mas yang menawarkan jasa bermain jet ski. Jadinya cuma nyemplungin kaki sama ciprat-ciprat aja (haha). Seperti yang saya ceritakan sebelumnya hampir setiap hotel di Samosir punya kolam renang alam yang sangat luas. Ya! Danau Toba lah kolam renangnya (hahay). Tak heran setiap hotel punya tangga dipinggir danau untuk siapapun turun lalu berenang merasakan air segar danaunya. Saya sendiri pun selalu ingin merasakan langsung air danaunya (tapi malu haha).


Lihat ada air terjun #menujuTomok
Tak berapa lama kami pun beranjak dari hotel untuk mengunjungi Tomok terlebih dahulu yang ada di selatan Tuk-Tuk dengan perjalanan tak lebih dari 20 menit saja. Disana cukup banyak tempat wisata. Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi adalah Museum Batak, Makam Raja serta Sigale-gale. Kesemuanya memang wisata sejarah dan budaya yang menarik mengingat sekitar Danau Toba atau Samosir ini merupakan tempat lahirnya salah satu suku Batak yang banyak dikenal yaitu Batak Toba bahkan mitosnya daerah ini juga merupakan salah satu cikal bakal lahirnya suku Batak, suku yang banyak mendiami wilayah Sumut.

Nah dari yang saya baca, bahkan teman saya sendiri pun mengakuinya, sekarang ini nyatanya beberapa etnis di Sumut ada yang tidak mengindentikan dirinya sebagai suku Batak. Yah, pokoknya yang penting rukun aja (hehe saya yang nulis gak mau pusing). Di kesemua tempat wisata itu kita dapat melihat patung-patung khas peninggalan suku Batak yang unik, kain ulos hasil tenun sampai cinderamata serta makam raja Sidabutar. Di lorong yang menghubungkan tempat wisata ini pun banyak dijual oleh-oleh khas Sumut (saya beli barong Toba plus keychain haha). Oh iya, semua tempat itu rasanya tidak menarik biaya alias gratis (atau saya yang dateng kepagian ya) kecuali jika ingin melihat pertunjukan sigale-gale yang langka itu, pun hanya di jam tertentu saja atau malah hanya berdasarkan permintaan.

Bersampingan dengan rumah warga, eh ada anak kecil nyanyi..
bagus bener suaranya huhu (emang dah juara suku ini kalo soal nyanyi mah haha)
Itu dia Sigale-gale, di ujung sana juga ada Tungtung berupa kayu ukiran tinggi sekali
untuk sinyal, kode, penanda jika ada peristiwa dalam masyarakat (kentongan kali maksudnya ya hehe)
Ini adalah Solu Bolon (perahu kerajaan) yang ada di
Museum Hutabolon, begitu panjang dan besar lho!
Beralih dari Tomok kami mulai menapaki rute keliling setengah Samosir, tujuan berikutnya adalah desa Simanindo dimana terdapat museum Hutabolon. Jaraknya cukup jauh dari Tomok, hampir satu jam kami berkendara. Huta artinya kampung tradisional orang Batak yang didalamnya terdapat rumah raja (Bolon). Di museum ini terdapat rumah adat beserta peninggalan leluhur Batak Toba, lalu juga ada ulos beserta alat penenunnya, rangka perahu atau kapal yang besar serta pertunjukan tari sigale-gale dengan biaya tambahan.

Kembali lagi saya dihadapkan dengan tarian ini yang membuat saya akhirnya penasaran (tapi gak nonton juga karena mahal hahay). Kebudayaan Batak Toba memang selalu menarik dan bahkan sedikit mistis. Semua tarian, pakaian, detil setiap adatnya punya makna tersendiri, hurmm begitu kaya dan sampai terkenal di dunia internasional! Salah satu contohnya sigale-gale. Singkatnya ini adalah sebuah patung yang dibuat mirip manusia, tingginya, bentukan tangan sampai kakinya. Patung kayu ini juga akan diberikan pakaian untuk kemudian akan menari diiringi musik (gondang) tentunya dibantu oleh beberapa dalang yang membuat si boneka kayu ini bergerak-gerak sesuai irama. Dikisahkan pematung yang membuat sigale-gale ini harus merelakan jiwanya agar patung terlihat hidup. Mungkin ini juga yang membuat patung sigale-gale ini sangat langka, hanya ada beberapa dan itu pun di Samosir saja sisanya di Jakarta dan luar negeri (ngeri juga huhu).

Gimana? kayak dipantai kan ya... cobalah juga berenang :)
Okelah, selanjutnya kami kembali mengarah ke utara. Kali ini menuju Pantai Pasir Putih Parbaba yang ada di kecamatan Pangururan. Pantai di danau? Yupp (hehe). Saya pun heran pertama mendengarnya, setelah melihat langsung ternyata baru mengerti. Ini merupakan salah satu pinggiran Danau Toba yang memiliki dataran ala pantai yang cukup luas kemudian diberi pasir pantai serta beberapa fasilitas wisata pinggir laut mulai dari tenda dan tikar untuk bersantai, warung-warung jajanan sampai sewa sepeda air.

Nah, saya langsung semangat mau coba pas lihat sepeda air ini. Biayanya tak mahal hanya 40ribuan. Rasanya kalau melihat orang lain mengemudikannya cukup mudah, sampai ketika saya rasakan sendiri ternyata sulit (huhu). Tak jelas arah sampai tak bisa kembali ke tepi, belum lagi ada anak-anak kecil gelendotan riang di belakang sepeda. Mereka muncul dari dalam air bergerak lincah ketawa-ketiwi sampai kesamping sepeda yang membuat ayuhan kaki terasa semakin berat. Lalu si bebek raksasa ini pun semakin ke tengah danau (Huaah kan gak lucu terdampar di tengah Danau Toba) sampai akhirnya ide kami muncul, si adik-adik kecil ini akhirnya saya karyakan (rayu tepatnya hehe) untuk membantu mengerahkan sepeda ke tepi dengan imbalan. Mereka sebetulnya baik malah senang diberi perintah begitu, kami pun mulai bergerak ke arah yang benar plus saya juga sempat ikut nyemplung (kesampean juga kan renang di Danau Toba hihi untung cetek masih pinggiran) bantu dorong sepeda bersama adik-adik ini. Selang puluhan menit berjuang akhirnya kami sampai di pasir tepi danau tapi apesnya celana saya basah semua (hihi terima kasih Dik, selamat menikmati kue hadiahnya).
Tetangga ni saat bermain sepeda air, heran mereka ini anteng banget!
Sepedanya pun normal aja.. gak kemana-mana huhuhu
Destinasi terakhir adalah wilayah Pangururan, yang merupakan ibukota Kabupaten Samosir. Namanya ibukota memasuki daerah ini memang lebih pikuk dan ramai seperti halnya masuk ke kota. Pusat niaga seperti pasar serta pemukiman pun banyak kami jumpai dan ternyata di wilayah ini juga ada jalan penghubung dengan dataran Pulau Sumatera artinya tidak perlu naik ferry untuk ke wilayah dataran Sumatera. Tujuan pertama kami adalah pemandian Aek Rangat. Ini adalah pemandian air panas, tentunya kami tidak mandi (hehe) cuma mau mengamati seperti apa daerahnya. Di perjalanan (cerita klasik ini mah) ban motor kami kempes (gak dimana ya, tetep) untuk kemudian akan selalu ada cerita cari tukang tambal ban jauuuuh (fiuuhh).


Welcome to Pangururan, indahnyaaaa!!!
Betah kan ya memandangi pemadangan macam ini!
Terakhir kami mengunjungi Danau Sidihoni. Ini adalah danau diatas danau. Begitu menarik kan wisata Samosir ini? setelah ada pantai di danau kali ini ada danau atas danau (hehe). Danau ini indah, perjalanan menuju kesana pun tak kalah indah. Dengan rute berkelok naik bukit, kita dapat melihat pemandangan Pangururan bahkan Danau Toba  dari ketinggian. Juga akan banyak kita temukan dinding bukit kecoklatan yang merupakan endapan danau. Eksotis dan indahlah perjalanan kesini. Dan ketika kita sampai di Danau Sidihoni, semua itu akan tambah menyenangkan. Danau jernih yang dikelilingi dataran luas berumput hijau itu seperti sebuah tempat tersembunyi yang tak banyak campur tangan manusia, yang saya temukan hanya beberapa hewan yang asyik merumput sambil sesekali menikmati segarnya air danau. Saya pun puas dengan duduk santai di tepi danau sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya harus pulang, berkendara beberapa jam lagi dan mujur saya sampai di Tuk-tuk tepat ketika hari beranjak gelap dan dingin.

Pemandangan Danau Toba dari bukit menuju D.Sidihoni,
sesaat sebelum kembali ke Tuk-tuk untuk kemudian menuju Brastagi dan Medan

Sunday, 28 December 2014

Ribetnya puncak Gn. Papandayan

Naik gunung ramean pertama kali :)
Tiga orang meringsuk naik kedalam bus malam itu, membangunkan saya yang duduk di kursi pertama. Masuk dari pintu depan, mereka naik persis di pinggir kawasan jalan tol. Rasanya mereka datang dari suatu celah jalan di rumah-rumah penduduk sepanjang tol Cikampek ini. Mungkin mau ke Garut juga. Rasa kaget, heran, campur lucu tapi kasian berkecamuk. Tempat duduk kan penuh?! Kesal juga sama supir kenapa menaikkan mereka. Tapi setelah melihat wajah tiga orang remaja ini saya pun kasian. Malam-malam dapat tumpangan bus ini mesti suatu pencerahan besar dalam perjalanan mereka (atau memang sudah biasa? Hadeeuh hehe). Melanjutkan tidur pun tak bisa, sibuk mengamati tiga orang baru ini yang jadinya duduk di depan saya, membelakangi kaca bus (Oke, hurrmm berasa sempit ya). Juga sibuk memperhatikan jalan karena si supir nekat ini tak pernah memberikan jarak lebih dari 1 meter dengan bus atau truk dihadapannya. Mepet banget bo!! Apesnya saya duduk depan Paak >.<

Tidur ketiga saya di masjid
Alhamdulillah selamat (fiuhh ngak lagi deh... duduk depan).

Terminal Guntur-Garut masih gelap. Bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Yup, bertolak dari Jakarta sepulang kerja dengan perjalanan yang tidak terlalu lama memang pasti dini hari lah saya akan sampai. Tapi ramai kawan-kawan (tak kenal) yang juga membawa carrier besar dan atribut ribet khas pendaki cukup membuat semangat mendaki saya muncul lagi setelah sebelumnya timbul tenggelam gara-gara ulah Manusia Tol dan Supir-tak-lebih-1-meter itu (langsung dapat julukan dong hehe). Mungkin mereka mau ke Cikuray, atau sama seperti saya, Papandayan.

Setelah tidur-tidur ayam di tepian masjid yang puenuh banget sama pendaki, kami solat berjamaah, nyemil-nyemil lalu cari angkutan ke Cisurupan. Banyak angkot yang akan mengantar sampai gerbang Cisurupan itu. Penuh memang seangkot, tapi saya senang karena saya berangkat dengan 4 orang teman kantor ditambah 5 orang temannya-teman, jadi biaya lebih murah (hehe). Dan ternyata memang begitulah seharusnya ketika ingin menuju Gn. Papandayan karena ketika sampai di Cisurupan, siapapun harus berganti dengan mobil bak terbuka yang mematok harga sampai ratus ribu, akan terasa lebih mahal jika pergi beberapa orang saja. Kala itu pun saya tetap ingin mengajak tim kenalan lain supaya lebih murah.

Ada masjid kok kalo mau istirahat
Mobil pick up ini cukup besar saya rasa bahkan untuk belasan orang. Setelah siapkan semuanya, kami naikkan barang-barang lalu manjat terus duduk di belakang mobil beratap langit. Nyaman? Iya kalau kita duduk depan sebelah supir. Di belakang? Siap-siap jejumpalitan karena jalanan yang berbatu, tak mulus, berlubang, berliku dan nanjak (hehe). Perjalanan tak kurang dari setengah jam ini diisi dengan banyak tawa ketika melihat badan siapa menimpa siapa, lalu sibuk memperbaiki posisi duduk atau mendengar teriakan sang pemantau “siap lubang...lubang” dan sejurus kemudian semua roboh (hehe lucu lah). Hasilnya, dijamin otot tangan dan kaki siapapun jadi lebih kuat berkat latihan ‘bertahan’ di mobil dan bisa jadi modal bagus naik gunung (haha ya kali).

Titik awal pendakian ini merupakan daerah parkir yang cukup luas, ada banyak colt parkir disana yang akan memudahkan kami ketika pulang nanti. Ada banyak warung juga disana untuk memuaskan rasa lapar tapi jangan lupa bayar retribusi masuk kawasan dulu. Sekitar 7.30 pagi kami mulai pendakian. Jalurnya cukup lebar dan berbatu. Tak berapa lama mendaki kita akan menemukan kawah Gn. Papandayan terlebih dahulu, dimana biasanya kita akan menjumpai kawah seiring dengan kita menjumpai puncak gunung. Seru ya, terasa berbeda.

Dengan kontur jalan yang kebanyakan diselingi batu kapur kami menikmati kawah sambil melanjutkan perjalanan. Sesekali (sering sih) istirahat dan nyemil (hahay). Saya dengar kala itu ada jalan lurus langsung dari kawah menuju Hutan Mati tapi memang curam (ngak mau lah), jadi kami mengikuti jalur yang ada yang ternyata masih lebar karena katanya bahkan hard top pun masuk sini (wuaah harusnya nebeng hehe). Pendakian kali ini memang lebih santai karena jalurnya yang tidak begitu jauh. Katanya gunung ini memang cocok untuk pemula (nah, pas tu buat saya).
Dari sini semua dimulai dengan berjalan kaki
Kawahnya ada di sebelah kiri (gak keliatan ya hehe)
Ditengah jalan, jalur ini putus karena longsor jadi kami memutar turun bukit lewati sungai lalu naik lagi dan bertemu dengan lanjutan jalur sebelumnya. Capek? Iya banget, jalur berbatu, turun naik, licin juga di sungai. Panas pula. Padahal pernah beberapa kali naik gunung juga. Tapi peluh tetap deras (huhu). Setelah hari cukup siang kami sampai di sebuah padang yang cukup luas setelah bukit kapur dan memutuskan beristiarat. Yang sangat mengejutkan, terutama bagi teman saya Bowo yang masih capek tak karuan mengatur nafas, ada pedagang bakso goreng lengkap dengan gerobak panggul dan tengah mendengarkan dangdut (haha) tanpa rasa capek dan biasa saja seakan ingin berkata “segitu aja kok capek... nih bawa ni bakso” kami hanya tertawa geli tanpa lupa membeli bakso camilan itu dan bercanda dengan pedagangnya. Mungkin sebenarnya menertawakan diri sendiri juga (hehe).

Sang tukang bakso perkasa
Kami putuskan pasang tenda di sana dan menghabiskan waktu dengan tiduran, ngobrol, jalan-jalan, santai lah pokoknya. Tidak pernah rasanya saya mengalami naik gunung sesantai ini. Badan saya pun memang rasanya ingin istirahat. Enaknya banyak kawan pendaki, makanan pun bisa lebih banyak jadi kami tak pernah lupa makan dan makan (hehe) diselingi ngobrol sana-sini. Kabarnya ada beberapa pendaki yang hilang dan belum ketemu sampai hari dimana saya berkemah kala itu. Hiii tak mau lah membayangkan saya ada di posisi mereka yang hilang, kabarnya kemungkinan besar pun mereka sudah tiada (innalillahi) tapi tim SAR masih dikerahkan untuk setidaknya menemukan jasad mereka (semoga dimudahkan).

Cari sinyaal!! hahay tetep ya anak kota
Malam ketika sebagian kami asyik makan (lagi) dan masak minuman hangat, kami jumpa dengan tim SAR yang kami bicarakan tadi siang. Ternyata mereka mampir ke tenda kami untuk sekedar istirahat (panjang umur.. baru diomongin). Sontak hampir semua bangun dan berbincang dengan mas-mas hebat ini. Saya hanya diam mengamati dan sesekali menawarkan makan dan minum yang pasti mereka butuhkan. Ternyata di jalur Papandayan ini ada juga yang bisa mengarah ke daerah lain seperti Bandung, Tasik, Sumedang.. hurrm semacam itulah. Dan itupula mungkin yang membuat mereka hilang. Tersesat adalah satu kata yang menakutkan di gunung. Langsung saya menatap kawan-kawan hebat sependakian saya dan tersenyum lega karena mereka semua anak pecinta alam cuuy!! (hahaha aman).

Esok paginya, mencoba melupakan ‘tersesat’, beberapa dari kami ingin mencapai puncak Papandayan. Rugi dong tak jumpa puncak gunung sudah jauh-jauh kesini. Apalagi papandayan tak lebih dari 2.665 m dpl (sok ni berasa udah pernah yang agak tinggian dikit haha). Sebagian lain memilih tiduran atau santai di tenda. Sedari pagi kami berkemas, siapkan sedikit barang bawaan dan minuman secukupnya. Kami harus kembali lagi sebelum sore karena kami harus pulang ke Jakarta. Kaki mulai menapaki jalur yang lebih sempit dari bukit-bukit kapur kemarin.

Pondok seladah adalah area pertama yang kami jumpai dan Wuooww ramai sekali disini, tak pernah saya menemukan ketika naik gunung begitu banyak tenda, orang ngobrol, lalu lalang sana sini bak perkampungan. Dataran luas ini memang tempat favorit pendaki untuk berkemah. Itulah kenapa kemarin kami tidak memutuskan menginap di Pondok Seladah. Terlalu ramai. Di tempat kami sekarang ini, hanya kami saja (hehe). 

Sesaat setelah nyemil2 hehe
Kami lanjutkan menuju Hutan Mati, lalu Tanjakan Mamang yang curam dan Tegal Alang berupa padang edelweiss yang cantik. Dari sana, kami tidak tahu kemana. Yup, tidak tahu?! karena ternyata banyak yang belum sampai ke puncak (wuaah huhuhu) bahkan tidak ada yang pernah.

Kami hanya mencari jalur lanjutannya, tim dibagi, orang-orang berpencar mencari jalan setapak selanjutnya kemana. “Susah juga” saya membatin. Mungkin itulah kenapa sebagian memilih tidur saja, mereka sudah tahu pasti sulit kah? Saya harus coba lah. Lalu akhirnya kami temukan jalur itu, turun membelah sungai lalu kemudian naik bukit lagi. Kami memang hanya bermodalkan GPS. Kami pun menyusuri jalur itu dan sedikit lega. Sejurus kemudian kami tiba di daerah yang sempit dengan vegetasi cukup rapat seperti tidak ada jalur. Kami sempat ragu, berdebat, dan diputuskan bila dalam sepuluh menit kedepan tak kunjung jumpa maka kami pulang kembali.

Kami coba cari semua jalan, bahkan berteriak-teriak karena kami merasa ada juga yang berteriak. Somehow itulah cara kita berkomunikasi saat mendaki (unik ya hehe). Sahutan kami seperti dibalas oleh seseorang. Yup, sedikit harapan muncul. Akirnya kami terus teriak dan mengamati arah balasannya. Baik sekali orang itu mau terus membalas sahutan kami. Dan berkat teriakan ini kami sampai di puncak Papandayan. Ternyata disana sudah ada sekelompok mas dan mba yang sedang santai tanpa ada muka capek dan bingung seperti kami malah sempat membalas teriakan kami. Alhamdulillah. Kami berterimakasih juga sama mereka karena membantu. Saya tidak mau kata tersesat itu menempel di kami.


Salah satu pemandangan cantik di Gn.papandayan. Indah kan!
Puncak Gn. Papandayan tidak begitu luas. Kami sampai bertanya kepada tim yang lebih dulu itu “udah sampai puncak ?”. Okey, puas menikmati dan foto-foto (hehe) kami lanjutkan istirahat dan makan (tetep). Lalu beberapa menit setelah tim sebelumnya turun kami pun turun kembali menapaki rute menuju tenda. Ternyata setiap gunung memang punya tantangannya masing-masing. Alam tetap tidak mengenal siapa kita, seberapa sering atau jarangnya kita mendaki. Harus waspada. Maka tak sangka, walau tidak terlalu tinggi tapi sulit mencapai puncak Papandayan ini. Akhirnya saya senang dan bersyukur kembali selamat ke Jakarta, cuma tas Ahmad saja yang kurang beruntung, terjatuh ditengah jalan ketika diikat diatas angkot yang melaju menuju Terminal Garut (hehe). Yang kuat dong mang ngiketnya!!

Sunday, 7 December 2014

Bali : Unforgettable Ubud

Alam dataran tinggi kawasan Bedugul jadi teman perjalanan saya meninggalkan Pura Ulun Danu di danau Beratan yang aduhai indahnya. Bukit-bukit berselimut awan diatas danau birunya itu benar-benar memanjakan
mata. Ditambah udaranya yang sejuk, saya pun cepat lapar dan dengan lahap menghabiskan ayam betutu (dan kawan-kawannya) yang saya pesan disana. Terbayar sudah capeknya satu jam berkendara motor dari Kuta.

Di sepanjang perjalanan pulang ini saya termenung sendiri. Bali, begitu berbeda dengan (tentunya) Pulau Jawa, tempat saya dibesarkan. Budaya yang mengakar kuat di masayarakat dan semua penampakan bangunan khasnya benar-benar sukses membuat saya merasa asing. Sebut saja pura, dupa, sesajian bunga-bunga berwarna didepan setiap rumah bahkan dipinggir jalan sampai banyaknya resto Babi Guling (hehe) adalah pemandangan yang jarang saya lihat di Jawa. Sekaligus kagum dan senang, karena Bali dengan semua pemandangan menakjubkan, budaya dan masyarakat Hindunya entah bagaimana begitu tampak eksotis, cantik, ah bagaimana ya bilangnya, coba sajalah googling, pasti mengerti apa yang saya maksud (hehe).

Di salah satu sudut Ubud
Ubud adalah tujuan saya. Selain alam yang cantik, saya selalu ingin ke Bali untuk melihat langsung kebudayaan tinggi, sejarah bahkan mitos yang tersemat disetiap bangunan bersejarahnya yang menjadikan Bali dan masyarakatnya tampak sulit untuk dilupakan. Dan Ubud, menurut saya adalah tempat yang paling tepat untuk menemukan itu semua, sehingga saya selalu ingin bisa bermalam disana yang akhirnya tercapai, Yeay!

“Ada yang salah dengan ban motornya!” batin saya.
Lamunan saya buyar berganti perasaan kaget. Ban motor kami bocor. Tengok sana-sini dan ternyata Tuhan masih sayang dengan kami. Hanya bermodal dorong motor beberapa langkah kami sudah tiba di bengkel yang setelah menunggu beberapa lama, abang montir bilang “Wah tambalan yang sebelumnya bocor mas, bisa aja ditambal lagi tapi mungkin bisa bocor lagi” yang segera saya tahu maksudnya adalah “beli ban dalam baru aja mas” lalu cepat berpikir bahwa ini motor sewaan tapi sejurus kemudian sepakat karena hari sudah sangat sore dan mau cepat sampai. Waduh enak niy Ichi Bike Rent (hehe peace ah mas Ferry).

Banyak penginapan murah
dan nyaman di Ubud :)
Omah D’taman Guest House yang ada di Jl.Sriwedari adalah pilihan kami untuk menginap. Karena insiden ban bocor, kami tiba di Ubud saat hari sudah beranjak malam. Dan ternyata sulit sekali untuk mencapai Sriwedari, bukan karena daerahnya terpencil tapi pertama, kami tersesat ke hotel dengan nama yang mirip, lalu kedua harus putar balik cari alternatif karena jalan utama ditutup untuk keperluan acara keagamaan. Kalau yang ini spontan saya girang. Bagaimana tidak, baru sampai Ubud saya sudah disuguhi pemandangan arak-arakan warga dalam balutan safari/kebaya putih berhias udeng (ikat kepala pria) atau senteng (selendang wanita) dan dilengkapi dengan kamen atau kain besar yang menutupi tubuh bagian bawah. Sesajian untuk upacara, bunga kamboja/jepun putih kuning yang tersemat tak ayal membuat saya terkagum sendiri. Musik/gamelan khas bali yang ditabuh cepat dan lantang pun dimainkan dari atas truk oleh warga. Aih, luhurnya budaya ini. Bali banget.

Tenangnya teras Omah D'Taman, sebelum sarapan diantar :)
Mereka menuju pura dekat jembatan di Jl Raya Ubud yang tadi ketika tersesat sempat saya lihat. Saya pun coba melihat perayaan tersebut, walau dari jauh. Pura Gunung Lebah namanya, dan malam itu memang dipenuhi banyak sekali warga yang merayakan Hari Raya Tumpek Landep. Banyak sekali bambu kuning melengkung berhias janur (Penjor) mengelilingi Pura. Alunan doa dan musik terdengar dari Pura. Ramai dan sakral upacara malam itu. Jalanan sekitarnya karuan macet. Tapi saya rela demi melirik perayaan ini. Pura Gunung Lebah yang dibangun abad 8 masehi ini memang punya sejarah penting karena merupakan cikal bakal lahirnya desa Ubud.
  
Selepas melirik perayaan Tumpek Landep kami mulai kelaparan dan jalan kaki cari makan. Jalan kaki malam hari jadi pilihan pas dan bijak untuk menikmati Ubud. Tak ada jalanan lebar ala ibukota. Yang ada hanya jalanan beraspal kecil dengan deretan resto dan butik taraf internasional menyatu dengan pura-pura cantik bak istana kerajaan Hindu dulu. Semua denyut kehidupan malamnya begitu terasa pelan, tenang, nyaman, berbeda sekali dengan Kuta apalagi ditambah pemandangan khas warga yang berbalut busana adat hilir mudik sibuk dengan perayaan keagamaannya. Ternyata susah juga cari makanan halal untuk kami (hehe) sampai akhirnya saya temukan restoran bertuliskan borneo yang menyematkan logo ‘halal’ dengan aneka masakan seafood yang cukup lezat nampaknya. Bicara harga? Rasanya ingin teriak “jangan samakan saya dengan bule-bule itu”. >_<

Salah satu upacara di Pura Tirtha Empul
Daya tarik ubud sebagai pusat budaya Bali memang seperti magnet kuat yang menarik banyak wisatawan dari seluruh dunia. Banyak sejarah yang bisa kita pelajari, lukisan yang bisa kita nikmati, pertunjukan tari yang bisa kita saksikan, atau sekedar bersepeda dan leyeh-leyeh di kamar hotel/guesthouse murah dan nyaman yang bertebaran di Ubud. Semua sangat menyenangkan, seakan waktu tak pernah jadi masalah dan buru-buru tidak pernah jadi kata favorit. Tempat wisatanya pun juara. Sekali ini saya ke Ubud, saya selalu rindu dan selalu ingin datang lagi.

Lets hear another stories from my pics...
Jalan-jalan di Pasar Ubud tidak ada salahnya, banyak lukisan cantik
pintar-pintarlah menawar :)
Mandala Wisata Wenara Wana (Monkey forest), gak masuk, takut! :p
trauma sama binatang satu itu (haha) sepertinya adem banget didalam, dan ada pura juga.
Ubud Palace, lokasi ini dekat sekali di pusat Jl. Raya Ubud
berdekatan dengan Museum Puri Lukisan yang mahal tapi bagus itu (hehe)
Goa Gajah, yang masih dalam daftar tunggu UNESCO untuk warisan budaya.
Disana juga terdapat kolam pemandian yang diisi banyak arca, mampir ya!
Pura Tirtha Empul, bukan Tampak Siring. TS itu istana presiden :)
tapi kenapa kalo cari tampak siring selalu kesini merujuknya (haha) kami tersesat karena itu.
Inilah icon Ubud yang selalu saya cari dan ingin melihat langsung. Beautiful!
Terasering di Desa Tegalalang dengan sistem pengairan Subak yang merupakan Warisan Budaya UNESCO

Selanjutnya saya ingin menjelajahi daerah selatan Bali, Uluwatu.

Sunday, 2 November 2014

'Tersesat' di KL ?!?! (extended) : Batu Caves

Terbentuk selama 400 juta tahun,
Batu Caves juga jadi arena panjat tebing di Malaysia
Masih ingat ketika saya ‘Tersesat di KL’?!?!
Ketika akhirnya saya menemukan Menara Petronas, KL Tower, sampai kawasan Bukit Bintang? Nah, ini dia versi extended-nya (hehe) yaitu ketika saya sedikit melipir ke utara Kuala Lumpur dan ternyata menemukan Batu Caves.

Dari KL sentral kami naik KTM (Keretapi Tanah Melayu) yang sedikit lebih lelet dari LRT-nya, turunnya juga di stasiun Batu Caves dan dari sana sudah tinggal jalan kaki saja. Masuk ke kawasan ini gratis! ya kali itu warga Hindu kudu bayar kalo mau ibadah (hehe), tapi ternyata ketika memasuki Gua Ramayana yang ada di sisi kiri harus bayar RM 1,00 per orangnya. Tanpa bangunan loket, penjaga tiketnya adalah bapak-bapak perawakan india yang duduk dibelakang meja kayu usang bertaplak plus tumpukan uang dan tiket diatasnya (jadi sebetulnya bayar gak ni). Dari sekian banyak gua yang ada di Batu Caves, Gua Ramayanalah yang pertama kami sambangi. 
Salah satu museum gua yang bagus, unik dan nyeni banget lah.
Narsis euy ^o^
Setelah melihat kedalam, tak heran kenapa pengunjung dimintai bayaran. Gua Ramayana ini jadi semacam museum yang menceritakan perjalan religius Rama melalui diorama yang menurut saya bagus sekali. Patung-patung itu dibuat dengan sangat apik dan detil, bisa ya?! Yang perempuan ya kelihatan cantik yang lelaki juga cakep lengkap dengan detil pakaian khas berwarna-warna cerah plus efek terkibas-kibas gitu (keren lah). Tak banyak yang saya mengerti mengenai cerita di sepanjang dinding gua ini, tapi rasanya masih berkutat tentang Rama dan pengasingannya, panah hebatnya (atau itu Arjuna ya? hehe), istrinya yaitu Sinta sampai musuhnya yang namanya Rawana. Masuk semakin dalam ada anak tangga ke atas yang bikin ngeri plus ngos-ngosan tapi cantik juga untuk foto (hehe). Ada apa di atas? Temen saya bilang itu jantungnya gua (hiii).

Patung Dewa Murugan tertinggi di Dunia (42,7 m),
butuh 300 liter cat emas untuk melapisinya :)
Saya lanjutkan tur guanya ke sisi kanan, ke gua terbesar di Batu Caves ini, namanya Gua Cathedral atau Gua Kuil karena memang didalamnya ada kuil Hindu dibawah langit-langit berkubah batu. Panas menyengat kala itu memang cukup cepat membuat peluh berjatuhan. Eh tapi orang-orang cuek saja tuh seliweran tanpa alas kaki, panas gak tuh? Gak takut kotor? rupanya warga Hindu disana sangat menjaga kesucian kawasan Batu Caves yang merupakan tempat ibadah mereka, tidak cuma didalam kuil tapi jalan-jalan dimanapun selama dikawasan ya telanjang kaki. Lalu kami yang turis? Pasang muka “maaf-maaf kalau ngotorin”  asik saja jalan beralas kaki (yang mungkin alas kakinya pun kotor tuh? Huhu maaf).

Itulah budaya, mengakar kuat tak ‘tergubris’ logika di setiap penganutnya. Sama halnya ketika saya lihat melalui poster di sekitar gua saat festival Thaipusam digelar, salah satu atraksi ekstremnya yaitu menusukan jarum ke lidah atau tusukan ke punggung (adooohh). Dikatakan sebagai tanda kepasrahan kepada Tuhan (mujur saya datang bukan saat festival, mesti ngeri).

Untuk menuju Gua Kuil, kita harus naik menapaki 272 buah anak tangga yang diberi nomer satu persatu (hehe hebat lah jadinya gak pakai acara ‘setiap orang beda hitungan’ ala mitos2 gitu). Lalu sesampainya diatas kita akan menemukan tanah datar yang luas bak aula dengan dikelilingi dinding-dinding tinggi membentuk kubah gua yang menjulang indah. Di salah satu sudutnya nampaklah kuil-kuil dengan deretan warga yang siap sembahyang.
 
Di ujung gua berkubah setinggi 100 m itulah terdapat Kuil Batu Malai Sri Subramaniar

Gimme back my MB!! :(
Jadi kalau sedang melancong ke KL, tidak ada salahnya memasukkan Batu Caves ke dalam daftar tempat wisata kita, pemandangan bukit kapur, wisata goa-goa, budaya, atau sekedar berfoto di depan bangunan berarsitektur indah bisa kita nikmati disini. Dua hal yang cukup mengganggu selama saya di Batu Caves, pertama aroma gua yang ternyata tidak cocok dengan hidung saya (belerang kah? Tapi rasanya bukan) lalu kedua, si monyet nakal (saya sampai jadi tontonan dan teriakan orang-orang di tangga gara-gara monyet dengan liarnya mau merebut Marry Brown saya tapi saya halau haha tapi karena dia makin beringas saya kasih deh). Trauma sekarang sama monyet  >.<




Dark Cave! situs edukasi tentang formasi gua sampai binatang gua (RM 35)
Oia, saya juga sempat mampir ke Aquaria KLCC yang canggih dan besar
Feeding time... Shark!! (karena lama, saya ngacir aja! hehe)
Oia, kala itu juga ada pameran edukasinya petronas di KLCC
Jadi, masih merasa akan tersesat di KL? I'm sure not :)
Salam jalan-jalan

Monday, 15 September 2014

Jelajah Pulau : Trem Penang Hill vs Cable Car Langkawi


Pulau cantik, Penang dan Langkawi
Pesona pulau-pulau kecil itu memang selalu menggiurkan. Siapa yang tahan untuk tidak menikmati pantai-pantai cantik yang mengelilingi pulau, lalu suasana tenang jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari dataran utama sampai menemukan surga bagi siapa saja pencinta seafood. Terakhir saya berwisata di sebuah pulau itu pada bulan Mei 2012 ke Bangka (huhu udah lama yaa). Jadi rindu rasanya..

Alasan tadilah yang akhirnya membawa saya untuk berwisata ke Pulau Langkawi di utara semenanjung Malaysia. Pulau dengan pantai-pantai cantik dan gugusan pulau kecil disekitarnya ini sudah sangat terkenal di dunia. Lalu juga berwisata ke Pulau Penang, salah satu negara bagian di Malaysia yang lokasinya lebih dekat dari Kuala Lumpur. Nilai plus Penang ada di ibukotanya yaitu George Town yang merupakan salah satu dari UNESCO World Heritage City atau kota yang menjadi situs warisan dunia jadi pasti punya banyak bangunan penting bersejarah dan peninggalan budaya yang kaya. Wuaah, dua tempat yang sangat ingin saya kunjungi. Selain dekat, rasanya tidak menguras bujet. Kedua pulau ini pun terasa semakin dekat karena terhubung dengan pesawat yang ongkosnya murah sekali.

Trem di Penang Hill (wikipedia)
Penginapan dan transportasi mudah ditemukan dikedua pulau, dari guesthouse murah atau cottage sampai resort pun ada, terlebih Pulau Penang yang ternyata sudah dilengkapi dengan transportasi yang sangat baik. Rapid Penang (bus semacam Rapid KL) akan selalu siap mengantar kita mengililingi pulau. Bertolak dari pusat Komtar, Rapid Penang jadi pilihan baik ketika ingin menikmati pantai-pantai yang terkenal cantik disini tapi dengan jarak yang agak jauh seperti di Batu Feringghi ataupun Tanjung Bungah. Urusan ‘dalam kota’ Pulau Penang, seperti di George Town, Penang Hill, sekitar Komtar atau Gurney Drive yang terkenal dengan mal serta tempat makan malam hari, kami putuskan untuk sewa sepeda motor. 

Bagi saya, sepeda motor selalu menjadi pilihan bijak. Bujet murah, simpel dan relatif lebih cepat selalu jadi alasan utamanya. Bahkan di Langkawi saya naik motor sampai jarak terjauh sekalipun, seperti dari pusat kota Kuah menuju ke gondola atau cable car yang berada di ujung barat (dekat Telaga Harbour) dan harus melewati airport pula (hehe). Memang, transportasi di Langkawi tidak selengkap di Penang.
 
Suasana malam menunggu bus di kawasan Komtar
Urusan wisatanya pun jangan diragukan, kedua pulau ini sama-sama punya wisata bukit yang jadi andalannya, dan bukan tentang ada apa diatas bukit, tapi yang seru adalah bagaimana cara kita kesana. Di Penang, adalah Bukit Bendera atau Penang Hill yang berada diketinggian 735m dpl. Cara kita kesana adalah naik trem/kereta listrik yang rasanya cukup bikin deg-degan saking cepatnya mendaki, walaupun sensasinya tetap sukses membuat penumpangnya tersenyum-senyum. Pemandangan menuju bukit pun indah apalagi kala itu saya datang menjelang petang. Sampai di puncak bukit ada banyak tempat makan, juga kuil atau spot-spot cantik untuk saya abadikan lewat kamera. Pemandangan Pulau Penang dari ketinggian pun tidak boleh saya lewatkan.
Gerbang masuk Penang Hill atau Bukit Bendera
Walau trem nya miring, kita tetap berdiri tegak kok hehe
Pemandangan dari atas bukit, ternyata bisa juga loh trekking jalan kaki hehe
Ada banyak tempat makan, favorit saya ABC (ais batu campur) banyak buah!
 Di Pulau Langkawi wisata bukitnya terasa lebih menantang. Gondola dengan nama Langkawi Sky Cab yang saya singgung sebelumnya adalah daya tarik utama bagaimana kita menuju bukit. Saya jadi teringat ketika saya naik gondola di Genting Highland, rasa takut dan senang jadi satu tapi cuaca yang bersahabat kala itu memberikan ketenangan tersendiri.

Nah, jadi bagaimana di Langkawi?

Pintu gerbang Langkawi Sky Cab
Hujan di gondola? jangan dulu lah














Sore itu ketika memasuki Oriental Village (area awal sebelum memasuki terminal gondola) sudah terlihat awan mendung menggantung di puncak-puncak bukit. Gunung Machincang adalah tujuan akhir gondola ini yang berada diketinggian 708 m dpl. Dan harus melewati satu terminal tengah sebelum menuju terminal puncak. Suara petugas dari pengeras suara kerap terdengar menyerukan gondola yang tertunda keberangkatannya karena cuaca buruk. Saya lihat ke atas pun, kabut putih tebal itu memang terasa dekat, enggan beranjak menutup puncak-puncak yang katanya indah. Akhirnya kami putuskan untuk menunda sambil jalan-jalan dulu di sekitar Oriental Village yang banyak diisi penjual souvenir serta makanan seraya berharap cuaca membaik. Tapi ternyata hujan lebat yang turun sehingga kami terpaksa menunda esok hari.

Keesokan harinya saya pun datang kembali.. (bersambung)